Showing posts with label pilpres 2014. Show all posts
Showing posts with label pilpres 2014. Show all posts

Thursday, July 24, 2014

Berita Pilpres: Jangan Mudah Dihasut Sebuah Situs di Internet


Hingar-bingar politik khususnya Pilpres 2014 sangat terasa. Pengumuman hasil rekapitulasi Pilpres sudah diumumkan. Pasangan Jokowi – JK unggul dengan 53.15% suara sementara Prabowo – Hatta dengan 46,85% suara. Angka ini tentu sangat frontal untuk masing-masing kubu terutama kubu Prabowo – Hatta. Komposisi kedua kubu hampir imbang. Pihak Prabowo – Hatta mengumumkan, menarik diri dari Pilpres. Entah apa yang dimaksud dengan menarik diri.

Jika ditafsirkan menarik diri secara keseluruhan proses Pilpres, otomatis semua suara dan dukungan kepada pasangan Prabowo – Hatta gugur. Namun tentu saja ini tidak bisa karena ini inkonstitusional. Pihak Prabowo – Hatta telah memenuhi unsur pencalonan serta melewati proses pemungutan suara, hanya tinggal menunggu pengumuman hasil penghitungan suara. Hal ini kemudian menimbulkan pergerekan di arus bawah.
Para pendukung Prabowo – Hatta juga akhirnya ikut-ikutan gusar dan terus mencari hal serta celah untuk dijadikan alasan kekalahan dan mencari kesalahan atau dugaan kesalahan yang dilakukan oleh penyelenggara maupun lawannya.

Para pendukung di lapis bawah juga tak kalah serunya saling klaim dan saling unjuk data. Semisal: data yang konon dimiliki oleh TNI mengenai hasil rekap real count sebesar 54% untuk Prabowo – Hatta, dugaan adanya hubungan saudara antara istri Husni Kamil Malik (Ketua KPU) dengan istri Jusuf Kalla. Namun semua itu masih semu dan kabur, tidak ada bukti real atas beberapa hal yang diduga menjadi penyebab terjadinya kecurangan yang kemudian memenangkan pasangan Jokowi – JK.

Sementara itu kubu pendukung Jokowi – JK juga sibuk “menagih” janji kepada beberapa orang yang bernazar aneh sebelum hasil pemilu diumumkan. Salah satunya adalah nazar yang diyakini banyak orang merupakan tulisan Ahmad Dhani di Twitter yang menyebutkan akan memotong kemaluannya jika bukan Prabowo Subianto yang jadi presiden. Meski kemudian suami Mulan Jameela ini membantah, namun publik sudah menjadikan hal ini sebagai bahan bullying. Dan masih banyak lagi pergesekan lapis bawah akibat hal-hal seperti ini.

Tragisnya, banyak kalangan lapis bawah yang begitu mudahnya dihasut oleh berita-berita hoax, opini, penggiringan opini serta blog yang menggunakan tampilan serta gaya sebuah berita. Sebut saja SuaraNews.com. Situs ini merupakan sebuah situs berita copy paste, mengambil sumber di tempat lain, dimodifikasi lalu disebarluaskan. Kegigihan pengelola situs ini cukup perlu untuk diacungi jempol, sangat up date. Hanya saja beritanya tidak berimbang.

Satu hal yang mengusik rasa penasaran saya adalah, situs ini didevelope hanya dengan sebuah blog gratisan dari Blogspot/Blogger/Google. SuaraNews.com hanya bermodalkan sebuah domain saja dengan menggunakan hosting gratis seperti halnya dipakai oleh banyak blogger seperti saya. Template yang dipakai oleh SuaraNews.com juga gratisan. Artinya, untuk membuat sebuah SuaraNews.com hanya dibutuhkan sekitar Rp. 87.000 – Rp. 120.000 pertahun guna menyewa domain. Template dan hostingnya mengikut ke Blogger. Menurut saya sangat naif jika sebuah situs dapat dipercaya hanya dengan modal segitu.
Hal lain yang membuat saya tertarik menguliti SuaraNews.com adalah tata bahasa serta redaksionalnya. Standar penulisan yang dipakai oleh SuaraNews.com jauh dari kaidah sebuah berita. Sebuah berita wajib memiliki konten 5W + 1H. What, When, Where, Why, Who dan How.

