Showing posts with label politik. Show all posts
Showing posts with label politik. Show all posts

Thursday, July 24, 2014

Berita Pilpres: Jangan Mudah Dihasut Sebuah Situs di Internet


Hingar-bingar politik khususnya Pilpres 2014 sangat terasa. Pengumuman hasil rekapitulasi Pilpres sudah diumumkan. Pasangan Jokowi – JK unggul dengan 53.15% suara sementara Prabowo – Hatta dengan 46,85% suara. Angka ini tentu sangat frontal untuk masing-masing kubu terutama kubu Prabowo – Hatta. Komposisi kedua kubu hampir imbang. Pihak Prabowo – Hatta mengumumkan, menarik diri dari Pilpres. Entah apa yang dimaksud dengan menarik diri.

Jika ditafsirkan menarik diri secara keseluruhan proses Pilpres, otomatis semua suara dan dukungan kepada pasangan Prabowo – Hatta gugur. Namun tentu saja ini tidak bisa karena ini inkonstitusional. Pihak Prabowo – Hatta telah memenuhi unsur pencalonan serta melewati proses pemungutan suara, hanya tinggal menunggu pengumuman hasil penghitungan suara. Hal ini kemudian menimbulkan pergerekan di arus bawah.
Para pendukung Prabowo – Hatta juga akhirnya ikut-ikutan gusar dan terus mencari hal serta celah untuk dijadikan alasan kekalahan dan mencari kesalahan atau dugaan kesalahan yang dilakukan oleh penyelenggara maupun lawannya.

Para pendukung di lapis bawah juga tak kalah serunya saling klaim dan saling unjuk data. Semisal: data yang konon dimiliki oleh TNI mengenai hasil rekap real count sebesar 54% untuk Prabowo – Hatta, dugaan adanya hubungan saudara antara istri Husni Kamil Malik (Ketua KPU) dengan istri Jusuf Kalla. Namun semua itu masih semu dan kabur, tidak ada bukti real atas beberapa hal yang diduga menjadi penyebab terjadinya kecurangan yang kemudian memenangkan pasangan Jokowi – JK.

Sementara itu kubu pendukung Jokowi – JK juga sibuk “menagih” janji kepada beberapa orang yang bernazar aneh sebelum hasil pemilu diumumkan. Salah satunya adalah nazar yang diyakini banyak orang merupakan tulisan Ahmad Dhani di Twitter yang menyebutkan akan memotong kemaluannya jika bukan Prabowo Subianto yang jadi presiden. Meski kemudian suami Mulan Jameela ini membantah, namun publik sudah menjadikan hal ini sebagai bahan bullying. Dan masih banyak lagi pergesekan lapis bawah akibat hal-hal seperti ini.

Tragisnya, banyak kalangan lapis bawah yang begitu mudahnya dihasut oleh berita-berita hoax, opini, penggiringan opini serta blog yang menggunakan tampilan serta gaya sebuah berita. Sebut saja SuaraNews.com. Situs ini merupakan sebuah situs berita copy paste, mengambil sumber di tempat lain, dimodifikasi lalu disebarluaskan. Kegigihan pengelola situs ini cukup perlu untuk diacungi jempol, sangat up date. Hanya saja beritanya tidak berimbang.

Satu hal yang mengusik rasa penasaran saya adalah, situs ini didevelope hanya dengan sebuah blog gratisan dari Blogspot/Blogger/Google. SuaraNews.com hanya bermodalkan sebuah domain saja dengan menggunakan hosting gratis seperti halnya dipakai oleh banyak blogger seperti saya. Template yang dipakai oleh SuaraNews.com juga gratisan. Artinya, untuk membuat sebuah SuaraNews.com hanya dibutuhkan sekitar Rp. 87.000 – Rp. 120.000 pertahun guna menyewa domain. Template dan hostingnya mengikut ke Blogger. Menurut saya sangat naif jika sebuah situs dapat dipercaya hanya dengan modal segitu.
Hal lain yang membuat saya tertarik menguliti SuaraNews.com adalah tata bahasa serta redaksionalnya. Standar penulisan yang dipakai oleh SuaraNews.com jauh dari kaidah sebuah berita. Sebuah berita wajib memiliki konten 5W + 1H. What, When, Where, Why, Who dan How.

