Thursday, July 24, 2014

Berita Pilpres: Jangan Mudah Dihasut Sebuah Situs di Internet


Hingar-bingar politik khususnya Pilpres 2014 sangat terasa. Pengumuman hasil rekapitulasi Pilpres sudah diumumkan. Pasangan Jokowi – JK unggul dengan 53.15% suara sementara Prabowo – Hatta dengan 46,85% suara. Angka ini tentu sangat frontal untuk masing-masing kubu terutama kubu Prabowo – Hatta. Komposisi kedua kubu hampir imbang. Pihak Prabowo – Hatta mengumumkan, menarik diri dari Pilpres. Entah apa yang dimaksud dengan menarik diri.

Jika ditafsirkan menarik diri secara keseluruhan proses Pilpres, otomatis semua suara dan dukungan kepada pasangan Prabowo – Hatta gugur. Namun tentu saja ini tidak bisa karena ini inkonstitusional. Pihak Prabowo – Hatta telah memenuhi unsur pencalonan serta melewati proses pemungutan suara, hanya tinggal menunggu pengumuman hasil penghitungan suara. Hal ini kemudian menimbulkan pergerekan di arus bawah.
Para pendukung Prabowo – Hatta juga akhirnya ikut-ikutan gusar dan terus mencari hal serta celah untuk dijadikan alasan kekalahan dan mencari kesalahan atau dugaan kesalahan yang dilakukan oleh penyelenggara maupun lawannya.

Para pendukung di lapis bawah juga tak kalah serunya saling klaim dan saling unjuk data. Semisal: data yang konon dimiliki oleh TNI mengenai hasil rekap real count sebesar 54% untuk Prabowo – Hatta, dugaan adanya hubungan saudara antara istri Husni Kamil Malik (Ketua KPU) dengan istri Jusuf Kalla. Namun semua itu masih semu dan kabur, tidak ada bukti real atas beberapa hal yang diduga menjadi penyebab terjadinya kecurangan yang kemudian memenangkan pasangan Jokowi – JK.

Sementara itu kubu pendukung Jokowi – JK juga sibuk “menagih” janji kepada beberapa orang yang bernazar aneh sebelum hasil pemilu diumumkan. Salah satunya adalah nazar yang diyakini banyak orang merupakan tulisan Ahmad Dhani di Twitter yang menyebutkan akan memotong kemaluannya jika bukan Prabowo Subianto yang jadi presiden. Meski kemudian suami Mulan Jameela ini membantah, namun publik sudah menjadikan hal ini sebagai bahan bullying. Dan masih banyak lagi pergesekan lapis bawah akibat hal-hal seperti ini.

Tragisnya, banyak kalangan lapis bawah yang begitu mudahnya dihasut oleh berita-berita hoax, opini, penggiringan opini serta blog yang menggunakan tampilan serta gaya sebuah berita. Sebut saja SuaraNews.com. Situs ini merupakan sebuah situs berita copy paste, mengambil sumber di tempat lain, dimodifikasi lalu disebarluaskan. Kegigihan pengelola situs ini cukup perlu untuk diacungi jempol, sangat up date. Hanya saja beritanya tidak berimbang.

Satu hal yang mengusik rasa penasaran saya adalah, situs ini didevelope hanya dengan sebuah blog gratisan dari Blogspot/Blogger/Google. SuaraNews.com hanya bermodalkan sebuah domain saja dengan menggunakan hosting gratis seperti halnya dipakai oleh banyak blogger seperti saya. Template yang dipakai oleh SuaraNews.com juga gratisan. Artinya, untuk membuat sebuah SuaraNews.com hanya dibutuhkan sekitar Rp. 87.000 – Rp. 120.000 pertahun guna menyewa domain. Template dan hostingnya mengikut ke Blogger. Menurut saya sangat naif jika sebuah situs dapat dipercaya hanya dengan modal segitu.
Hal lain yang membuat saya tertarik menguliti SuaraNews.com adalah tata bahasa serta redaksionalnya. Standar penulisan yang dipakai oleh SuaraNews.com jauh dari kaidah sebuah berita. Sebuah berita wajib memiliki konten 5W + 1H. What, When, Where, Why, Who dan How.

Situs lain yang juga menurut saya tidak fair adalah Voa-Islam.com. Situs ini lebih banyak membuat artikel yang muatannya cenderung menggiring opini. Saya lebih mantap mengatakan bahwa Voa-Islam.com adalah sebuah blog, bukan situs berita.
Masih banyak lagi situs-situs di internet yang memiliki kesamaan absurd-nya dengan beberapa situs tadi. Belum lagi situs blogging Kompasiana. Banyak orang menyematkan tulisan yang berasal dari Kompasiana ke akun sosial media mereka. Kompasiana adalah sebuah situs group blogging. Penulisnya adalah kita-kita, bukan sebuah lembaga pemberitaan. Saya juga punya akun di Kompasiana dengan beberapa tulisan. Semua tulisan adalah tanggung jawab si penulis. Jadi si penulis bisa mengirimkan tulisan apa saja, termasuk penggiringan opini atau data yang menyesatkan. Memang, jika dirasa sangat menggganggu, admin Kompasiana akan menghapus tulisan tersebut.

Wednesday, July 9, 2014

Saya Pernah Jadi Sekretaris Partai, Tim Sukses Caleg, Anggota KPPS dan Golput Sekaligus.



Sharing pengalaman.

Sewaktu masih tinggal di Pati, saya menjabat sebagai seorang Sekretaris PAC sebuah partai politik (sekarang sudah almarhum partainya). Selain itu, saya juga anggota tim suskes caleg partai lain, kebetulan calegnya bulik saya sendiri, meski kemudian kalah.

Pada saat Pemilu Legislatif 2009, saya ditunjuk sebagai anggota KPPS, karena kebetulan saya juga sekretaris RT tempat saya tinggal.

Tapi uniknya, karena tidak ada satupun calon anggota dewan baik untuk daerah maupun pusat yang menurut saya "sreg", sampai selesai waktu pemungutan suara, saya tetap golput alias tidak mencoblos satupun calon legislatif. Saya hanya masuk ke bilik suara untuk melipat ulang surat suara tanpa memilih satupun diantaranya.