Situs lain yang juga menurut saya tidak fair adalah Voa-Islam.com. Situs ini lebih banyak membuat artikel yang muatannya cenderung menggiring opini. Saya lebih mantap mengatakan bahwa Voa-Islam.com adalah sebuah blog, bukan situs berita.
Masih banyak lagi situs-situs di internet yang memiliki kesamaan absurd-nya dengan beberapa situs tadi. Belum lagi situs blogging Kompasiana. Banyak orang menyematkan tulisan yang berasal dari Kompasiana ke akun sosial media mereka. Kompasiana adalah sebuah situs group blogging. Penulisnya adalah kita-kita, bukan sebuah lembaga pemberitaan. Saya juga punya akun di Kompasiana dengan beberapa tulisan. Semua tulisan adalah tanggung jawab si penulis. Jadi si penulis bisa mengirimkan tulisan apa saja, termasuk penggiringan opini atau data yang menyesatkan. Memang, jika dirasa sangat menggganggu, admin Kompasiana akan menghapus tulisan tersebut.

Tuesday, July 8, 2014

Elektabilitas dan Popularitas Capres di Hari Terakhir Masa Tenang






Suhu menjelang Pilpres 2014 semakin memanas. Meski sudah memmasuki hari tenang dan akan dilakukan pencoblosan besok, tetapi temperatur politik di akar rumput justru semakin meningkat. Meskipun KPU menetapkan hari tenang namun ini tidak berlaku di dunia maya. Justru “pertarungan” sengit para pendukung dan relawan kedua capres-cawapres semakin menjadi. Sejauh ini tidak ada larangan dari pemerintah mengenai kampanye dan aktifitas sosialisasi capres-cawapres di dunia maya. Tak pelak, jejaring sosial dipenuhi aktifitas kampanye, mulai yang #kampanyeadem hingga saling serang dan saling bully. Bukan hanya itu, masing-masing kubu memberikan data serta informasi yang saling menyesatkan serta mempropaganda. Bagi Indonesia, ini adalah pembelajaran politik tingkat lanjut jika dibanding Pemilu sebelumnya.
Mengenai tingkat elektabilitas kedua pasangan, terjadi fluktuasi yang sangat signifikan. Lalu, bagaimana mengukur elektabilitas di hari terakhir masa tenang? Inilah temuan-temuan kecil saya pagi ini.
1.    Survey
·       Institut Survey Indonesia (ISI) mencatat hingga tanggal 1 Juli, Prabowo-Hatta  unggul dari Jokowi-JK. Persentase pasangan yang diusung partai Koalisi Merah Putih itu mencapai 40,15%. Sementara Jokowi-JK sebesar 35,05%. Sedangkan warga Indonesia yang belum menentukan pilihan, sebesar 24,80%. Demikian menurut ISI.
·       Pengamat politik dari LIPI punya catatan lain. "Bahwa Pak Jokowi ini melangkah kakinya itu dengan luar biasa, bawa point besar, ibarat orang mau main, apa modalnya sudah besar? Karena selalu on the top," ujar pengamat politik LIPI Siti Zuhro saat menghadiri diskusi di Posko Pemenangan JKW4P, Jalan Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, rabu, (2/7/2014).
·       Sementara itu, survei yang dilakukan perusahaan riset pasar Australia, Roy Morgan, menunjukkan Jokowi-JK unggul 4% di atas Prabowo-Hatta. Survei yang menggunakan 3.117 sampel itu menyimpulkan elektabilitas Jokowi 52% sedang Prabowo 48%. Selain itu, survei tersebut juga memetakan kelompok-kelompok pemilih 2 pasangan capres dan cawapres tersebut. Dari segi geografis, Jokowi unggul di Jawa (52,5 -47,5%), Bali (93% - 7%), Sulawesi (60.5% - 39.5%), Kalimantan (53% - 45%), Maluku (65.5% - 34.5%), dan Nusa Tenggara (68% -32%). Sementara, Prabowo di  Sumatera (60% - 40%) dan unggul tipis di Papua (51,5% - 48.5%). Dari survei tersebut nampak pertarungan sengit terjadi di Jawa, pulau yang paling banyak pemilihnya (40%).
·       Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) juga telah melakukan survey sendiri. "Tim kami secara internal melakukan survei, menelaah terus tiap pergerakan Pak Jokowi dan Pak Jusuf Kalla. Kami juga mencermati 19 hasil survei lembaga yang kami anggap independen. Mayoritas masih mengunggulkan Jokowi-JK. Ada yang 4% sampai 5%, ada yang 7% sampai 14% persen," ujar Tjahjo Kumolo di Kantor KPU, Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, selasa, (1/7/2014).  Terkait survei Lembaga Survei Nasional (LSN) yang menyatakan elektabilitas pasangan Prabowo-Hatta unggul 46,6% dibanding Jokowi-JK dengan elektabilitas 39,9%, Tjahjo menilai survei tersebut dilakukan saat kampanye hitam terhadap Jokowi begitu marak.
Begitulah beberapa sampel hasil survey. Masih banyak hasil survey lain yang bisa ditelaah. Tetapi pada dasarnya angka-angka hasil survey tersebut menunjukkan persaingan yang sangat ketat. Angka selisih ada di kisaran 5%, baik itu unggul atas Jokowi atau sebaliknya.