Situs lain yang juga menurut saya tidak fair adalah Voa-Islam.com. Situs ini lebih banyak membuat artikel yang muatannya cenderung menggiring opini. Saya lebih mantap mengatakan bahwa Voa-Islam.com adalah sebuah blog, bukan situs berita.
Masih banyak lagi situs-situs di internet yang memiliki kesamaan absurd-nya dengan beberapa situs tadi. Belum lagi situs blogging Kompasiana. Banyak orang menyematkan tulisan yang berasal dari Kompasiana ke akun sosial media mereka. Kompasiana adalah sebuah situs group blogging. Penulisnya adalah kita-kita, bukan sebuah lembaga pemberitaan. Saya juga punya akun di Kompasiana dengan beberapa tulisan. Semua tulisan adalah tanggung jawab si penulis. Jadi si penulis bisa mengirimkan tulisan apa saja, termasuk penggiringan opini atau data yang menyesatkan. Memang, jika dirasa sangat menggganggu, admin Kompasiana akan menghapus tulisan tersebut.

Wednesday, July 9, 2014

Saya Pernah Jadi Sekretaris Partai, Tim Sukses Caleg, Anggota KPPS dan Golput Sekaligus.



Sharing pengalaman.

Sewaktu masih tinggal di Pati, saya menjabat sebagai seorang Sekretaris PAC sebuah partai politik (sekarang sudah almarhum partainya). Selain itu, saya juga anggota tim suskes caleg partai lain, kebetulan calegnya bulik saya sendiri, meski kemudian kalah.

Pada saat Pemilu Legislatif 2009, saya ditunjuk sebagai anggota KPPS, karena kebetulan saya juga sekretaris RT tempat saya tinggal.

Tapi uniknya, karena tidak ada satupun calon anggota dewan baik untuk daerah maupun pusat yang menurut saya "sreg", sampai selesai waktu pemungutan suara, saya tetap golput alias tidak mencoblos satupun calon legislatif. Saya hanya masuk ke bilik suara untuk melipat ulang surat suara tanpa memilih satupun diantaranya.

Lalu apa motivasi saya atas semua itu?
Menjadi pengurus partai politik atas ajakan seorang saudara, dan saya juga ingin belajar berorganisasi. Saya kecewa dengan pengurus partai tersebut di daerah karena sejak saya dilantik hingga partai tersebut bubar, saya tidak pernah diajak komunikasi oleh pimpinan daerah level apapun, apalagi kampanye atau membahas saksi dsb.

Menjadi tim sukses caleg, selain karena saudara sendiri calegnya, saya juga lagi-lagi ingin belajar berpolitik praktis, Meski hasilnya kemudian tidak terpilih, tapi saya jadi tahu tentang serangan fajar,a money politic, amplop berduit dll.

Menjadi anggota KPPS juga karena saya adalah pengurus RT, jadi mau tidak mau harus dilibatkan. Meski motivasi utamanya adalah honor Rp. 100.000 yang kemudian saya terima. Selain itu, saya juga belajar jadi Event Organizer. Untunglah, jabatan rangkap saya tersebut tidak diketahui Panwaslu :) 

Menjadi Golput adalah pilihan saya waktu itu. Dari  mengurus partai dan menjadi tim sukses caleg memberi saya banyak pelajaran bahwa politik itu menurut saya "abu-abu". Antara hitam dan putih.

Demikian sharing dari saya. Alhamdulillah, saya banyak belajar.

