Saturday, January 4, 2014

Jalan Panjang Sang Pemenang

Siang itu sebelum lonceng tanda berakhir jam pelajaran hari itu berbunyi, Bu Entin wali kelas IV SDN Sukamiskin Bandung menyampaikan pemberitahuan kepada murid-murid. "Anak-anak, baru saja kepala sekolah menyampaikan pemberitahuan, akan diadakan lomba tentang budaya Sunda. Ada beberapa perlombaan, antara lain; Menyanyi Lagu Sunda, Peragaan Busana Adat Sunda, Menari Jaipong dan Pidato Bahasa Sunda dalam rangka peringatan Hari Kartini," kata Bu Entin disambut berbagai komentar riuh rendah yang tak pelak membuat suasana kelas IV menjadi gaduh. "Ini lomba tingkat Kota Bandung dan akan diikuti oleh banyak peserta. Ibu berharap ada wakil pada setiap lomba dari SD kita."

Suasana kelas semakin gaduh. Spontan mereka menyebut beberapa nama untuk ikut maju lomba karena nama-nama yang mereka sebut itu sudah terbiasa mengikuti lomba dan memiliki talenta yang bagus baik pidato, menyanyi maupun peragaan busana. "Siapa yang kira-kira bisa ikut?" tanya Bu Guru. Serta merta anak-anak menyebut beberapa nama, "Dery Bu.... Alvi Bu.... Kayla Bu.... ," itulah nama-nama yang mereka sebutkan hampir bersamaan.

"Jadi Dery, Alvi sama Kayla ya...? " tanya Bu Entin. "Baiklah kalau begitu, terus kalian mau ikut lomba apa?" Serempak Dery, Alvi dan Kayla menjawab, "menyanyi Buu..."

"Baiklah, lomba akan diselenggarakan hari Minggu besok di kampus STIA mulai pukul 9 pagi. Lagu yang dinyanyikan adalah satu lagu wajib berjudul Bubuy Bulan dan satu lagu pilihan, yang kalian bisa pilih sendiri sesukanya, asal lagu Sunda yang baik. Sekarang kalian bisa mulai belajar bernyanyi lagu-lagu itu," kata Bu Entin panjang lebar diikuti bel tanda berakhir jam pelajaran dan waktunya pulang.

Anak-anak berlarian keluar kelas. Suasanya gaduh seperti hari-hari biasa. Dery keluar lebih dulu dan berlari ke seorang penjual jajanan di samping pintu gerbang SD itu. Penjual jajanan itu adalah ibunya Dery. Seperti biasa, setiap jam pulang sekolah anak-anak membelikan sisa uang sakunya di lapak milik ibunya Dery. Karena ramai, Dery ikut membantu ibunya melayani pembeli. Dengan cekatan Dery melayani satu-persatu pembeli yang rata-rata sudah ia kenal. Salah seorang temannya bertanya pada Dery sambil jajan. "Dery, kamu mau nyanyi lagu apa untuk lagu pilihannya?" Dery menjawab, "entahlah, belum kepikiran. Nanti coba saya cari dulu lagu yang bagus." Sang teman membalas, "ok deh, kamu pasti menang, soalnya suara kamu bagus." Dery hanya senyum mendengar pujian temannya itu.

Setengah jam kemudian sekolah sepi. Dery membantu sang ibu membereskan dagangannya dan ikut membawakannya pulang ke rumah kontrakan melalui sebuah gang sempit di dekat SD itu. Sambil jalan Dery berkata pada sang ibu, "Mak, Dery disuruh ikut lomba nyanyi lagu Sunda besok Minggu di STIA. Boleh Mak?" tanya Dery polos sambil membetulkan bawaannya yang sedikit melorot. "Emang kamu bisa?" tanya Emak. "Ya kalau latihan mah pasti bisa atuh, Mak," jawab Dery. "Ya sok wae atuh kalau bisa mah, " sahut Emak sambil melihat kesungguhan pada sikap dan wajah Dery.

-----

Hari-hari Dery diwarnai kesibukan baru yakni latihan bernyanyi. Lagu Bubuy Bulan dihapalkannya dari kepingan VCD di rumahnya. Meski sesekali player VCD itu macet, namun Dery dengan gigih berlatih. Lagu pilihanpun ia hapalkan. Dalam hati Dery, ia ingin tampil dengan baik. Ia ingin Emak bangga padanya. Suatu ketika saat sedang berlatih sambil tiduran tengadah dengan berbantalkan sebelah lengannya, Dery menatap foto almarhum ayahnya yang sudah tiga tahun ini meninggalkannya. "Kalau Abah masih ada mah, bisa bantu Dery latihan nyanyi," bisik Dery dalam hati. Dengan berkaca-kaca Dery menatap foto almarhum ayahnya hingga ia tertidur pulas di depan tivi 14 inchi itu.

-----

Di sekolah Dery, Alvi dan Kayla terus berlatih. Sesekali mereka berlatih dengan bernyanyi bersama di sela-sela jam istirahat. Bu Entin juga sesekali mengingatkan mereka untuk terus berlatih dan mengecek kesiapan mereka.

-----

Waktu perlombaan semakin dekat. Tinggal dua hari lagi. Dery dan kawan-kawan semakin sibuk berlatih. Hari ini sebelum pulang sekolah, Bu Entin memanggil Dery, Alvi dan Kayla ke ruang guru. "Dery, Alvi, Kayla, waktu lomba semakin dekat. Tinggal dua hari lagi. Kalian sudah siap?" tanya Bu Entin. "Siap, Bu" jawab mereka kompak. Bu Entin menyampaikan, pihak sekolah tidak bisa membantu untuk menyediakan kelengkapan mengikuti lomba. "Kalian harus menyiapkan kaset VCD atau CD, atau flashdisk untuk menyimpan lagu yang akan dilombakan," kata Bu Entin. "Seragam pakaian adat Sunda juga kalian bisa usahakan sendiri. Bisa sewa ke salon rias pengantin atau tempat persewaan kostum," lanjut Bu Entin disambut anggukan anak-anak.

----

Sesampainya di rumah, Dery yang sedang membantu Emaknya mencuci piring menyampaikan pesan Bu Entin, "Mak, kata Bu Guru disuruh nyari pakaian adat Sunda untuk seragam lomba besok Minggu. Kumaha nya Mak?" tanya Dery.
"Atuh kumaha? Kemana nyari seragam pakaian adat, Dery?" Emak bertanya balik ke Dery. Dery melamun. Bingung harus bagaimana. Mungkin bisa saja menyewa ke salon rias, tapi tentu saja mahal. Lagipula Dery tidak tahu tempat salon rias yang menyewakan pakaian adat.

Dery mendekati Emak yang sedang melipat baju jemuran. Dilihatnya Emak sesaat. Bibir Dery sudah siap mengucapkan sesuatu, tetapi Emak sudah lebih dulu bertanya, "kamu sudah makan?" Dery gugup. Dengan terbata-bata dia menjawab, "oh ...... eee be...belum, Mak. Nanti saja," jawabnya. Dery bertambah bingung. Seharusnya hari ini dia sudah bisa mendapatkan seragam. Besok sudah harus gladi bersih.

-----

Keesokan harinya, di sekolah Dery bertanya pada Alvi. "Kamu sudah dapat seragam, Vi?" Alvi menjawab, "sudah. Aku kemarin ke salon Bang Anton. Kebetulan di sana ada. Ukurannya juga pas. Kamu sudah dapat belum," tanya Alvi. Dery tidak langsung menjawab pertanyaan Alvi. Dia terdiam sesaat. Terbayang sudah kegagalan di benak Dery. "Duh, aku bakalan tidak bisa ikut lomba," bisiknya dalam hati.

"Dery...." Alvi menepuk bahu Dery hingga Dery terkejut dan menjawab sekenanya. "Belum," jawab Dery lemas.

