Monday, June 1, 2009

Mengenal Tekhnologi EVDO CDMA



Pasca gaung 3G yang mulai dinikmati oleh masyarakat Indonesia – meski hanya sebagian kota besar saja,- muncul teknologi baru bernama HSDPA, teknologi ini mengusung kecepatan akses data hingga 3,2Mbps. Dominasi teknologi asal Amerika ini bukan tanpa halangan, sebab CDMA juga sudah menyiapkan amunisinya berupa EV-DO dan ED-DV.





CDMA 2000 1x masih merupakan teknologi alternatif dari GSM dan GPRS yang dikenal dengan teknologi 2G/2.5G. Di era 3G, teknologi CDMA 2000-1x akan berevolusi menjadi CDMA EV-DO dan CDMA EV-DV. Pada tahap awal di Indonesia pernah dikenalkan teknologi CDMA one dengan nama C-Phone artinya cordless phone atau ‘fix wireless’ yang beroperasi di Jawa Timur. (inilah cikal bakal teknologi CDMA di Indonesia).

Seiring perkembangan tren telekomunikasi, operator CDMA harus ber-investasi lagi untuk menggelar layanan CDMA EV-DO. Layanan ini benar-benar terpisah dari CDMA 1X karena membutuhkan lebar pita yang memadai. 1 kanal saja tidak akan cukup untuk menggelar EV-DO, paling tidak dibutuhkan 3 kanal, seperti yang digelar oleh FREN saat ini .

Sesuai dengan namanya CDMA EVDO diperuntukan bagi layanan seluler data saja (data only). Jika ini EVDO ini ada, barulah bisa disebut sebagai teknologi 3G/CDMA. Evolusi selanjutnya adalah CDMA EV-DV yang memungkinkan layanan data dan suara (Data & Voice) dalam satu platform.

Saat ini, sudah ada dua operator CDMA yang menggelar layanan EV-DO yakni Indosat dengan merek dagang Starone dan Mobile-8 dengan merk dagang FREN. Bakrie Telecom sudah menyatakan mundur dari EV-DO karena masalah regulasi, sementara Telkom memutuskan untuk menggunakan sisa kanalnya untuk Voice, dan itu artinya Flexi masih setia dengan CDMA 2000-1x RTT. Sementara itu, teknologi CDMA Evolusi data Only memiliki kecepatan akses broadband tinggi dan video streaming secara real time. Berbeda dengan layanan GSM, teknologi EVDO tidak dapat menggabungkan antara layanan voice dengan data dalam satu carrier dalam sebuah frekuensi.

Hal ini ditandaskan oleh Setyo Budianto Manager Operation and Maintenance Divisi FWN area Surabaya PT Telkom, Bandwidth akan selalu menjadi masalah dalam sistem wireless, karena spectrum elektromagnetik melalui udara merupakan resource yang terbatas.

Bagaimanpun juga ujar Setyo, semua ini merupakan masalah besar yang harus dihadapi oleh sistem mobile dibandingkan system fixed. Untuk masa yang akan datang FWA akan berkompetisi lebih keras dengan sistem wireline : xDSL, Kabel koaksial dan kabel optik. Kebutuhan untuk bersaing mendorong sistem FWA menuju bandwidth dan band frekuensi yang lebih tinggi, dimana pengirim dan penerima harus line of sight dan hampir tidak mungkin untuk mobility.

Setyo lantas menyimpulkan, FWA diperlukan untuk menyediakan level pelayanan yang lebih bagus dibandingakan sistem MWA, karenanya sistem MWA didesign dan digelar untuk pelayanan mobile tidak mungkin sebaik pelayanan fixed. Menyediakan mobility bagi FWA bukanlah masalah sepele. Sistem MWA harus support mobility kemudian features dan pelayanan seperti kemampuan hand off dan roaming harus disediakan.
Uji Coba

Mendapatkan sinyal dan jaringan EV-DO ternyata tidak mudah sebab selain tidak semua BTS sudah diupgrade untuk EV-DO, para operator CDMA di Indonesia masih berfikir dua kali lipat saat memutuskan untuk melakukan upgrade pada MSC. Maklum, investasinya cukup besar, sementara kultur masyarakat Indonesia masih belum paham dengan teknologi yang satu ini” begitu ungkap salah satu petinggi operator kepada news ponsel.