Tuesday, July 8, 2014

Elektabilitas dan Popularitas Capres di Hari Terakhir Masa Tenang






Suhu menjelang Pilpres 2014 semakin memanas. Meski sudah memmasuki hari tenang dan akan dilakukan pencoblosan besok, tetapi temperatur politik di akar rumput justru semakin meningkat. Meskipun KPU menetapkan hari tenang namun ini tidak berlaku di dunia maya. Justru “pertarungan” sengit para pendukung dan relawan kedua capres-cawapres semakin menjadi. Sejauh ini tidak ada larangan dari pemerintah mengenai kampanye dan aktifitas sosialisasi capres-cawapres di dunia maya. Tak pelak, jejaring sosial dipenuhi aktifitas kampanye, mulai yang #kampanyeadem hingga saling serang dan saling bully. Bukan hanya itu, masing-masing kubu memberikan data serta informasi yang saling menyesatkan serta mempropaganda. Bagi Indonesia, ini adalah pembelajaran politik tingkat lanjut jika dibanding Pemilu sebelumnya.
Mengenai tingkat elektabilitas kedua pasangan, terjadi fluktuasi yang sangat signifikan. Lalu, bagaimana mengukur elektabilitas di hari terakhir masa tenang? Inilah temuan-temuan kecil saya pagi ini.
1.    Survey
·       Institut Survey Indonesia (ISI) mencatat hingga tanggal 1 Juli, Prabowo-Hatta  unggul dari Jokowi-JK. Persentase pasangan yang diusung partai Koalisi Merah Putih itu mencapai 40,15%. Sementara Jokowi-JK sebesar 35,05%. Sedangkan warga Indonesia yang belum menentukan pilihan, sebesar 24,80%. Demikian menurut ISI.
·       Pengamat politik dari LIPI punya catatan lain. "Bahwa Pak Jokowi ini melangkah kakinya itu dengan luar biasa, bawa point besar, ibarat orang mau main, apa modalnya sudah besar? Karena selalu on the top," ujar pengamat politik LIPI Siti Zuhro saat menghadiri diskusi di Posko Pemenangan JKW4P, Jalan Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, rabu, (2/7/2014).
·       Sementara itu, survei yang dilakukan perusahaan riset pasar Australia, Roy Morgan, menunjukkan Jokowi-JK unggul 4% di atas Prabowo-Hatta. Survei yang menggunakan 3.117 sampel itu menyimpulkan elektabilitas Jokowi 52% sedang Prabowo 48%. Selain itu, survei tersebut juga memetakan kelompok-kelompok pemilih 2 pasangan capres dan cawapres tersebut. Dari segi geografis, Jokowi unggul di Jawa (52,5 -47,5%), Bali (93% - 7%), Sulawesi (60.5% - 39.5%), Kalimantan (53% - 45%), Maluku (65.5% - 34.5%), dan Nusa Tenggara (68% -32%). Sementara, Prabowo di  Sumatera (60% - 40%) dan unggul tipis di Papua (51,5% - 48.5%). Dari survei tersebut nampak pertarungan sengit terjadi di Jawa, pulau yang paling banyak pemilihnya (40%).
·       Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) juga telah melakukan survey sendiri. "Tim kami secara internal melakukan survei, menelaah terus tiap pergerakan Pak Jokowi dan Pak Jusuf Kalla. Kami juga mencermati 19 hasil survei lembaga yang kami anggap independen. Mayoritas masih mengunggulkan Jokowi-JK. Ada yang 4% sampai 5%, ada yang 7% sampai 14% persen," ujar Tjahjo Kumolo di Kantor KPU, Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, selasa, (1/7/2014).  Terkait survei Lembaga Survei Nasional (LSN) yang menyatakan elektabilitas pasangan Prabowo-Hatta unggul 46,6% dibanding Jokowi-JK dengan elektabilitas 39,9%, Tjahjo menilai survei tersebut dilakukan saat kampanye hitam terhadap Jokowi begitu marak.
Begitulah beberapa sampel hasil survey. Masih banyak hasil survey lain yang bisa ditelaah. Tetapi pada dasarnya angka-angka hasil survey tersebut menunjukkan persaingan yang sangat ketat. Angka selisih ada di kisaran 5%, baik itu unggul atas Jokowi atau sebaliknya.