2.    Online Sentimeter (Alat Pengukur Sentimen di Dunia Maya)
Beberapa waktu lalu kita disuguhi berita mengenai perbedaan sentimen di Google Fight yang dirilis sebuah stasiun televisi swasta. Google Fight adalah sebuah sentimeter berbasis Search Engine Google yang mengukur jumlah sentimen/mention/bahasan/sebutan/tautan atau apa saja yang bisa direkam oleh mesin pencari lalu disuguhkan dalam bentuk angka.
 
          Anda bisa melakukannya sendiri dengan cara mengklik www.googlefight.com dan hasil pagi ini adalah seperti berikut ini. Jokowi dengan 9.970.000 dan Prabowo 9.360.000. Angka ini sangat jauh jika dibandingkan result di situs yang sama sebulan lalu. Saat itu, Prabowo jauh tertinggal oleh Jokowi. Sementara angka untuk cawapres, Jusuf Kalla 1.320.000, jauh meninggalkan Hatta Rajasa yang hanya 435.000.

          Sentimeter ini tidak bisa dianggap sepele. Jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 82 juta orang dari 253.609.643 total jumlah penduduk. 80 persen dari pengguna internet di Indonesia dalam rentang usia pemilih, sehingga angka statistik di sentimeter ini cukup perlu diperhitungkan.

          Sentimeter lain yang saya pakai pagi ini adalah aplikasi dari MindTalk. MindTalk adalah jejaring sosial asli Indonesia. Jejaring sosial berbasis interest ini besutan Danny Oey dan Obin Marufi, founder antivirus Ansav. Obin membuat aplikasi bernama Sentigram. Anda bisa membukanya di http://sentigram.mindtalk.com. Data yang diproses di sentigram ini berasal dari Facebook, Twitter, Mindtalk, Kaskus, Detik dan Kompasiana. Di Sentigram kita bisa melihat sentimen baik positif maupun negatif atas calon presiden Indonesia.


3.    Quick Count
Quick Count atau hitung cepat ini baru bisa diketahui besok. Biasanya tingkat akurasinya adalah tiga jam setelah penghitungan suara.
4.    Rekapitulasi KPU.
Rekapitulasi KPU atas hasil Pilpres adalah hasil final dan resmi yang digunakan oleh negara dalam menetapkan siapa presiden RI periode selanjutnya. Namun karena masyarakat sudah menerima “hasil” dari Quick Count, maka selebrasi kemenangan di pihak pemenang Pilpres tidaklah seberapa.

Demikian ulasan saya,
@AntoOkesip
@MyOkesip

Saturday, February 23, 2013

Pidato Lengkap Pengunduran Diri Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat



Anas Urbaningrum resmi menyatakan mundur dari jabatan Ketua Umum Partai Demokrat setelah ditetapkan sebagai tersangka korupsi. Pengunduran diri Anas dilakukan di depan wartawan di kantor DPP Partai Demokrat, Sabtu 23 Februari 2013. Berikut ini isi pidatonya:

Pertama saya sampaikan terimakasih dan selamat datang khususnya rekan-rekan wartawan di kantor DPP Partai Demokrat. Hari ini saya akan menyampaikan sikap, pikran dan pandangan menyangkut stautus saya dan apa-apa yang akan saya lakukan ke depan. 
 
Seperti diketahui bersama kemarin, tanggal 22 Februari 2013 KPK sudah mengumumkan bahwa saya dinyatakan berstatus tersangka. Atas pengumuman KPK itu, saya menyatakan bahwa saya akan mengikuti proses hukum sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang berlaku, karena saya masih percaya bahwa lewat proses hukum yang adil, obyektif dan transparan kebenaran dan keadilan bisa saya dapatkan. 