Lalu apa motivasi saya atas semua itu?
Menjadi pengurus partai politik atas ajakan seorang saudara, dan saya juga ingin belajar berorganisasi. Saya kecewa dengan pengurus partai tersebut di daerah karena sejak saya dilantik hingga partai tersebut bubar, saya tidak pernah diajak komunikasi oleh pimpinan daerah level apapun, apalagi kampanye atau membahas saksi dsb.

Menjadi tim sukses caleg, selain karena saudara sendiri calegnya, saya juga lagi-lagi ingin belajar berpolitik praktis, Meski hasilnya kemudian tidak terpilih, tapi saya jadi tahu tentang serangan fajar,a money politic, amplop berduit dll.

Menjadi anggota KPPS juga karena saya adalah pengurus RT, jadi mau tidak mau harus dilibatkan. Meski motivasi utamanya adalah honor Rp. 100.000 yang kemudian saya terima. Selain itu, saya juga belajar jadi Event Organizer. Untunglah, jabatan rangkap saya tersebut tidak diketahui Panwaslu :) 

Menjadi Golput adalah pilihan saya waktu itu. Dari  mengurus partai dan menjadi tim sukses caleg memberi saya banyak pelajaran bahwa politik itu menurut saya "abu-abu". Antara hitam dan putih.

Demikian sharing dari saya. Alhamdulillah, saya banyak belajar.

Tuesday, July 8, 2014

Elektabilitas dan Popularitas Capres di Hari Terakhir Masa Tenang






Suhu menjelang Pilpres 2014 semakin memanas. Meski sudah memmasuki hari tenang dan akan dilakukan pencoblosan besok, tetapi temperatur politik di akar rumput justru semakin meningkat. Meskipun KPU menetapkan hari tenang namun ini tidak berlaku di dunia maya. Justru “pertarungan” sengit para pendukung dan relawan kedua capres-cawapres semakin menjadi. Sejauh ini tidak ada larangan dari pemerintah mengenai kampanye dan aktifitas sosialisasi capres-cawapres di dunia maya. Tak pelak, jejaring sosial dipenuhi aktifitas kampanye, mulai yang #kampanyeadem hingga saling serang dan saling bully. Bukan hanya itu, masing-masing kubu memberikan data serta informasi yang saling menyesatkan serta mempropaganda. Bagi Indonesia, ini adalah pembelajaran politik tingkat lanjut jika dibanding Pemilu sebelumnya.
Mengenai tingkat elektabilitas kedua pasangan, terjadi fluktuasi yang sangat signifikan. Lalu, bagaimana mengukur elektabilitas di hari terakhir masa tenang? Inilah temuan-temuan kecil saya pagi ini.
1.    Survey
·       Institut Survey Indonesia (ISI) mencatat hingga tanggal 1 Juli, Prabowo-Hatta  unggul dari Jokowi-JK. Persentase pasangan yang diusung partai Koalisi Merah Putih itu mencapai 40,15%. Sementara Jokowi-JK sebesar 35,05%. Sedangkan warga Indonesia yang belum menentukan pilihan, sebesar 24,80%. Demikian menurut ISI.
·       Pengamat politik dari LIPI punya catatan lain. "Bahwa Pak Jokowi ini melangkah kakinya itu dengan luar biasa, bawa point besar, ibarat orang mau main, apa modalnya sudah besar? Karena selalu on the top," ujar pengamat politik LIPI Siti Zuhro saat menghadiri diskusi di Posko Pemenangan JKW4P, Jalan Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, rabu, (2/7/2014).
·       Sementara itu, survei yang dilakukan perusahaan riset pasar Australia, Roy Morgan, menunjukkan Jokowi-JK unggul 4% di atas Prabowo-Hatta. Survei yang menggunakan 3.117 sampel itu menyimpulkan elektabilitas Jokowi 52% sedang Prabowo 48%. Selain itu, survei tersebut juga memetakan kelompok-kelompok pemilih 2 pasangan capres dan cawapres tersebut. Dari segi geografis, Jokowi unggul di Jawa (52,5 -47,5%), Bali (93% - 7%), Sulawesi (60.5% - 39.5%), Kalimantan (53% - 45%), Maluku (65.5% - 34.5%), dan Nusa Tenggara (68% -32%). Sementara, Prabowo di  Sumatera (60% - 40%) dan unggul tipis di Papua (51,5% - 48.5%). Dari survei tersebut nampak pertarungan sengit terjadi di Jawa, pulau yang paling banyak pemilihnya (40%).
·       Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) juga telah melakukan survey sendiri. "Tim kami secara internal melakukan survei, menelaah terus tiap pergerakan Pak Jokowi dan Pak Jusuf Kalla. Kami juga mencermati 19 hasil survei lembaga yang kami anggap independen. Mayoritas masih mengunggulkan Jokowi-JK. Ada yang 4% sampai 5%, ada yang 7% sampai 14% persen," ujar Tjahjo Kumolo di Kantor KPU, Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, selasa, (1/7/2014).  Terkait survei Lembaga Survei Nasional (LSN) yang menyatakan elektabilitas pasangan Prabowo-Hatta unggul 46,6% dibanding Jokowi-JK dengan elektabilitas 39,9%, Tjahjo menilai survei tersebut dilakukan saat kampanye hitam terhadap Jokowi begitu marak.
Begitulah beberapa sampel hasil survey. Masih banyak hasil survey lain yang bisa ditelaah. Tetapi pada dasarnya angka-angka hasil survey tersebut menunjukkan persaingan yang sangat ketat. Angka selisih ada di kisaran 5%, baik itu unggul atas Jokowi atau sebaliknya.

2.    Online Sentimeter (Alat Pengukur Sentimen di Dunia Maya)
Beberapa waktu lalu kita disuguhi berita mengenai perbedaan sentimen di Google Fight yang dirilis sebuah stasiun televisi swasta. Google Fight adalah sebuah sentimeter berbasis Search Engine Google yang mengukur jumlah sentimen/mention/bahasan/sebutan/tautan atau apa saja yang bisa direkam oleh mesin pencari lalu disuguhkan dalam bentuk angka.
 