2.    Online Sentimeter (Alat Pengukur Sentimen di Dunia Maya)
Beberapa waktu lalu kita disuguhi berita mengenai perbedaan sentimen di Google Fight yang dirilis sebuah stasiun televisi swasta. Google Fight adalah sebuah sentimeter berbasis Search Engine Google yang mengukur jumlah sentimen/mention/bahasan/sebutan/tautan atau apa saja yang bisa direkam oleh mesin pencari lalu disuguhkan dalam bentuk angka.
 
          Anda bisa melakukannya sendiri dengan cara mengklik www.googlefight.com dan hasil pagi ini adalah seperti berikut ini. Jokowi dengan 9.970.000 dan Prabowo 9.360.000. Angka ini sangat jauh jika dibandingkan result di situs yang sama sebulan lalu. Saat itu, Prabowo jauh tertinggal oleh Jokowi. Sementara angka untuk cawapres, Jusuf Kalla 1.320.000, jauh meninggalkan Hatta Rajasa yang hanya 435.000.

          Sentimeter ini tidak bisa dianggap sepele. Jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 82 juta orang dari 253.609.643 total jumlah penduduk. 80 persen dari pengguna internet di Indonesia dalam rentang usia pemilih, sehingga angka statistik di sentimeter ini cukup perlu diperhitungkan.

          Sentimeter lain yang saya pakai pagi ini adalah aplikasi dari MindTalk. MindTalk adalah jejaring sosial asli Indonesia. Jejaring sosial berbasis interest ini besutan Danny Oey dan Obin Marufi, founder antivirus Ansav. Obin membuat aplikasi bernama Sentigram. Anda bisa membukanya di http://sentigram.mindtalk.com. Data yang diproses di sentigram ini berasal dari Facebook, Twitter, Mindtalk, Kaskus, Detik dan Kompasiana. Di Sentigram kita bisa melihat sentimen baik positif maupun negatif atas calon presiden Indonesia.


3.    Quick Count
Quick Count atau hitung cepat ini baru bisa diketahui besok. Biasanya tingkat akurasinya adalah tiga jam setelah penghitungan suara.
4.    Rekapitulasi KPU.
Rekapitulasi KPU atas hasil Pilpres adalah hasil final dan resmi yang digunakan oleh negara dalam menetapkan siapa presiden RI periode selanjutnya. Namun karena masyarakat sudah menerima “hasil” dari Quick Count, maka selebrasi kemenangan di pihak pemenang Pilpres tidaklah seberapa.

Demikian ulasan saya,
@AntoOkesip
@MyOkesip

Friday, May 2, 2014

Kesamaan Antara Sukarno dan Jokowi




Ir. Sukarno, HM. Soeharto, BJ. Habibie, Ir. Joko Widodo lahir di bulan Juni. Sukarno meninggal pada tanggal 21 Juni, sama dengan tanggal lahir Jokowi. Dalam astrologi, Jokowi dan Sukarno memiliki zodiak Gemini.

Gemini adalah lambang kecerdasan, memiliki banyak akal. Komunikasi dan bahasa sangat penting bagi mereka. Mereka memiliki kemampuan berkembang dan belajar yang tinggi. Umumnya para Gemini tidak stabil, reaksi terhadap situasi ditentukan oleh mood mereka. Bagi Gemini, keragaman adalah penyedap kehidupan. Mereka menikmati hasil yang mereka capai lewat kerja keras mereka sendiri.

Gemini tidak menyukai rutinitas. Pengetahuan, pikiran yang cepat dan kepandaian jelas terlihat pada zodiak ini. Mereka mudah berubah-ubah. Simbol ini memiliki pesona alami dan energi karisma yang menarik semua zodiak. Mereka memiliki banyak ide yang dapat membuat kita tertarik, namun mereka cenderung cepat bosan jika mereka berada di sekitar orang yang tidak dapat mengikuti jalan pikiran mereka, dan cepat berpindah ke suatu tempat dimana orang di sekitarnya dapat mengikuti jalan pikiran mereka. Mereka biasa menikmati hidup mereka dan jarang melihat kembali ke belakang.

