Showing posts with label malang. Show all posts
Showing posts with label malang. Show all posts

Saturday, January 19, 2008

Tempe Penyet Mak Nyuss

Disaat dunia pertahuan dan pertempean di guncang dengan adanya harga kedelai yang merangkak naik, saya masih bisa menikmati lauk hasil olahan dari biji-bijian jenis palawija itu dengan harga yang ekonomis (baca:murah). Ya, ini karena baru saja saya bisa menikmati seporsi tempe penyet hanya dengan Rp. 2500,- . Harga tersebut sudah termasuk nasi putih, lalapan aneka warna bebas pilih, sambal terasi yang mak nyoozzz dan segelas air putih, maksud saya air bening (teman saya sering menyela, jika saya menyebut air putih berarti susu).

Seperti biasanya, selama berada di Malang beberapa hari ini setiap selesai Maghrib, saya berjalan jalan keluar dengan Smash-ku untuk mencari makan malam. Setelah berputar-putar kota, akhirnya saya melihat sebuah warung makan spesialis lalapan. Ini menu favorit saya. Warungnya rame. Biasanya kalau rame pasti laris. Setidaknya masuk kategori saya menjadi warung langganan.

Ya, setelah saya memarkir motor, saya pun masuk ke warung itu. Benar saja, menunya lengkap. Ada lele, ayam goreng, telor penyet dan tentu saja tempe penyet. Yang terakhir ini adalah menu kesukaan saya. Istri saya senang sekali dengan kegemaran saya ini. Murah, carinyapun mudah. Dan pasti kalau makan dengan menu ini saya pasti nambah. Istri saya selalu menghadiahkan sebuah ciuman ketika melihat saya nambah saat makan. (hmm... bikin cembokur ya?)

Kembali ke warung penyet. Setelah memesan tempe penyet, saya menunggu sambil menikmati acara TV yang tersedia disitu. Saat itu di RCTI sedang ada Sinetron Namaku Mentari. Sinetron yang menurutku tak bermutu itu sedang diputar di stasiun TV swasta pertama itu. Sepuluh menit kemudian, sepiring nasi putih, seporsi tempe dalam kubangan sambal terasi yang disuguhkan dalam cobek tanah juga turut disajikan. Hmm... tak sabar rasanya menghabiskannya.

Tidak sampai 20 menit, menu spesial (bagi saya) itupun habis. Lalu aku pun membayarnya setelah menyulut sebatang Djarum Super. "Berapa, Mbak?". Tanyaku sama penjualnya. " Tambah apa, Mas?" tanya dia balik. " Nggak, cuma sama air putih". Mbaknya jawab, "duaribu limaratus, Mas"... Hah!!!??? Murah sekali, batinku.

Ah, kalau begini bisa tiap sore nih makan disini, pikirku. Murah, enak. Tapi sayang, seandainya saya nambah nasi putih, tidak akan ada yang mencium saya. Biarlah, ciumnya diakumulasikan saja nanti setelah kembali kumpul.[tri]

Monday, January 14, 2008

Wes Mangan Ora Udud Eneg

Wes Mangan Ora Udud Eneg.... Itulah sekilas pepatah bagi beberapa orang yang selalu merokok setelah makan. Memang, bagi penikmatnya merokok setelah makan adalah sebuah kenikmatan. Sehingga banyak orang yang demi kenikmatan sebatang rokok harus ngemil atau minum kopi atau teh. Entah mengapa, memang terasa beda jika kita merokok setelah makan dengan merokok tidak setelah makan. Tanpa melupakan Gerakan Anti Tembakau atau Program Larangan Merokok di Tempat Umum, saya akan mengulas sedikit mengenai distribusi rokok menurut cuaca daerahnya.
Begini, di Malang penjualan Djarum Super tidak akan sebanyak di Semarang. Bahkan toko Bu Kos tempat saya tinggal, tidak menjual Djarum Super. Kata Bu Kos Djarum Super tidak laku. Akhirnya saya pilih Surya 12. Tadinya mau pilih GGF alias Inter alias FIM alias Garfit. Tapi rokok ini batangnya pendek. Nggak puas ah!! pikirku.

Lalu di Malang Anda akan kesulitan mencari Djarum Coklat. Yang ada Djarum 76. Bagi orang yang dari Bogor atau Bandung dan sekitarnya yang terbiasa menikmati Djarum Coklat akan kesulitan dan harus rela menggantinya dengan saudara kembarnya yaitu Djarum 76. Sama-sama kretek dari pabrik yang sama.

Begitu juga di Bandung, Bogor dsk. Mencari Djarum 76 dan Surya akan mengalami kesulitan. Karena yang ada Djarum Coklat dan Inter. Orang Bandung menyebut Inter yaitu Garfit. Orang Solo menyebutnya GP. Entah apa singkatannya...