          Anda bisa melakukannya sendiri dengan cara mengklik www.googlefight.com dan hasil pagi ini adalah seperti berikut ini. Jokowi dengan 9.970.000 dan Prabowo 9.360.000. Angka ini sangat jauh jika dibandingkan result di situs yang sama sebulan lalu. Saat itu, Prabowo jauh tertinggal oleh Jokowi. Sementara angka untuk cawapres, Jusuf Kalla 1.320.000, jauh meninggalkan Hatta Rajasa yang hanya 435.000.

          Sentimeter ini tidak bisa dianggap sepele. Jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 82 juta orang dari 253.609.643 total jumlah penduduk. 80 persen dari pengguna internet di Indonesia dalam rentang usia pemilih, sehingga angka statistik di sentimeter ini cukup perlu diperhitungkan.

          Sentimeter lain yang saya pakai pagi ini adalah aplikasi dari MindTalk. MindTalk adalah jejaring sosial asli Indonesia. Jejaring sosial berbasis interest ini besutan Danny Oey dan Obin Marufi, founder antivirus Ansav. Obin membuat aplikasi bernama Sentigram. Anda bisa membukanya di http://sentigram.mindtalk.com. Data yang diproses di sentigram ini berasal dari Facebook, Twitter, Mindtalk, Kaskus, Detik dan Kompasiana. Di Sentigram kita bisa melihat sentimen baik positif maupun negatif atas calon presiden Indonesia.


3.    Quick Count
Quick Count atau hitung cepat ini baru bisa diketahui besok. Biasanya tingkat akurasinya adalah tiga jam setelah penghitungan suara.
4.    Rekapitulasi KPU.
Rekapitulasi KPU atas hasil Pilpres adalah hasil final dan resmi yang digunakan oleh negara dalam menetapkan siapa presiden RI periode selanjutnya. Namun karena masyarakat sudah menerima “hasil” dari Quick Count, maka selebrasi kemenangan di pihak pemenang Pilpres tidaklah seberapa.

Demikian ulasan saya,
@AntoOkesip
@MyOkesip

Saturday, June 28, 2014

Mari Menciptakan Merek


Saya masih tertarik untuk membahas tentang merek. Bagi saya mengutak-atik merek dan menguliti merek itu sangat menyenangkan. Lalu, apa yang akan kita bahas saat ini? Saya akan mengulas mengenai asal-usul sebuah merek diciptakan.

Rinso, berasal dari kata "Rinse" yang artinya membilas.
SoKlin, berasal dari kata So Clean, yang artinya begitu bersih.
Daia, berasal dari kata Daya, artinya kekuatan, power.

Wismilak, berasal dari kata Wish Me Luck, artinya doakan aku berhasil (beruntung).
Mie Sedaap, merupakan modifikasi dari kata Sedap. Tetapi kata Sedap tidak bisa digunakan sebagai merek sebuah produk karena Sedap merupakan istilah dalam bahasa keseharian. Sehingga kata "Sedap" tidak dapat dipatenkan sebagai merek berdasarkan Pasal 4 dan Pasal 5 UU Merek.

PT. Siantar Top memproduksi makanan ringan dengan beberapa merek yang sedikit mirip dengan merek lain produk sejenis. Misal, Mie Gemez Enaak Sedap, Desainnya mirip Mie Sedaap. Meski terkesan mendompleng, produk snack ini cukup laris di pasaran.

Produk Siantar Top lain yang mirip dengan produk sejenis adalah Leanet. Produk ini mirip dengan desain Leo Keripik Kentang dari Garudafood. Ada pula Leanet Tator. Font dan kombinasi warna pada tulisan "Tator" dibuat mirip dengan Taro dari Unilever.

Meski memiliki desain yang dibuat mirip dengan kompetitornya, produk Siantar Top sudah mempunyai segmen pasar sendiri. Produk mereka juga laris di pasaran.

Namun, menurut hemat saya lebih baik menciptakan merek dengan lebih mandiri dan berdiri sendiri. Hal ini akan lebih mengukuhkan perusahaan pemilik merek sebagai total fighter. 

Salam.

5 Tips Pengembangan Merek Deterjen Laundry

Contoh Desain Logo Deterjen Laundry "GLAM"



Sekedar berbagi tips untuk Anda produsen deterjen laundry.

Bisnis laundry terus berkembang. Setiap hari selalu saja ada outlet laundry baru yang dibuka. Kini mencucikan pakaian di laundry sudah bukan gaya hidup mewah lagi, sebagian masyarakat sudah menjadikannya sebagai rutinitas dan kebutuhan. Tentu saja hal ini membuat demand atas deterjen industri semakin meningkat.

Seiring dengan hal tersebut, banyak bermunculan produsen deterjen laundry dan bahan kimia turunan di sekitarnya. Ada yang hanya untuk konsumsi pribadi, dijual eceran hingga mendirikan manufakturing yang profesional.

Banyak produsen deterjen ini yang sedang bergerak dalam masa transisi dari industri rumahan ke bisnis profesional. Beberapa berhasil merangkak dengan progress positif, tapi sebagian juga stagnan dan bahkan berhenti berproduksi. Ada beberapa penyebab sebuah industri bisa berhenti atau bangkrut dan tinggal kenangan.

Tips di bawah ini mungkin bisa membantu Anda mengingatkan agar tetap fight, solid dan growing up.

1. Merek. Buatlah merek dengan berprinsip pada beberapa hal ini. Merek harus lugas, mudah diingat, memberi rasa bangga, berkesan positif dan dapat diterima di pasar. 

Sesorang pernah mengajukan merek ke saya dengan nama "BR8". Saat saya tanya artinya, dia jawab "BR8" dari kata "Bright" dibaca bright/bra-eit. Sekilas memang tujuannya bagus, tetapi susah dibaca sekaligus susah dikenali frasenya. Orang tersebut suka dengan nama ini tetapi belum tentu pasar bisa "menerimanya". Saya mengambil analogi, jika membuat merek atas dasar kesukaan dan ego, sementara orang lain susah mengenali itu seperti memilih hidangan kue lebaran yang hanya kita yang doyan, sementara tamunya tidak suka dan tidak tahu cara memakannya. :) 

Lalu, merek yang dicreate berdasarkan emosi juga belum tentu baik, meski juga bisa growing. Misal, jika kita bekerja di deterjen Mawar, lalu setelah resign kita buat sendiri dengan merek deterjen Melati. Ini terkesan sangat sempit. Terkesan tujuan Melati hanya untuk menempel Mawar, bukan menguasai market secara luas.