*.Mode 3G

Karena tidak semua BTS support dengan EV-DO, maka penulis harus mencari sinyal EV-DO ke berbagai downtown di Jakarta. Perangkat PCMCIA yang penulis gunakan, memang seperti ponsel 3G yang umumnya memiliki mode pencarian otomatis dan dual mode. Yup… saat menggunakan ponsel 3G, kita bisa melakukan pencarian jaringan 3G secara otomatis. Sementara perangkat Growell C803 juga memiliki mode serupa dengan nama hybrid. Mode ini memungkinkan kita untuk melakukan perpindahan otomatis dari CDMA 2000-1X ke EV-DO.

Tanggal 23 Mei 2007, Kami menuju ke Rasuna Said, kawasan yang dikenal memiliki traffic padat pada siang hari. Pukul 11.30, berbekal perangkat growell, notebook dan Kartu pasca FREN, kecepatan EV-DO kami uji. Pada siang hari, sinyal Fren kurang begitu bagus dikawasan ini. sehingga saat mengaktifkan mode hybrid, Growell hanya mendeteksi jaringan CDMA 2000-1x. Penilaian penulis, Growell akan cenderung mendeteksi sinyal terkuat. Artinya, bila yang dominan adalah sinyal 1X maka jangan harap icon 3G EV-DO akan muncul. Hal ini berbeda dengan ponsel 3G, fitur dual mode akan memberi prioritas penuh kepada sinyal 3G, jadi selama anda berada dalam jangkauan node B (3G) maka akan secara otomatis bekerja di jaringan WCDMA/UMTS. Meski hanya satu/dua bar, ponsel 3G masih bisa melakukan panggilan video call.

Hal ini tidak bisa terjadi pada CDMA yang mengadopsi teknis soft hand off yakni metode make before break. Artinya, bila sinyal disuatu daerah tersebut tidak mencukupi untuk membuat(make) koneksi, maka akan diputus(break). Kondisi ini sering disalah artikan dengan dropcall. Karena gagal melakukan koneksi di Klub Rasuna, Pukul 12.15, kami beralih ke kawasan Setiabudi 21. Sinyal EV-DO fren cukup bagus. Padahal komplek plaza ini penuh sesak.

Koneksi pertama berhasil dengan baik, berdasarkan pengalaman pertama di Rasuna, penulis memutuskan untuk menggunakan mode EV-DO. Saat connecting, Fren langsung terhubung, hasilnya kecepatan download bisa dilihat pada grafik dibawah, meski terlihat naik turun, namun itulah CDMA. Pengalaman membuka situs Sony Ericsson.com yang terkenal paling lambat, bisa dilakukan dengan baik.

Di Surabaya, news ponsel mencoba melakukan uji coba EV-DO menggunakan postpaid Starone. Lokasinya di kawasan kayun. Sekedar informasi, Indosat sudah menggelar EV-DO di Balikpapan dan Surabaya. Di beberapa downtown Surabaya, jaringan EV-DO memang sudah tersedia, namun belum sepenuhnya sempurna, untuk mencari sinyal 3G-nya CDMA ini, news ponsel harus mengubah setting ke EV_DO only. Artinya mode hybrid pada PCMCIA Growell tidak akan bisa digunakan dengan baik. Itupun sinyalnya hanya satu bar sehingga saat mengganggu jalannya surfing. Karena kurang sempurna, kami mengubah setting menjadi 1x, sejurus kemudian bar sinyal pada Growell penuh dan siap browsing. Masih menggunakan Growell dan StarOne, kami balik ke markas News Ponsel di kawasan Gunungsari-Wiyung, Sinyal 1x masih penuh. Dan saat melakukan download menggunakan software DAP, untuk file berukuran 1,3MB dalam dua menit 10 detik CDMA 1x. berikut ini kecepatan akses CDMA 1X RTT menggunakan Starone.

artike ini disadur dari Newsponsel

1 comments:

image

Brand Development

Saya adalah blogger, penulis, citizen journalist sekaligus praktisi marketing. Konsultan pengembangan merek, penyusunan sistem franchise. Trainer marketing, sales dan online advertising

image

Web Development

Anda butuh website atau blog pribadi? Untuk pengembangan usaha, LSM, organisasi, sekolah, toko online atau perusahaan Anda? Silahkan hubungi saya 0812-2222-0750 atau kirim email ke mr.antowiyono@gmail.com