Itu sedikit contoh beberapa pabrik cigaret yang memproduksi cigaret dengan segmen pasar sesuai kondisi cuacanya. Masih banyak contoh lain yang mungkin saya belum pahami. Dan ulasan tadi juga belum tentu benar karena secara ilmiah, statistik belum ada laporan semacam itu yang saya baca. Tapi setidaknya itulah yang dapat saya simpulkan...[tri]
_____________________________________________________________
[PERINGATAN PEMERINTAH MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN]
_____________________________________________________________

Adaptasi Kuliner di Malang

Berada di sebuah kota apalagi berada di provinsi yang berbeda dari sebelumnya tentu saja akn mengalami banyak sekali adaptasi. Mulai dari bahasa atau dialek, cuaca, budaya, dan tentu saja... makanan. Seperti pada 1999 sialm saat saya pertama kali menginjakkan kaki di Malang, saya mendapatkan kesulitan untuk beradaptasi dengan makanan yan tersedia di Malang. Maklum, saya orang Jawa Tengah asli yang terbiasa dengan makanan asli daerah saya. Jangankan beda provinsi, masakan Karanganyar (tempat asli saya) dengan Pati (tempat tinggal saya) saja sudah banyak perbedaan. Dan bahkan hingga sekarang meski saya tinggal di Pati sampai 6 tahun, masih saja enggan makan beberapa menu masakan asli Pati . Seperti Sayur Kunci (sayur bening tapi di beri bumbu semacam umbi sejenis kunyit,lengkuas, atau temu ireng dan namanya temu kunci.

Di Malang, saya juga mendapatkan kesulitan beradaptasi. Teh manis yang disajikan beberapa kedai makan menggunakan teh wuwur yang aroma melatinya bukan dari melati asli tapi essence. Sehingga aromanya tidak lagi wangi melati namun terasa langu atau wengur. Saos, di Malang saya jarang menemukan saos yang sering disajikan bersama mie ayam yang warnanya orange dengan pedas yang cukup. Saos yang beredar di Malang kebanyakan saos tomat yang warnanya merah semu jambon yang rasanya manis. Ekstrak cabenya kurang. Asinnya pun kurang. Didominasi ekstrak tomat dengan pewarna yang terlalu mencolok.


Berbicara mengenai Mie Ayam. Wah, jangan harap Anda mudah mendapatkan Mie Ayam seperti yang Anda temukan di Semarang, Jakarta atau kota lainnya. Mie Ayam yang ada di Malang adalah Mie Pangsit. Kuah, mie dan bumbunya beda dengan Mie Ayam kebanyakan. Mie Ayam yang mereka sebut Mie Jakarta itu sulit ditemui di Malang. Dulu saya pernah mendapatkannya waktu ke Wajak. Hingga setiap kali ke Wajak, saya sempatkan nyari si tukang Mie tersebut sampai dapat demi rasa kangen saya terhadap Mie Ayam.

Mungkin saja sekarang Mie Ayam sudah banyak yang ada di kota.
Begitu juga Bakso. Harapan saya menikmati Bakso asli Solo entah bisa terkabul atau tidak. Sebab, bakso yang ada di Malang adalah bakso pangsit. Modelnya beda dengan bakso Solo kebanyakan. Apalagi jika menggunakan saos merah juga. Wah, bakalan kangen nih sama Bakso Solo. Itu lidah saya yang memang agak rewel mengenai masakan. Tidak akan seperti itu jika Anda yang menikmatinya...Semoga saja.[tri]

Sekelumit Perhatian Saya di Malang


Berada di Kota Malang beberapa hari ini saya menemui beberapa hal yang berbeda dari kota-kota yang lainnya. Terutama dari daerah asal saya. Terutama yang saya perhatikan masalah lalu-lintas. Ada bebera hal yang di kota saya menjadi sebuah pelanggaran, namun di Malang masih leluasa saja "berlaku". Seperti program [LIGT ON/KLEK BYAR] yaitu program menyalakan lampu motor pada siang hari. Di kota saya, saat ini sudah dilakukan tindakan sanksi jika tidak menyalakan lampu motor di siang hari. Saya, yang sudah terbiasa Ligt On, selalu menyalakan lampu motor 24 jam (kecuali berhenti tentunya). Hingga suatu ketika saya di beri sebuah kode dari orang yang saya temui di jalan yang menunjukkan bahwa lampu motor saya nyala. Lho, emang tak uripke kok Pak. Kedua, masih banyak motor anak muda yang menggunakan ban ukuran tidak standar atau lebih kecil. Di beberapa kota, hal ini sudah menjadi sebuah pelanggaran karena sudah melewati masa sosialisasi dan teguran. Konon, di Sragen jika masih ada yang menggunakan ban tidak standar akan di sobek dengan pisau cutter oleh pak Polisi. Ketiga, ada jalan yang diberi jalur khusus untuk sepeda motor dan terdapat larangan untuk motor melewati jalur utama, tapi masih juga banyak yang melanggar. Seperti saya lihat di Jl. Jakgung Suprapto (semoga tidak salah). Satu lagi yang menurut saya sangat fatal, yaitu helm bathok. Di beberapa kota helm bathok atau yang tidak standar bahkan helm proyek sudah sama sekali tidak diperbolehkan melintas di jalan umum. Bahkan hal ini kini sudah bukan lagi merupakan peraturan tapi sudah menjadi budaya. Tidak ada lagi orang yang memakai helm bathok. Juga tidak ada lagi yang menjual helm jenis ini. Memakai helm standar lebih nyaman dan aman. Ada sebuah sosialisasi dari Polri yang berbunyi begini "Dengan Memakai Helm Standar Tidak Akan Mengurangi Penampilan Anda". Ini beberapa perhatian saya selama beberapa hari di Malang. Tapi mungkin ini merupakan sebuah indikasi bahwa di Malang kondisinya sangat kondusif dan aman sehingga hal-hal yang 'mungkin masih dianggap' sepele tersebut tidaklah terlalu membahayakan karena pola pikir dan budaya yang kondusif. Semoga saja demikian. I hope so.

Angkot Yang Ada di Malang

Berada di kota Malang tentu akan sangat sering menemui yang namanya angkot (angkutan kota). Seperti halnya angkot-angkot di beberapa kota lainnya, angkot di Kota Malang juga mempunyai ciri khas masing-masing untuk menengarai jurusannya.

Jika di Bandung di tengarai dengan warna dan strip serta nomor jalurnya, lain lagi dengan di Semarang. Kalau di Semarang semua angkot hampir sama warnanya yaitu orange. Di Semarang angkot sering di sebut Daihatsu. Itu mungkin karena pada jaman dahulu sebelum adanya regenerasi, angkot di Semarang didominasi oleh mobil buatan Daihatsu yaitu Hijet. Tak heran di Semarang orang umbal (pergi naik angkutan), dalam kota pasti mereka bilang naik Daihatsu. Padahal kini tak hanya Daihatsu yang di pakai Organda. Mitsubishi T120SS, Suzuki Carry Futura juga banyak dipakai.


Lain Semarang, lain Bandung, lain pula Malang. Di kota Malang angkot ini di tengarai jurusannya dari warna strip dan Kode singkatannya. Maksudnya?... Ada angkot dengan kode GA, berarti jurusan Gadang-Arjosari. Gadang adalah terminal ujung timur yang merupakan terminal untuk jurusan Lumajang, Blitar dan kota-kota lain yang berada di sebelah timur Kota Malang. Sementara Arjosari adalah terminal yang menghubungkan Malang dengan kota-kota yang berada di sebelah utara seperti Pasuruan, Pandaan, Mojokerto dan Surabaya. Ada lagi angkot dengan kode GL yaitu jurusan Gadang-Landungsari. Landungsari adalah terminal yang menghubungkan Kota Malang dengan Kediri, Jombang dan Batu. Berarti ada tiga titik terminal yang membuat semacam segitiga emas di Malang. Dengan begitu pasti ada angkot jurusan LA atau AL. Pasti ada lah!


Lalu di mana yang menarik?... Begini, jika Anda berada di Sukun (misalnya), Anda bisa naik angkot jurusan GA jika bepergian ke Arjosari. Ketika Anda berada di Arjosari dan ingin pulang ke Sukun, Anda harus naik angkot jurusan GA lagi. Jangan keliru dengan angkot bertuliskan AG. Nah, lho!! Bukankah AG singkatan dari Arjosari-Gadang? Yang artinya sama dengan GA...? Anda jenius...!! Tapi tidak untuk jawaban yang ini. Karena angkot jurusan GA dan AG meski bertemu di terminal yang sama tapi melalui jalur yang berbeda.

Jangan Anda tanyakan kepada sopir bahwa angkot tersebut jurusan Gadang. Tapi tanyakan apakah melalui tempat asal Anda naik sebelumnya atau waktu berangkat. Karena jika Anda menanyakan hal ini, Anda akan mendapatkan jawaban 'ya' dari tiga angkot yang berbeda yaitu GA, AG dan AMG. Apalagi AMG itu? Arjosari-Mergan-Gadang. Itu juga angkot jurusan Gadang. Tapi jalurnya jauh lebih beda dibanding GA dan AG. Jadi jika Anda bepergian naik angkot di Malang , pastikan bahwa Anda mengetahui jalurnya atau minimal melalui tempat asal Anda atau tidak. [tri]