2. Desain dan kemasan. Mengembangkan sebuah merek bukan hanya soal kualitas barang. Desain tampilan logo, materi iklan, desain kemasan harus memberi efek "wow". Serahkan kepada desainer grafis untuk mengolah merek Anda dengan desain terbaik. Lihatlah desain dengan kacamata umum, bukan berdasarkan kesukaan pribadi. 

Soal kemasan, banyak produsen deterjen menggunakan jerigen bekas. Ini tidak haram. Boleh-boleh saja. Syaratnya: kemasan daur ulang harus sudah steril. Baik kebersihan luar maupun dalam. Pastikan sudah tidak ada efek bahan kimia lain di dalam jerigen. Bersihkan bagian luar jerigen sampai bersih, lalu beri label Anda sendiri. Ini bisa memangkas biaya produksi. Jangan gunakan jerigen bekas yang masih kotor, bersisa label bekas atau tulisan spidol bekas. Semakin cantik kemasan, semakin gemas orang menggunakan produk Anda. Jangan hanya berpikir soal kualitas deterjen, tapi pikirkan juga soal kemasan dan desain label. Ini tidak bisa dibantah, karena kita sedang membicarakan pengembangan brand. Harus komprehensif.

3. Konsisten. Anda boleh memberi warna pink untuk parfum Snappy, hijau untuk Green Tea, kuning untuk Akasia dan lain-lain. Tetapi Anda harus konsisten. Jika memutuskan memberi warna tertentu untuk setiap varian, pastikan ini akan menjadi ciri khas produk Anda. Jangan berubah-ubah. Sekali Anda merubah karakter setiap varian, saat itu juga pelanggan Anda akan menurunkan tingkat kepercayaan. Produk Anda bisa dibilang palsu atau abal-abal. Jadi, konsistenlah.

Kasus lain. Deterjen cair, tepol dan emulsifier mungkin karakternya hampir sama. Jangan beri pelanggan Anda deterjen cair saat dia minta emulsifier atau sebaliknya. Jangan beri dia tepol saat dia minta deterjen cair. Jika stok memang sedang kosong, beri dia pengertian, jangan hanya selling oriented alias yang penting jualan. Beberapa pelanggan memang tidak banyak paham soal ini, tapi hasil kerja produk Anda akan berbicara. Hasil yang tidak sesuai harapan hanya akan menurunkan tingkat kepercayaan. Pada saatnya, Anda akan ditinggal pergi oleh pelanggan. Mau?

4. Pengiriman. Saat calon pelanggan luar kota menanyakan perkiraan waktu barang terkirim, berilah jawaban yang masuk akal. Bekerjasamalah dengan perusahaan ekspedisi yang bisa dipercaya dan memberi ketepatan dalam waktu pengiriman. Pastikan barang terkirim sampai ke alamat pemesan. Jika memang harus melalui jasa titipan, berikan informasi yang jelas di pool mana dan kapan si pemesan harus mengambil barangnya. Ingat, orang lebih suka memesan barang lalu sampai di depan pintu rumah mereka. 

5. After sales. Layanan purna jual (after sales) adalah layanan yang tidak dapat dipisahkan dari sebuah tata niaga distribusi. Garansi, konsultasi, kemudahan repeat order adalah bagian dari purna jual. Setelah berhasil menjual, jangan kemudian Anda lupakan si pembeli. Jadikan dia keluarga dalam jaringan distribusi Anda. Ajak mereka bicara, sesekali disapa dan ajukan pertanyaan jika ada kendala dalam pemakaian atau penjualan mereka. 

Jika pembeli adalah reseller, berikan tips penjualan dan bantu dia dalam promosi. Jangan buat penjualan terputus. Putusnya komunikasi hanya akan memutus jalur distribusi dan menghambat penetrasi produk. Ini akan membuat brand Anda mati suri, atau bahkan mati beneran. 

Berikan pula kemudahan garansi, tukar barang bahkan bila perlu lakukan refund jika sebagian produk Anda dinilai gagal fungsi. 

Demikian tips dari saya. Semoga bermanfaat.

Monday, June 23, 2014

Nasi Tewel Khas Tambakromo Pati

Kota Pati terkenal dengan berbagai makanan khas. Berwisata kuliner di kota ini sangat mengasyikkan. Banyak makanan yang murah, unik dan menggugah selera. Ada nasi gandul, mangut kepala manyung, petis Runting, swikee enthok, semur kutuk dan yang satu ini adalah Nasi Tewel.


Nasi tewel adalah makanan khas pati yang terdapat di Desa Ngerang, Jl. Raya Tambakromo - Kayen KM. 01. Di desa ini banyak penjual nasi tewel. Salah satunya adalah Bu Siti. Bu Siti adalah pengelola warung nasi tewel yang merupakan generasi ketiga. Warung tersebut tergolong cukup ramai. dalam sehari, warung tersebut menghabiskan beras hingga 30 kg. Bu Siti buka mulai pukul 16.30 dan tutup sekitar pukul 21.00 atau hanya sekitar 5 jam.

Nasi tewel adalah nasi dan sayur nangka muda (tewel, gori, cecek -Bahasa Jawa). Disajikan dengan piring yang dilapisi daun jati. Aroma khas daun jatii yang terhirup bersama aroma tewel sangat menggugah selera. Rasa sedikit pedas juga memberi sensasi tersendiri. Sayur ini dimasak tanpa MSG.


Nasi tewel dihidangkan hanya dengan lauk tempe goreng dan bakwan. Sangat sederhana. Untuk tiga porsi nasi tewel, tiga gelas teh hangat dan sebelas biji tempe goreng serta satu buah pisang, kami hanya perlu merogoh kocek Rp. 18.000. Kenyang.