Sukarno dan Jokowi memiliki shio yang sama, Shio Kerbau. Orang Gemini yang bershio Kerbau mempunyai karakter mulia hatinya dan suka menolong. Soekarno dan Jokowi memiliki kesaman yang begitu erat bila dilihat dari setiap tindakan mereka. Soekarno begitu merakyat, begitu juga Jokowi. Yang membedakan hanya cara berpidatonya, Soekarno berapi-api, Jokowi lemah lembut. Tetapi, bila kita berbicara ketegasan, keduanya mempunyai ketegasan yang sama. Tegas pada hal yang benar dan berpihak pada rakyat. Bisa jadi, Jokowi adalah titisan Soekarno yang sesuai dengan jaman kekinianya. Tak perlu banyak bicara yang penting adalah tindakan.

Monday, February 25, 2013

Aher Melupakan Warga PKS


Pemilihan Gubernur Jawa Barat baru saja usai. Sejumlah lembaga survey tampak telah menyodorkan hasil perhitungan cepat-nya masing-masing. Hasilnya, Ahmad Heryawan mengungguli pasangan lain. Membuntut ketat di belakanganya adalah pasangan Rieke Diah Pitaloka dan Teten Masduki yang diusung PDI Perjuangan. Quick count Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Ahmad Heryawan unggul dengan 33,14 persen dengan margin of eror +-1. Ini memang bukan hitungan resmi. Sebab hitungan resmi itu dilakukan KPUD Jawa Barat.

Baik calon yang mendapatkan suara unggul maupun yang bersuara rendah, masing-masing memberikan keterangannya kepada sejumlah media. Pada intinya adalah ucapan terimakasih telah menggunakan hak pilihnya.

Namun ada yang mengganjal pikiran saya ketika membaca hasil wawancara VIVAnews dengan Ahmad Heryawan (Aher), sesaat setelah menyaksikan hasil hitung cepat bersama para pendukungnya di Hotel Papandayan, Bandung, Minggu 24 Februari 2013. Dia menyebut, kemenangan ini bukanlah karena dia adalah kader Partai Keadilan Sejahtera. Aher menegaskan bahwa pemilihan kepala daerah tidak terkait dengan kader partai dan kepartaian.

“Mereka memilih saya sebagai gubernur, bukan melihat saya sebagai kader partai. Masyarakat memahami permasalahan internal partai tidak berhubungan dengan saya sebagai calon gubernur. Antara figur gubernur dengan partai itu terpisah. Permasalahan internal partai hanya berpengaruh sedikit dalam pencalonan saya,” tandasnya kepada VIVAnews.

Bagi saya ini adalah sebuah pernyataan yang menjauhkan diri Aher dengan rasa terimakaksih kepada para pemilih terutama warga Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Meski saya bukanlah anggota PKS, namun hal ini menunjukkan sedikit “kesombongan” Aher terhadap warga PKS. Seharusnya Aher juga memberikan ucapan terimakasih kepada warga PKS yang tetap mendukung dia maju sebagi gubernur Jawa Barat.

Apapun lah. Termasuk popularitas Dedy Mizwar juga menjadi catatan penting di tengah isu adanya dugaan korupsi yang dilakukan oleh Aher di Bank Jabar Banten.
Wallahu a’lam

Saturday, February 23, 2013

Pidato Lengkap Pengunduran Diri Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat



Anas Urbaningrum resmi menyatakan mundur dari jabatan Ketua Umum Partai Demokrat setelah ditetapkan sebagai tersangka korupsi. Pengunduran diri Anas dilakukan di depan wartawan di kantor DPP Partai Demokrat, Sabtu 23 Februari 2013. Berikut ini isi pidatonya:

Pertama saya sampaikan terimakasih dan selamat datang khususnya rekan-rekan wartawan di kantor DPP Partai Demokrat. Hari ini saya akan menyampaikan sikap, pikran dan pandangan menyangkut stautus saya dan apa-apa yang akan saya lakukan ke depan. 
 