"Coba nanti aku antar kamu ke salon Bang Anton buat sewa seragam. Sepertinya masih ada," kata Alvi mencoba menghibur. "Ah, tidak usah. Aku tidak punya uang buat sewa kostum. Pasti mahal," jawab Dery. "Gampang. Nanti aku bantu. Yang penting kita ikut lomba. Kalau kamu nggak ikut, aku juga nggak ikut," ujar Alvi. "Baik deh, Vi. Sepulang sekolah anterin aku ke sana ya," jawab Dery sambil bergegas masuk kelas.

----

Keesokan harinya adalah hari Minggu. Hari H untuk perlombaan yang akan diikuti oleh Dery. Pagi-pagi Dery sudah bersiap-siap. "Mak, doain ya supaya nanti bisa menang," pinta Dery pada Emak. Sementara itu Emak sedang sibuk bebenah di dapur. Dery sedikit gelisah karena Emak tidak bisa menemaninya lomba. Padahal ia ingin sekali Emak bisa menyaksikan saat dia naik panggung. "Iya Dery. Emak tidak bisa mengantar. Pagi ini Emak disuruh nyuci di rumah Pak Herman. Mudah-mudahan kamu menang. Tidak menangpun tidak apa-apa, yang penting sudah berusaha," jawab Emak disertai doa. Dery hanya terdiam. Dalam hatinya ia tetap semangat dengan adanya doa dari Emak.

Sehabis mandi, Dery mengenakan baju kostumnya. Pakaian adat Sunda. "Baju kamu kebesaran?" tanya Emak setelah melihat lengan baju Dery digulung beberapa lipatan, begitu juga celananya. "Iya, Mak. Adanya tinggal ini. Hari ini banyak yang ikut acara Hari Kartini, jadi banyak baju adat yang disewa," jawabnya. "Tidak apa-apa. Kamu ganteng pakai pakaian ini," kata Emak sambil membantu memakaikan blangkon Dery. Dery hanya senyum. Emak menyelipkan uang sepuluh ribu ke kantong Dery. "Ini uang sakunya. Dihemat ya. Cuma sepuluh ribu."

Selesai berpakaian, Dery menuju samping rumah mengambil sepeda. Setelah berpamitan dan minta doa, Dery bergegas mengayuh sepedanya, dengan harapan bisa mencapai tempat lomba tanpa telat. Dengan penuh semangat Dery mengayuh sepedanya. Jaraknya cukup jauh. Sekitar 3 kilometer.

Baru sampai seperempat perjalanan, tiba-tiba sepeda Dery ngadat. Rantainya lepas. Terpaksa Dery berhenti. Dicarinya ranting kering di sekitar jalan itu untuk mencongkel rantai yang terselip diantara gir dan jari-jari sepeda. Cukup sulit. Ranting itupun patah. Tak ada cara lain, terpaksa Dery menariknya dengan tangan. Meski harus rela tangannya kotor terkena oli. Alhasil, rantai sepeda itu terpasang lagi dengan baik. Dery lega. Dilanjutkan perjalanan menuju tempat lomba. Dery semakin semangat karena ia telah kehilangan waktu beberapa saat karena sepedanya ngadat.

Saking semangatnya, beberapa kali lipatan gulungan lengan baju dan celana yang kedodoran itupun merosot. Sambil terus mengayuh sepeda, Dery membetulkannya. Praktis, noda oli di tangan Dery sampai ke baju dalam, lengan dan kakinya. Dery tak mempedulikannya. Dikayuhnya terus sepeda itu.

Udara pagi itu tidak begitu cerah. Mendung menggelayut di langit Bandung. Jalan masih basah karena sisa hujan semalam. Dery sudah memasuki jalan raya. Mobil sudah lalu lalang. Sesekali jalanan macet. Dery harus berusaha menyelinap diantara mobil-mobil yang macet. Saat sedang berusaha mengejar waktu, sebuah mobil tiba-tiba melintasi sebuah jalan berlubang dengan kubangan air dan "breusssshhh!!!" air muncrat mengenai pakaian Dery.

Dery hanya menyeka wajahnya sambil sesekali memperhatikan pakaiannya yang sedikit kotor. Dia tetap fokus pada jalan agar tidak telat sampai ke lokasi acara. Ujian tak hanya sampai di situ. Sepanjang perjalanan Dery tak menyadari bahwa tas yang ia selempangkan di belakang punggungnya terlalu panjang hingga menyentuh roba belakang. Hal ini berakibat bagian bawah tasnya berlubang karena seringnya terkena gesekan roda. Tak pelak, satu persatu barang bawaan Dery berupa keping VCD, air putih dalam botol beserta uang sakunya berjatuhan.

Dery terus mengayuh sepedanya. Semangatnya mulai memuncak ketika lokasi acara sudah terlihat dari kejauhan. Senyumnya mulai mengembang. Menggantikan peluhnya yang sedari tadi bercucuran.

"Ayo Dery, acaranya hampir mulai," sambut Alvi di depan gedung itu. "Iya. Toilet dimana ya? Bajuku kotor sekali." Alvi menanyakan kenapa, dijawabnya, "kecipratan mobil," jawab Dery. Alvi lalu mengantarkan Dery bergegas menuju toilet untuk membersihkan diri.

"Mana kaset VCD kamu? Cepat kasihkan ke panitia," tanya Alvi sambil berjalan dari toilet menuju ruang lomba. Dery merogoh tasnya. Tapi ketika membuka, dia kaget bukan kepalang. Tak ada apapun di dalam tas itu. Dia hanya bengong melihat lubang di bagian bawah tasnya. "Aduh, jatuh semua, Vi. Gimana ya?" Dery bertanya sambil kebingungan. "Yaudah, pakai punyaku saja. Toh lagu pilihan kamu juga ada kan di kasetku. Ayo aku antar ke ruang panitia," ajak Alvi disambut senyum gembira Dery. Sambil berjalan, Dery masih menyempatkan sesekali melihat nasib tasnya.

----

"Hadirin sekalian, tibalah saatnya acara lomba Menyanyi Lagu Sunda dalam Rangkaian Peringatan Hari Kartini, 21 April 2013," sambut MC disertai tepuk tangan para hadirin. Dery dan beberapa peserta lain duduk di kursi peserta. Semua peserta ditemani keluarganya sebagai supporter, kecuali Dery. Namun Alvi yang sedari awal menemaninya tak henti-henti memberinya semangat, meski mereka berdua akan bersaing memperebutkan piala. Bu Entin dan beberapa perwakilan dari sekolah tidak banyak berkomunikasi dengan Dery.

Satu persatu peserta naik ke panggung sesuai panggilan dari MC. Selepas bernyanyi, tiga orang juri mengomentari penampilan para peserta. Tiba saatnya Dery naik panggung. Meski sedikit gugup Dery tetap percaya diri. Tidak banyak penonton yang memberikan tepuk tangan saat nama Dery dipanggil maju oleh MC. Ya, karena Dery memang datang sendiri, tanpa supporter.

Suasana haru terjadi saat Dery menyanyikan lagu berjudul "Emak". Lagu tentang seorang anak yang memohon maaf pada ibunya dan pernyataan bersyukur serta berterimakasih atas limpahan rahmat atas ridla ibu. Lagu tersebut dipopulerkan oleh seorang penyanyi cilik bernama Kustian asal Jawa Barat.

Bait demi bait ia nyanyikan dengan penuh penghayatan. Ekspresi wajah dan gerakan tangan Dery memukau para penonton. Tiga orang juri semuanya menitikan air mata. Sebagian besar penonton juga dibuat haru. Tak sedikit yang menyeka mata karena menangis melihat aksi panggung dan syair lagu yang dinyanyikan Dery. Sangat menyentuh. Selesai bernyanyi Dery mendapatkan aplause luar biasa. Semua dewan juri memberikan komentar yang positif. Bahkan ada satu juri yang belum bisa menyembunyikan rasa harunya. Dalam komentar, juri tersebut hanya berkata, "kamu layak dapat bintang. Lagu kamu mengingat saya pada Ibu saya. Bagus, bagus..."