Pelanggan Bu Siti bukan hanya dari kalangan warga biasa. Beberapa mobil mewah selalu tampak berjejer di depan warungnya yang sederhana itu. Beberapa diantaranya juga datang dari luar kota. So, mau coba kuliner rakyat ini, cobalah.

Wednesday, May 21, 2014

Penyusunan Sistem Franchise Laundry


Pertumbuhan bisnis di segala bidang mengalami berbagai perubahan, peningkatan, pembentukan pekerjaan turunan dan berevolusi hingga menyentuh bidang lain. Tak terkecuali hospitality industries. Bisnis ini tak hanya sekitar rumah sakit, rumah makan atau perhotelan saja. Bisnis laundry merupakan salah satu bisnis di bidang ini yang terus mengalami perkembangan.

Bisnis laundy menjadi bisnis yang sangat menarik karena demand atas layanan ini meningkat seiring berkembangnya gaya hidup dan kebutuhan akan kualitas waktu baik individual maupun intitusional. Pebisnis laundry seakan berlomba untuk saling memperebutkan pelanggan yang tersebar di setiap sudut kota. Kemudian hal ini menciptakan persaingan yang tidak sederhana.

Persaingan bisnis laundry juga sebetulnya ditentukan oleh segmentasi dari customer itu sendiri. Untuk itu diperlukan lebih banyak konsentrasi agar dapat fokus mengcover masing-masing segmen pelanggan. Salah satunya adalah dengan membidik pasar professional dengan cara menciptakan sebuah konsep laundry yang integrated dan sistematik. Konsep ini dibuat berdasarkan budaya kerja yang dibakukan lalu disempurnakan. Setelah itu konsep tersebut diduplikasikan kepada orang lain dan terbentuklah sistem waralaba atau franchise.

Untuk itulah, Let's Grow SME Consulting membuka layanan penyusunan sistem waralaba untuk bisnis laundry.

Informasi mengenai hal ini bisa menghubungi saya:

Anto Wiyono
Marketing Let’s Grow SME Consulting
0812-2222-0750

*selain laundry, kami juga melayani pembuatan sistem waralaba untuk kuliner seperti cafe, rumah makan dan restoran.

Friday, May 2, 2014

Kesamaan Antara Sukarno dan Jokowi




Ir. Sukarno, HM. Soeharto, BJ. Habibie, Ir. Joko Widodo lahir di bulan Juni. Sukarno meninggal pada tanggal 21 Juni, sama dengan tanggal lahir Jokowi. Dalam astrologi, Jokowi dan Sukarno memiliki zodiak Gemini.

Gemini adalah lambang kecerdasan, memiliki banyak akal. Komunikasi dan bahasa sangat penting bagi mereka. Mereka memiliki kemampuan berkembang dan belajar yang tinggi. Umumnya para Gemini tidak stabil, reaksi terhadap situasi ditentukan oleh mood mereka. Bagi Gemini, keragaman adalah penyedap kehidupan. Mereka menikmati hasil yang mereka capai lewat kerja keras mereka sendiri.

Gemini tidak menyukai rutinitas. Pengetahuan, pikiran yang cepat dan kepandaian jelas terlihat pada zodiak ini. Mereka mudah berubah-ubah. Simbol ini memiliki pesona alami dan energi karisma yang menarik semua zodiak. Mereka memiliki banyak ide yang dapat membuat kita tertarik, namun mereka cenderung cepat bosan jika mereka berada di sekitar orang yang tidak dapat mengikuti jalan pikiran mereka, dan cepat berpindah ke suatu tempat dimana orang di sekitarnya dapat mengikuti jalan pikiran mereka. Mereka biasa menikmati hidup mereka dan jarang melihat kembali ke belakang.

Sukarno dan Jokowi memiliki shio yang sama, Shio Kerbau. Orang Gemini yang bershio Kerbau mempunyai karakter mulia hatinya dan suka menolong. Soekarno dan Jokowi memiliki kesaman yang begitu erat bila dilihat dari setiap tindakan mereka. Soekarno begitu merakyat, begitu juga Jokowi. Yang membedakan hanya cara berpidatonya, Soekarno berapi-api, Jokowi lemah lembut. Tetapi, bila kita berbicara ketegasan, keduanya mempunyai ketegasan yang sama. Tegas pada hal yang benar dan berpihak pada rakyat. Bisa jadi, Jokowi adalah titisan Soekarno yang sesuai dengan jaman kekinianya. Tak perlu banyak bicara yang penting adalah tindakan.

Saturday, January 4, 2014

Jalan Panjang Sang Pemenang

Siang itu sebelum lonceng tanda berakhir jam pelajaran hari itu berbunyi, Bu Entin wali kelas IV SDN Sukamiskin Bandung menyampaikan pemberitahuan kepada murid-murid. "Anak-anak, baru saja kepala sekolah menyampaikan pemberitahuan, akan diadakan lomba tentang budaya Sunda. Ada beberapa perlombaan, antara lain; Menyanyi Lagu Sunda, Peragaan Busana Adat Sunda, Menari Jaipong dan Pidato Bahasa Sunda dalam rangka peringatan Hari Kartini," kata Bu Entin disambut berbagai komentar riuh rendah yang tak pelak membuat suasana kelas IV menjadi gaduh. "Ini lomba tingkat Kota Bandung dan akan diikuti oleh banyak peserta. Ibu berharap ada wakil pada setiap lomba dari SD kita."

Suasana kelas semakin gaduh. Spontan mereka menyebut beberapa nama untuk ikut maju lomba karena nama-nama yang mereka sebut itu sudah terbiasa mengikuti lomba dan memiliki talenta yang bagus baik pidato, menyanyi maupun peragaan busana. "Siapa yang kira-kira bisa ikut?" tanya Bu Guru. Serta merta anak-anak menyebut beberapa nama, "Dery Bu.... Alvi Bu.... Kayla Bu.... ," itulah nama-nama yang mereka sebutkan hampir bersamaan.

"Jadi Dery, Alvi sama Kayla ya...? " tanya Bu Entin. "Baiklah kalau begitu, terus kalian mau ikut lomba apa?" Serempak Dery, Alvi dan Kayla menjawab, "menyanyi Buu..."