Sunday, January 13, 2008

I'm Back, Malang


Aku kembali ke Malang. Kota dingin yang kini telah memplokamirkan diri menjadi Truly East Java ini dengan wellcome-nya menyambutku kembali datang untuknya. Ya, ini setelah aku meninggalkan kota ini 2001 akhir lalu. Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan dari kotaku di Jawa Tengah dengan menempuh waktu yang lama yakni 10 jam, dengan empat kali berhenti istirahat, termasuk ikut fear faktor di Osowilangun dan menjadi korban lumpur Lapindo, akhirnya aku sampai juga di Malang. Ketika aku sampai di perbatasan dengan Pasuruan tibalah aku di Kota Lawang, kota kecamatan ini terlihat seperti banner Selamat Datang di Kota Malang. Beberapa tempat yang dulu sering aku singgahi, menjadi biji-biji puzzel dalam memoriku yang sebentar lagi akan tersusun menjadi sebuah kenangan manis selama aku di Malang 1999-2001 lalu.
Setelah meninggalkan Lawang, tibalah aku di Singosari, kulihat ada Markas Divisi I Kostrad. Lalu Pasar Singosari, selanjutnya melintasi perlintasan kereta api. Dan beberapa saat kemudian aku tiba di pertigaan dekat Pabrik Rokok Bentoel. Rokok ini yang menjadi kebanggan warga Malang. Seterusnya tempat kerajinan Ken Dedes, kemudian si Cantik Patung Ken Dedes yang menyambutku dalam keremangan cahaya taman.
Setelah itu aku dikejutkan dengan pemandangan yang dulu belum pernah aku lihat, yakni jembatan layang yang ada di depan Terminal Arjosari. Wah, jembatan ini menunjukkan bahwa Malang kini telah berkembang pesat sehingga harus di buatkan jembatan layang. Belum juga aku selesai terkagum-kagum dengan jembatan itu, lampu menyala hijau. Aku harus meninggalkan jembatan itu. Entah apa lagi yang nanti akan aku temui sebagai kejutan.
Setelah meninggalkan Ahmad Yani kini laju motorku memasuki S Parman, hingga Alun-alun kota. Dalam perjalanan aku banyak menemukan hal yang kembali mengingatkanku pada 2001 silam. Rumah Sakit Syaiful Anwar, dulu aku pernah terduduk di ruang tunggu sana untuk memeriksakan sampel darah anakku yang terkena dehidrasi dan dirawat di RSI. Hotel Kartika Graha yang mengingatkanku pada pemandangan unik, yaitu pernah suatu ketika aku melihat sebuah pernikahan yang diadakan di Hotel tersebut. Uniknya, beberapa rombongan tamu di Hotel tersebut datang dengan menumpang dua buah truk. Mungkin salah satu mempelainya berasal dari kampung sehingga tetangganya yang akan datang ke resepsi tersebut terpaksa datang dengan truk karena rombongan cukup banyak dan tidak memungkinkan untuk membawa mobil pribadi.
Selanjutnya aku sampai juga di Alun-Alun Kota Malang. Sejenak aku memarkirkan motorku di tempat parkir Alun-Alun. Wah, Alun-Alun Kota kini telah berubah. Lebih bersih dan tertata rapi. PKL yang dulu banyak terdapat di pinggiran Alun-Alun pun kini telah bersih. Kemana mereka? Entahlah.
Setelah berjalan-jalan sebentar, aku sejenak istirahat di sudut Alun-Alun. Tidak seperti Alun-Alun di kota-kota lainnya, Alun-Alun Kota Malang terlihat sangat gelap. Terutama di sisi timur atau depan Kantor Pos. Tapi mungkin ini memang sengaja di atur demikian oleh Dinas terkait. Terlihat dari lampu-lampu yang digunakan. Hanya menggunakan lampu-lampu yang bercahaya sedang. Mungkin memang ini untuk menghindari kesan hingar-bingar di Kota ini. Meski sebelah barat dan utara terdapat Mall yang besar, yakni Sarinah Plaza Malang dan Mal Alun-Alun, namun tak terkesan kota yang penuh dengan histeria.
Setelah menghabiskan sebatang Djarum Super, akupun bergegas menuju temoat tujuanku yakni rumah Bu Kos yang dulu pernah aku tempati. Semoga saja beliau masih sehat dan masih mengingatku... Lalu, motor aku starter dan.....
image

Brand Development

Saya adalah blogger, penulis, citizen journalist sekaligus praktisi marketing. Konsultan pengembangan merek, penyusunan sistem franchise. Trainer marketing, sales dan online advertising

image

Web Development

Anda butuh website atau blog pribadi? Untuk pengembangan usaha, LSM, organisasi, sekolah, toko online atau perusahaan Anda? Silahkan hubungi saya 0812-2222-0750 atau kirim email ke mr.antowiyono@gmail.com