Turun dari panggung, Dery kembali ke barisan kursi peserta. Alvi menyalaminya sangat erat dan mengguncangnya kuat-kuat tanda gembira.
----

Acara perform sudah selesai. Jam istirahatpun tiba. Sementara dewan juri berdiskusi untuk menentukan hasil lomba, para peserta diperkenankan untuk beristirahat dan menikmati makan siang dari panitia.

----

Tanpa disangka-sangka saat pengumuman pemenang, nama Dery Derisman muncul sebagai pemenang untuk lomba Menyanyi Lagu Sunda. Dery naik ke panggung bersama para pemenang lainnya. Satu persatu hadiah dari panitia dan para sponsor diberikannya. Sebagai juara pertama, Dery mendapatkan hadiah beasiswa lima ratus ribu rupiah, sebuah tas sekolah, sepatu sekolah, satu paket buku tulis, piagam dan sebuah trofi. Saat di panggung, Dery kesulitan membawa hadiah saking banyaknya.

----

Kini waktunya pulang. Beberapa teman Dery yang diantar dengan menggunakan mobil menawarkan diri untuk memberi tumpangan. Tapi Dery menolaknya secara halus, selain merepotkan ia juga membawa sepeda. Dery pulang dengan tetap mengayuh sepedanya. Hadiah yang bisa dimasukkan ke dalam tas ia masukkan, beserta tas lama yang sudah berlubang itu. Digendongnya tas itu, sementara trofi ia pegang di tangan kiri sambil tetap berpegangan pada stang sepeda. Senyum tak henti-hentinya terkembang di bibir Dery. Hari ini dia puas. "Emak pasti bangga dan senang," pikirnya

Siapkah Anda Untuk Sukses?



Kuliah Pagi Ini

Banyak diantara kita yang ingin menjadi orang sukses, tapi tidak siap untuk sukses. Ingin menjadi orang kaya, tapi tidak siap untuk jadi kaya.

Contoh: Udin pengin kaya dengan cara menikahi Lasmi, anak juragan sapi di kota Jember. Mimpi Udin terlaksana dan dia kini menjadi menantu orang kaya. Udin diberi mobil, rumah plus kolam renang, perabotan rumah serba mewah dan istri yang cantik, sopan dan lemah gemulai. Tapi, Udin tidak bisa menyetir mobil, tidak bisa berenang, tidak tahu cara menggunakan perabotan lux, tidak tahu cara memanjakan istri, bahkan Udin tidak bisa bertutur kata layaknya orang kaya. Empat bulan kemudian, keduanya berpisah. Udin kembali ke kampung halaman dan kembali ngarit.

Contoh lain: Agus, seorang salesman pengin naik jabatan menjadi manajer. Dia memanipulasi penjualan sehingga volumenya membuatnya meraih posisi manajer. Dia jadi manajer dengan fasilitas mobil dinas, seperangkat gadget keren dan gaji besar. Tapi, Agus tidak bisa menyetir, tidak bisa mengoperaikan komputer, tidak mempunyai jiwa leadership dan sombong. Lalu, belum selesai kontrak, waktu Agus habis untuk belajar komputer, kerjaan jadi lambat, anak buah jarang disapa, dia juga korupsi untuk menggaji seorang sopir dan gajinya sendiri habis untuk berfoya-foya. Over celebration. Lalu, pada bulan ke-7 kontrak kerjanya diputus. Dia kembali menjadi seorang salesman, pakai motor butut, keluar masuk pasar yang becek, peluh, debu, dan air hujan lekat di seragam kumalnya. Kasihan ya?!

Begitulah, untuk menjadi orang sukses, kita hrs belajar banyak hal, membiasakan diri berpikir dan berperilaku seperti orang sukses.

Salam
image

Brand Development

Saya adalah blogger, penulis, citizen journalist sekaligus praktisi marketing. Konsultan pengembangan merek, penyusunan sistem franchise. Trainer marketing, sales dan online advertising

image

Web Development

Anda butuh website atau blog pribadi? Untuk pengembangan usaha, LSM, organisasi, sekolah, toko online atau perusahaan Anda? Silahkan hubungi saya 0812-2222-0750 atau kirim email ke mr.antowiyono@gmail.com