Saya garis bawahi, saya masih percaya lewat proses hukum yang adil, obyektif dan transparan berdasarkan kriteria-kriteria dan tata laksana yang memenuhi standar saya yakin kebenaran dan keadilan masih bisa ditegakkan. Karena saya percaya, negeri kita ini berdasarkan hukum dan keadilan bukan berdasarkan prinsip kekuasaan. 

Yang kedua, saudara-saudara sekalian. Lewat proses hukum yang obyektif dan transparan itu saya akan melakukan pembelaan hukum sebaik-sebaiknya. Dan lewat proses pembelaan hukum sebaik-sebaiknya itu berdasarkan bukti-bukti dan saksi-saksi yang kredible saya menyakini betul sepenuh-penuhnya bahwa saya tidak terlibat di dalam proses pelanggaran hukum yang disebut sebagai proyek Hambalang itu. 

Ini saya tegaskan, karena sejak awal saya punya keyakinan yang penuh tentang tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar itu. Saya menyakini bahwa kebenaran dan keadilan pangkatnya lebih tinggi dari fitnah dan rekayasa. Kebenaran dan keadilan akan muncul dan mengalahkan fitnah serta rekayasa sekuat apapun rekayasa itu dibangun. Sehebat apapun itu dibangun. Serapih apapun itu dijalankan. Itu keyakinan saya. 

Saudara-saudara sekalian, saya ingin sampaikan sejak awal saya menyakini bahwa saya tidak akan punya status hukum di KPK. Mengapa? Karena saya yakin KPK bekerja independen, mandiri, dan profesional. Karena saya yakin KPK tidak bisa ditekan oleh opini dan oleh hal-hal lain di luar opini, termasuk tekanan dari kekuatan-kekuatan sebesar apapun itu. 

Saya baru mulai berpikir saya akan punya status hukum di KPK ketika ada semacam desakan agar KPK segera memperjelas status hukum saya. Kalau benar katakan benar kalau salah katakan salah. Ketika ada desakan seperti itu, saya baru mulai berpikir jangan-jangan saya menjadi yakin saya akan menjadi tersangka di KPK setelah saya dipersilahkan untuk lebih fokus berkonsentrasi menghadapi masalah hukum di KPK. 

Ketika saya dipersilahkan untuk lebih fokus menghadapi masalah hukum di KPK berarti saya sudah divonis punya status hukum. Status hukum yang dimaksud tentu adalah tersangka. Apalagi saya tahu beberapa petinggi Partai Demokrat yakin betul, haqqul yakin pasti minggu ini Anas menjadi tersangka. 

Rangkaian ini pasti tidak bisa dipisahkan dengan bocornya apa yang disebut sebagai Sprindik. Ini satu rangkaian peristiwa yang pasti tidak bisa dipisahkan. Itu satu rangkaian peristiwa yang utuh sama sekali utuh, sama sekali terkait dengan sangat erat. Itulah faktanya, itulah rangkaian kejadiannya dan tidak butuh pencermatan yang telalu canggih untuk mengetahui rangkaian itu. Bahkan masyarakat umum pun dengan mudah dan mencermati itu. 

Saudara-saudara sekalian, kalau mau ditarik agak jauh ke belakang, sesungguhnya ini pasti terkait dengan kongres Partai Demokrat. Saya tidak ingin cerita panjang, pada waktunya saya akan cerita lebih panjang. Tetapi inti dari kongres itu, ibarat bayi yang lahir, Anas adalah bayi yang lahir tidak diharapkan. Tentu rangkaiannya menjadi panjang. Dan rangkaian itu saya rasakan saya alami dan menjadi rangkaian peristiwa politik dan peristiwa organisasi di Partai Demokrat. Pada titik ini, saya belum akan menyampaikan secara rinci. Tetapi pada konteks yang jelas menyangkut rangkaian peristiwa-peristiwa politik itu. 

Saudara-saudara sekalian, ketika saya memutuskan terjun ke dunia politik dan saya masuk menjadi kader Partai Demokrat saya sadar betul bahwa politik kadang-kadang keras dan kasar. Dalam dunia politik tidak sulit untuk menemukan intrik, fitnah dan serangan-serangan. Itu saya sadari sejak awal dan karena itu saya tahu persis konsekuensi-konsekuensinya, ketika saya tahu persis konsekuensi-konsekuensinya maka saya sampaikan saya tidak akan pernah mengeluh dengan keadaan ini, saya tidak akan pernah mengeluh tentang perkembangan situasi ini dan saya punya keyakinan kuat dan semangat untuk terus menghadapinya termasuk dengan resiko dan konsekuensi. Sekali lagi itu hal yang lazim saja. Saya anggap sebagai sebuah kelaziman, tidak ganjil, tidak aneh apalagi di dalam sistem politik demokrasi kita yang masih muda, termasuk di Partai Demokrat yang juga tradisinya masih muda. 

Saudara-saudara sekalian, karena saya sudah punya status hukum tersangka, meskipun saya yakin bahwa posisi tersangka saya itu lebih karena faktor-faktor non hukum yang saya yakini, tetapi saya punya standar ethik pribadi. Standar ethik pribadi saya adalah mengatakan, kalau saya punya status hukum sebagai tersangka maka saya akan berhenti sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Ini bukan soal jabatan dan posisi, ini soal standar ethik. Standar ethik pribadi saya itu alhamdulillah kemudian cocok dengan Pakta Integritas yang diterapkan di Partai Demokrat. Saya sendiri, di tempat ini beberapa hari yang lalu, seminggu yang lalu kurang lebih sudah menandatangani Pakta Integritas. Dengan atau tanpa Pakta Integritas pun, standar ethik pribadi saya mengatakan hal seperti itu. Saya berhenti sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. 

Terkait dengan itu, saya ingin menyampaikan terimakasih, terimakasih yang tulus kepada kader-kader Partai Demokrat yang telah memberikan kepercayaan, amanah dan mandat politik kepada saya untuk memimpin Partai Demokrat sebagai Ketua Umum periode 2010-2015. Saya mohon maaf, kalau saya berhenti di awal 2013 ini. Saya tidak merencanakan untuk berhenti tahun 2013. Sejauh perjalanan yang saya tempuh saya jalankan, saya tunaikan sebagai ketua umum sepenuhnya saya bersungguh-sungguh menjalankan mandat dan amanat politik itu.
Tentu ada ada kelebihan dan kekurangannya. Tentu ada capaian prestasi dan masih ada bolong-bolongnya, ada lubang-lubangnya. Tetapi saya ingin menegaskan semua itu saya jalani dengan sungguh-sungguh, serius penuh konsentrasi, karena itu bagian panggilan jiwa politik saya dan alhamdulillah saya bersyukur di dalam proses menunaikan tugas kurang lebih hampir tiga tahun ini, dua setengah tahun lebih semuanya saya jalankan, sekali lagi dengan penuh kesungguhan dan konsentrasi. 

Terimakasih kepada kader-kader Partai Demokrat yang selama ini sama-sama menunaikan menjalankan tugas sesuai dengan kewenangan, otoritas dan tugas masing-masing. Pengurus Dewan Pusat, terimakasih, pengurus DPD terimakasih, pengurus DPC terimakasih, kader-kader di seluruh Indonesia terimakasih, Majelis Tinggi saya sampaikan terimakasih, Dewan Pembina saya sampaikan terimakasih, Dewan Kehormatan saya sampaikan terimakasih, Komisi Pengawas saya sampaikan terimakasih. 

Ringkas kalimat saya menyampaikan terimakasih kepada semuanya yang selama ini bersama-sama menjalankan tugas. Meskipun saya sudah berhenti menjadi Ketua Umum, saya akan tetap menjadi sahabat bagi kader-kader Partai Demokrat. Saya ketika melepas jabatan atau posisi Ketua Umum tentu tidak punya kewenangan organisatoris karena sudah saya lepas. Tetapi saya bisa menjaminkan satu hal yang hemat saya penting yaitu ketulusan, persahabatan dan persaudaraan. Saya jaminkan ketulusan, persahabatan dan persaudaraan itu kepada kader-kader Partai Demokrat di seluruh Indonesia apapun nanti tugas, langkah yang akan saya tempuh termasuk apakah saya ada di luar atau ada di dalam, apakah saya menjalani proses hukum, apakah proses hukumnya berjalan dengan adil, obyektif dan transparan atau tidak. 

Tetapi saya menyatakan, menegaskan, menggarisbawahi bahwa saya menjaminkan ketulusan, persahabatan dan persaudaraan. Loyalitas sebagai sahabat yang selama ini kita bangun bersama itu bagian yang indah dan menyegarkan di dalam dinamika organisasi politik partai yang kadang-kadang agak keras, dan panas. Semuanya itu punya makna yang luar biasa. Karena itulah saya yakin betul bahwa saya tetap akan berkomunikasi sebagai sahabat dengan kader-kader Partai Demokrat di seluruh Indonesia. Tidak dalam posisi sebagai Ketua Umum tetapi dalam posisi sebagai teman dan sahabat. 

Saya juga berharap, siapapun yang nanti menjadi Ketua Umum Partai Demokrat bisa untuk menunaikan tugas bahkan jauh lebih baik dengan apa yang sudah saya tunaikan bersama teman-teman pengurus selama ini. Saya yakin pasti akan datang Ketua Umum yang lebih baik. Saya percaya itu, karena sejarah selalu melahirkan pemimpin pada waktunya. 

Selanjutnya saudara-saudara sekalian, apa yang akan saya lakukan ke depan adalah tetap dalam kerangka memberikan kontribusi dan menjaga momentum bagi perbaikan, peningkatan, dan penyempurnaan kualitas demokrasi di Indonesia. Apapun kondisi dan keadaan saya. Kondisi dan keadaan saya itu bukan faktor. Faktornya yang penting adalah bahwa saya akan tetap bersama-sama di dalam sebuah ikhtiar untuk membuat Indonesia ke depan makin baik dan makin bagus. Hari-hari ini dan ke depan akan diuji pula bagaimana etika Partai Demokrat. Partai yang etikanya bersih, cerdas dan santun. 

Akan diuji oleh sejarah, apakah Partai Demokrat adalah partai yang bersih atau partai yang tidak bersih, partai yang bersih atau partai yang korup akan diuji partai yang cerdas atau partai yang tidak cerdas, partai yang solutif menawarkan gagasan-gagasan cerdas dan bernas untuk masa depan bangsa atau partai yang tidak seperti itu, juga diuji apakah Demokrat akan menjadi partai yang santun atau partai yang sadis. Apakah yang terjadi kesantunan politik atau sadisme politik. Ujian itu akan berjalan sesuai dengan perkembangan waktu dan keadaan. 

Tetapi yang paling penting saya garisbawahi adalah bahwa tidak ada kemarahan dan kebencian. Kemarahan dan kebencian itu jauh dari rumus politik yang saya anut. Dan mudah-mudahan juga dianut oleh siapapun kader-kader Partai Demokrat. Diatas segalanya saudara-saudara sekalian, saya ingin menyatakan barangkali ada yang berpikir bahwa ini adalah akhir dari segalanya, barangkali ada yang meramalkan dan menyimpulkan ini adalah akhir dari segalanya. 

Hari ini saya nyatakan ini baru permulaan, hari ini saya nyatakan ini baru sebuah awal langkah-langkah besar, hari ini saya nyatakan bahwa ini baru halaman pertama. Masih banyak halaman-halalaman berikutnya yang akan kita buka dan baca bersama tentu untuk kebaikan kita bersama. Saya sekali lagi dalam kondisi apapun akan tetap berkomitmen, berikhtiar untuk memberikan sesuatu yang berharga bagi masa depan politik kita, bagi masa depan demokrasi kita.
Jadi, ini bukan tutup buku. Ini pembukaan buku halaman pertama. Saya yakin halaman-halaman berikutnya akan makin bermakna bagi kepentingan kita bersama. Inilah saudara-saudara sekalian beberapa hal yang ingin saya sampaikan pada kesempatan siang hari ini, saya tentu akan terus menjadi sahabat, teman-teman sekalian karena banyak buku yang akan kita baca bersama. 

Buku-buku itu jangan dipahami dalam perspektif ngeres, tetapi dalam perspektif positif dan konstruktif, dalam perspektif kebaikan dan kemashlahatan yang lebih besar. Kebaikan dan kemashlahatan yang lebih besar itulah yang menjadi titik orientasi kita. 

Sekali lagi, terimakasih atas kehadiran rekan-rekan sekalian, saya bisa lebih panjang, tapi kalau saya panjangkan nanti terlalu banyak yang harus diberitakan.
Sunandar - Pedoman NEWS
image

Brand Development

Saya adalah blogger, penulis, citizen journalist sekaligus praktisi marketing. Konsultan pengembangan merek, penyusunan sistem franchise. Trainer marketing, sales dan online advertising

image

Web Development

Anda butuh website atau blog pribadi? Untuk pengembangan usaha, LSM, organisasi, sekolah, toko online atau perusahaan Anda? Silahkan hubungi saya 0812-2222-0750 atau kirim email ke mr.antowiyono@gmail.com