"Baiklah, lomba akan diselenggarakan hari Minggu besok di kampus STIA mulai pukul 9 pagi. Lagu yang dinyanyikan adalah satu lagu wajib berjudul Bubuy Bulan dan satu lagu pilihan, yang kalian bisa pilih sendiri sesukanya, asal lagu Sunda yang baik. Sekarang kalian bisa mulai belajar bernyanyi lagu-lagu itu," kata Bu Entin panjang lebar diikuti bel tanda berakhir jam pelajaran dan waktunya pulang.

Anak-anak berlarian keluar kelas. Suasanya gaduh seperti hari-hari biasa. Dery keluar lebih dulu dan berlari ke seorang penjual jajanan di samping pintu gerbang SD itu. Penjual jajanan itu adalah ibunya Dery. Seperti biasa, setiap jam pulang sekolah anak-anak membelikan sisa uang sakunya di lapak milik ibunya Dery. Karena ramai, Dery ikut membantu ibunya melayani pembeli. Dengan cekatan Dery melayani satu-persatu pembeli yang rata-rata sudah ia kenal. Salah seorang temannya bertanya pada Dery sambil jajan. "Dery, kamu mau nyanyi lagu apa untuk lagu pilihannya?" Dery menjawab, "entahlah, belum kepikiran. Nanti coba saya cari dulu lagu yang bagus." Sang teman membalas, "ok deh, kamu pasti menang, soalnya suara kamu bagus." Dery hanya senyum mendengar pujian temannya itu.

Setengah jam kemudian sekolah sepi. Dery membantu sang ibu membereskan dagangannya dan ikut membawakannya pulang ke rumah kontrakan melalui sebuah gang sempit di dekat SD itu. Sambil jalan Dery berkata pada sang ibu, "Mak, Dery disuruh ikut lomba nyanyi lagu Sunda besok Minggu di STIA. Boleh Mak?" tanya Dery polos sambil membetulkan bawaannya yang sedikit melorot. "Emang kamu bisa?" tanya Emak. "Ya kalau latihan mah pasti bisa atuh, Mak," jawab Dery. "Ya sok wae atuh kalau bisa mah, " sahut Emak sambil melihat kesungguhan pada sikap dan wajah Dery.

-----

Hari-hari Dery diwarnai kesibukan baru yakni latihan bernyanyi. Lagu Bubuy Bulan dihapalkannya dari kepingan VCD di rumahnya. Meski sesekali player VCD itu macet, namun Dery dengan gigih berlatih. Lagu pilihanpun ia hapalkan. Dalam hati Dery, ia ingin tampil dengan baik. Ia ingin Emak bangga padanya. Suatu ketika saat sedang berlatih sambil tiduran tengadah dengan berbantalkan sebelah lengannya, Dery menatap foto almarhum ayahnya yang sudah tiga tahun ini meninggalkannya. "Kalau Abah masih ada mah, bisa bantu Dery latihan nyanyi," bisik Dery dalam hati. Dengan berkaca-kaca Dery menatap foto almarhum ayahnya hingga ia tertidur pulas di depan tivi 14 inchi itu.

-----

Di sekolah Dery, Alvi dan Kayla terus berlatih. Sesekali mereka berlatih dengan bernyanyi bersama di sela-sela jam istirahat. Bu Entin juga sesekali mengingatkan mereka untuk terus berlatih dan mengecek kesiapan mereka.

-----

Waktu perlombaan semakin dekat. Tinggal dua hari lagi. Dery dan kawan-kawan semakin sibuk berlatih. Hari ini sebelum pulang sekolah, Bu Entin memanggil Dery, Alvi dan Kayla ke ruang guru. "Dery, Alvi, Kayla, waktu lomba semakin dekat. Tinggal dua hari lagi. Kalian sudah siap?" tanya Bu Entin. "Siap, Bu" jawab mereka kompak. Bu Entin menyampaikan, pihak sekolah tidak bisa membantu untuk menyediakan kelengkapan mengikuti lomba. "Kalian harus menyiapkan kaset VCD atau CD, atau flashdisk untuk menyimpan lagu yang akan dilombakan," kata Bu Entin. "Seragam pakaian adat Sunda juga kalian bisa usahakan sendiri. Bisa sewa ke salon rias pengantin atau tempat persewaan kostum," lanjut Bu Entin disambut anggukan anak-anak.

----

Sesampainya di rumah, Dery yang sedang membantu Emaknya mencuci piring menyampaikan pesan Bu Entin, "Mak, kata Bu Guru disuruh nyari pakaian adat Sunda untuk seragam lomba besok Minggu. Kumaha nya Mak?" tanya Dery.
"Atuh kumaha? Kemana nyari seragam pakaian adat, Dery?" Emak bertanya balik ke Dery. Dery melamun. Bingung harus bagaimana. Mungkin bisa saja menyewa ke salon rias, tapi tentu saja mahal. Lagipula Dery tidak tahu tempat salon rias yang menyewakan pakaian adat.

Dery mendekati Emak yang sedang melipat baju jemuran. Dilihatnya Emak sesaat. Bibir Dery sudah siap mengucapkan sesuatu, tetapi Emak sudah lebih dulu bertanya, "kamu sudah makan?" Dery gugup. Dengan terbata-bata dia menjawab, "oh ...... eee be...belum, Mak. Nanti saja," jawabnya. Dery bertambah bingung. Seharusnya hari ini dia sudah bisa mendapatkan seragam. Besok sudah harus gladi bersih.

-----

Keesokan harinya, di sekolah Dery bertanya pada Alvi. "Kamu sudah dapat seragam, Vi?" Alvi menjawab, "sudah. Aku kemarin ke salon Bang Anton. Kebetulan di sana ada. Ukurannya juga pas. Kamu sudah dapat belum," tanya Alvi. Dery tidak langsung menjawab pertanyaan Alvi. Dia terdiam sesaat. Terbayang sudah kegagalan di benak Dery. "Duh, aku bakalan tidak bisa ikut lomba," bisiknya dalam hati.

"Dery...." Alvi menepuk bahu Dery hingga Dery terkejut dan menjawab sekenanya. "Belum," jawab Dery lemas.