Seperti diketahui bersama kemarin, tanggal 22 Februari 2013 KPK sudah mengumumkan bahwa saya dinyatakan berstatus tersangka. Atas pengumuman KPK itu, saya menyatakan bahwa saya akan mengikuti proses hukum sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang berlaku, karena saya masih percaya bahwa lewat proses hukum yang adil, obyektif dan transparan kebenaran dan keadilan bisa saya dapatkan. 

Saya garis bawahi, saya masih percaya lewat proses hukum yang adil, obyektif dan transparan berdasarkan kriteria-kriteria dan tata laksana yang memenuhi standar saya yakin kebenaran dan keadilan masih bisa ditegakkan. Karena saya percaya, negeri kita ini berdasarkan hukum dan keadilan bukan berdasarkan prinsip kekuasaan. 

Yang kedua, saudara-saudara sekalian. Lewat proses hukum yang obyektif dan transparan itu saya akan melakukan pembelaan hukum sebaik-sebaiknya. Dan lewat proses pembelaan hukum sebaik-sebaiknya itu berdasarkan bukti-bukti dan saksi-saksi yang kredible saya menyakini betul sepenuh-penuhnya bahwa saya tidak terlibat di dalam proses pelanggaran hukum yang disebut sebagai proyek Hambalang itu. 

Ini saya tegaskan, karena sejak awal saya punya keyakinan yang penuh tentang tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar itu. Saya menyakini bahwa kebenaran dan keadilan pangkatnya lebih tinggi dari fitnah dan rekayasa. Kebenaran dan keadilan akan muncul dan mengalahkan fitnah serta rekayasa sekuat apapun rekayasa itu dibangun. Sehebat apapun itu dibangun. Serapih apapun itu dijalankan. Itu keyakinan saya. 

Saudara-saudara sekalian, saya ingin sampaikan sejak awal saya menyakini bahwa saya tidak akan punya status hukum di KPK. Mengapa? Karena saya yakin KPK bekerja independen, mandiri, dan profesional. Karena saya yakin KPK tidak bisa ditekan oleh opini dan oleh hal-hal lain di luar opini, termasuk tekanan dari kekuatan-kekuatan sebesar apapun itu. 

Saya baru mulai berpikir saya akan punya status hukum di KPK ketika ada semacam desakan agar KPK segera memperjelas status hukum saya. Kalau benar katakan benar kalau salah katakan salah. Ketika ada desakan seperti itu, saya baru mulai berpikir jangan-jangan saya menjadi yakin saya akan menjadi tersangka di KPK setelah saya dipersilahkan untuk lebih fokus berkonsentrasi menghadapi masalah hukum di KPK. 

Ketika saya dipersilahkan untuk lebih fokus menghadapi masalah hukum di KPK berarti saya sudah divonis punya status hukum. Status hukum yang dimaksud tentu adalah tersangka. Apalagi saya tahu beberapa petinggi Partai Demokrat yakin betul, haqqul yakin pasti minggu ini Anas menjadi tersangka. 

Rangkaian ini pasti tidak bisa dipisahkan dengan bocornya apa yang disebut sebagai Sprindik. Ini satu rangkaian peristiwa yang pasti tidak bisa dipisahkan. Itu satu rangkaian peristiwa yang utuh sama sekali utuh, sama sekali terkait dengan sangat erat. Itulah faktanya, itulah rangkaian kejadiannya dan tidak butuh pencermatan yang telalu canggih untuk mengetahui rangkaian itu. Bahkan masyarakat umum pun dengan mudah dan mencermati itu. 

Saudara-saudara sekalian, kalau mau ditarik agak jauh ke belakang, sesungguhnya ini pasti terkait dengan kongres Partai Demokrat. