Pemilihan Gubernur Jawa Barat baru saja usai. Sejumlah
lembaga survey tampak telah menyodorkan hasil perhitungan cepat-nya
masing-masing. Hasilnya, Ahmad Heryawan mengungguli pasangan lain. Membuntut
ketat di belakanganya adalah pasangan Rieke Diah Pitaloka dan Teten Masduki
yang diusung PDI Perjuangan. Quick count Lingkaran
Survei Indonesia (LSI), Ahmad Heryawan unggul dengan 33,14 persen dengan margin of eror +-1. Ini memang
bukan hitungan resmi. Sebab hitungan resmi itu dilakukan KPUD Jawa Barat.
Baik calon yang mendapatkan suara unggul maupun yang
bersuara rendah, masing-masing memberikan keterangannya kepada sejumlah media.
Pada intinya adalah ucapan terimakasih telah menggunakan hak pilihnya.
Namun ada yang mengganjal pikiran saya ketika membaca hasil wawancara
VIVAnews dengan Ahmad Heryawan (Aher), sesaat setelah menyaksikan hasil hitung
cepat bersama para pendukungnya di Hotel Papandayan, Bandung, Minggu 24
Februari 2013. Dia menyebut, kemenangan ini bukanlah karena dia adalah kader
Partai Keadilan Sejahtera. Aher menegaskan bahwa pemilihan kepala daerah tidak
terkait dengan kader partai dan kepartaian.
“Mereka memilih saya sebagai gubernur, bukan melihat saya
sebagai kader partai. Masyarakat memahami permasalahan internal partai tidak
berhubungan dengan saya sebagai calon gubernur. Antara figur gubernur dengan
partai itu terpisah. Permasalahan internal partai hanya berpengaruh sedikit
dalam pencalonan saya,” tandasnya kepada VIVAnews.
Bagi saya ini adalah sebuah pernyataan yang menjauhkan diri
Aher dengan rasa terimakaksih kepada para pemilih terutama warga Partai
Keadilan Sejahtera (PKS). Meski saya bukanlah anggota PKS, namun hal ini
menunjukkan sedikit “kesombongan” Aher terhadap warga PKS. Seharusnya Aher juga
memberikan ucapan terimakasih kepada warga PKS yang tetap mendukung dia maju
sebagi gubernur Jawa Barat.
Apapun lah. Termasuk popularitas Dedy Mizwar juga menjadi
catatan penting di tengah isu adanya dugaan korupsi yang dilakukan oleh Aher di
Bank Jabar Banten.
Wallahu a’lam