"Coba nanti aku antar kamu ke salon Bang Anton buat sewa seragam. Sepertinya masih ada," kata Alvi mencoba menghibur. "Ah, tidak usah. Aku tidak punya uang buat sewa kostum. Pasti mahal," jawab Dery. "Gampang. Nanti aku bantu. Yang penting kita ikut lomba. Kalau kamu nggak ikut, aku juga nggak ikut," ujar Alvi. "Baik deh, Vi. Sepulang sekolah anterin aku ke sana ya," jawab Dery sambil bergegas masuk kelas.

----

Keesokan harinya adalah hari Minggu. Hari H untuk perlombaan yang akan diikuti oleh Dery. Pagi-pagi Dery sudah bersiap-siap. "Mak, doain ya supaya nanti bisa menang," pinta Dery pada Emak. Sementara itu Emak sedang sibuk bebenah di dapur. Dery sedikit gelisah karena Emak tidak bisa menemaninya lomba. Padahal ia ingin sekali Emak bisa menyaksikan saat dia naik panggung. "Iya Dery. Emak tidak bisa mengantar. Pagi ini Emak disuruh nyuci di rumah Pak Herman. Mudah-mudahan kamu menang. Tidak menangpun tidak apa-apa, yang penting sudah berusaha," jawab Emak disertai doa. Dery hanya terdiam. Dalam hatinya ia tetap semangat dengan adanya doa dari Emak.

Sehabis mandi, Dery mengenakan baju kostumnya. Pakaian adat Sunda. "Baju kamu kebesaran?" tanya Emak setelah melihat lengan baju Dery digulung beberapa lipatan, begitu juga celananya. "Iya, Mak. Adanya tinggal ini. Hari ini banyak yang ikut acara Hari Kartini, jadi banyak baju adat yang disewa," jawabnya. "Tidak apa-apa. Kamu ganteng pakai pakaian ini," kata Emak sambil membantu memakaikan blangkon Dery. Dery hanya senyum. Emak menyelipkan uang sepuluh ribu ke kantong Dery. "Ini uang sakunya. Dihemat ya. Cuma sepuluh ribu."

Selesai berpakaian, Dery menuju samping rumah mengambil sepeda. Setelah berpamitan dan minta doa, Dery bergegas mengayuh sepedanya, dengan harapan bisa mencapai tempat lomba tanpa telat. Dengan penuh semangat Dery mengayuh sepedanya. Jaraknya cukup jauh. Sekitar 3 kilometer.

Baru sampai seperempat perjalanan, tiba-tiba sepeda Dery ngadat. Rantainya lepas. Terpaksa Dery berhenti. Dicarinya ranting kering di sekitar jalan itu untuk mencongkel rantai yang terselip diantara gir dan jari-jari sepeda. Cukup sulit. Ranting itupun patah. Tak ada cara lain, terpaksa Dery menariknya dengan tangan. Meski harus rela tangannya kotor terkena oli. Alhasil, rantai sepeda itu terpasang lagi dengan baik. Dery lega. Dilanjutkan perjalanan menuju tempat lomba. Dery semakin semangat karena ia telah kehilangan waktu beberapa saat karena sepedanya ngadat.

Saking semangatnya, beberapa kali lipatan gulungan lengan baju dan celana yang kedodoran itupun merosot. Sambil terus mengayuh sepeda, Dery membetulkannya. Praktis, noda oli di tangan Dery sampai ke baju dalam, lengan dan kakinya. Dery tak mempedulikannya. Dikayuhnya terus sepeda itu.

Udara pagi itu tidak begitu cerah. Mendung menggelayut di langit Bandung. Jalan masih basah karena sisa hujan semalam. Dery sudah memasuki jalan raya. Mobil sudah lalu lalang. Sesekali jalanan macet. Dery harus berusaha menyelinap diantara mobil-mobil yang macet. Saat sedang berusaha mengejar waktu, sebuah mobil tiba-tiba melintasi sebuah jalan berlubang dengan kubangan air dan "breusssshhh!!!" air muncrat mengenai pakaian Dery.

Dery hanya menyeka wajahnya sambil sesekali memperhatikan pakaiannya yang sedikit kotor. Dia tetap fokus pada jalan agar tidak telat sampai ke lokasi acara. Ujian tak hanya sampai di situ. Sepanjang perjalanan Dery tak menyadari bahwa tas yang ia selempangkan di belakang punggungnya terlalu panjang hingga menyentuh roba belakang. Hal ini berakibat bagian bawah tasnya berlubang karena seringnya terkena gesekan roda. Tak pelak, satu persatu barang bawaan Dery berupa keping VCD, air putih dalam botol beserta uang sakunya berjatuhan.

Dery terus mengayuh sepedanya. Semangatnya mulai memuncak ketika lokasi acara sudah terlihat dari kejauhan. Senyumnya mulai mengembang. Menggantikan peluhnya yang sedari tadi bercucuran.

"Ayo Dery, acaranya hampir mulai," sambut Alvi di depan gedung itu. "Iya. Toilet dimana ya? Bajuku kotor sekali." Alvi menanyakan kenapa, dijawabnya, "kecipratan mobil," jawab Dery. Alvi lalu mengantarkan Dery bergegas menuju toilet untuk membersihkan diri.

"Mana kaset VCD kamu? Cepat kasihkan ke panitia," tanya Alvi sambil berjalan dari toilet menuju ruang lomba. Dery merogoh tasnya. Tapi ketika membuka, dia kaget bukan kepalang. Tak ada apapun di dalam tas itu. Dia hanya bengong melihat lubang di bagian bawah tasnya. "Aduh, jatuh semua, Vi. Gimana ya?" Dery bertanya sambil kebingungan. "Yaudah, pakai punyaku saja. Toh lagu pilihan kamu juga ada kan di kasetku. Ayo aku antar ke ruang panitia," ajak Alvi disambut senyum gembira Dery. Sambil berjalan, Dery masih menyempatkan sesekali melihat nasib tasnya.

----

"Hadirin sekalian, tibalah saatnya acara lomba Menyanyi Lagu Sunda dalam Rangkaian Peringatan Hari Kartini, 21 April 2013," sambut MC disertai tepuk tangan para hadirin. Dery dan beberapa peserta lain duduk di kursi peserta. Semua peserta ditemani keluarganya sebagai supporter, kecuali Dery. Namun Alvi yang sedari awal menemaninya tak henti-henti memberinya semangat, meski mereka berdua akan bersaing memperebutkan piala. Bu Entin dan beberapa perwakilan dari sekolah tidak banyak berkomunikasi dengan Dery.

Satu persatu peserta naik ke panggung sesuai panggilan dari MC. Selepas bernyanyi, tiga orang juri mengomentari penampilan para peserta. Tiba saatnya Dery naik panggung. Meski sedikit gugup Dery tetap percaya diri. Tidak banyak penonton yang memberikan tepuk tangan saat nama Dery dipanggil maju oleh MC. Ya, karena Dery memang datang sendiri, tanpa supporter.

Suasana haru terjadi saat Dery menyanyikan lagu berjudul "Emak". Lagu tentang seorang anak yang memohon maaf pada ibunya dan pernyataan bersyukur serta berterimakasih atas limpahan rahmat atas ridla ibu. Lagu tersebut dipopulerkan oleh seorang penyanyi cilik bernama Kustian asal Jawa Barat.

Bait demi bait ia nyanyikan dengan penuh penghayatan. Ekspresi wajah dan gerakan tangan Dery memukau para penonton. Tiga orang juri semuanya menitikan air mata. Sebagian besar penonton juga dibuat haru. Tak sedikit yang menyeka mata karena menangis melihat aksi panggung dan syair lagu yang dinyanyikan Dery. Sangat menyentuh. Selesai bernyanyi Dery mendapatkan aplause luar biasa. Semua dewan juri memberikan komentar yang positif. Bahkan ada satu juri yang belum bisa menyembunyikan rasa harunya. Dalam komentar, juri tersebut hanya berkata, "kamu layak dapat bintang. Lagu kamu mengingat saya pada Ibu saya. Bagus, bagus..."

Turun dari panggung, Dery kembali ke barisan kursi peserta. Alvi menyalaminya sangat erat dan mengguncangnya kuat-kuat tanda gembira.
----

Acara perform sudah selesai. Jam istirahatpun tiba. Sementara dewan juri berdiskusi untuk menentukan hasil lomba, para peserta diperkenankan untuk beristirahat dan menikmati makan siang dari panitia.

----

Tanpa disangka-sangka saat pengumuman pemenang, nama Dery Derisman muncul sebagai pemenang untuk lomba Menyanyi Lagu Sunda. Dery naik ke panggung bersama para pemenang lainnya. Satu persatu hadiah dari panitia dan para sponsor diberikannya. Sebagai juara pertama, Dery mendapatkan hadiah beasiswa lima ratus ribu rupiah, sebuah tas sekolah, sepatu sekolah, satu paket buku tulis, piagam dan sebuah trofi. Saat di panggung, Dery kesulitan membawa hadiah saking banyaknya.

----

Kini waktunya pulang. Beberapa teman Dery yang diantar dengan menggunakan mobil menawarkan diri untuk memberi tumpangan. Tapi Dery menolaknya secara halus, selain merepotkan ia juga membawa sepeda. Dery pulang dengan tetap mengayuh sepedanya. Hadiah yang bisa dimasukkan ke dalam tas ia masukkan, beserta tas lama yang sudah berlubang itu. Digendongnya tas itu, sementara trofi ia pegang di tangan kiri sambil tetap berpegangan pada stang sepeda. Senyum tak henti-hentinya terkembang di bibir Dery. Hari ini dia puas. "Emak pasti bangga dan senang," pikirnya

Siapkah Anda Untuk Sukses?



Kuliah Pagi Ini

Banyak diantara kita yang ingin menjadi orang sukses, tapi tidak siap untuk sukses. Ingin menjadi orang kaya, tapi tidak siap untuk jadi kaya.

Contoh: Udin pengin kaya dengan cara menikahi Lasmi, anak juragan sapi di kota Jember. Mimpi Udin terlaksana dan dia kini menjadi menantu orang kaya. Udin diberi mobil, rumah plus kolam renang, perabotan rumah serba mewah dan istri yang cantik, sopan dan lemah gemulai. Tapi, Udin tidak bisa menyetir mobil, tidak bisa berenang, tidak tahu cara menggunakan perabotan lux, tidak tahu cara memanjakan istri, bahkan Udin tidak bisa bertutur kata layaknya orang kaya. Empat bulan kemudian, keduanya berpisah. Udin kembali ke kampung halaman dan kembali ngarit.

Contoh lain: Agus, seorang salesman pengin naik jabatan menjadi manajer. Dia memanipulasi penjualan sehingga volumenya membuatnya meraih posisi manajer. Dia jadi manajer dengan fasilitas mobil dinas, seperangkat gadget keren dan gaji besar. Tapi, Agus tidak bisa menyetir, tidak bisa mengoperaikan komputer, tidak mempunyai jiwa leadership dan sombong. Lalu, belum selesai kontrak, waktu Agus habis untuk belajar komputer, kerjaan jadi lambat, anak buah jarang disapa, dia juga korupsi untuk menggaji seorang sopir dan gajinya sendiri habis untuk berfoya-foya. Over celebration. Lalu, pada bulan ke-7 kontrak kerjanya diputus. Dia kembali menjadi seorang salesman, pakai motor butut, keluar masuk pasar yang becek, peluh, debu, dan air hujan lekat di seragam kumalnya. Kasihan ya?!

Begitulah, untuk menjadi orang sukses, kita hrs belajar banyak hal, membiasakan diri berpikir dan berperilaku seperti orang sukses.

Salam
image

Brand Development

Saya adalah blogger, penulis, citizen journalist sekaligus praktisi marketing. Konsultan pengembangan merek, penyusunan sistem franchise. Trainer marketing, sales dan online advertising

image

Web Development

Anda butuh website atau blog pribadi? Untuk pengembangan usaha, LSM, organisasi, sekolah, toko online atau perusahaan Anda? Silahkan hubungi saya 0812-2222-0750 atau kirim email ke mr.antowiyono@gmail.com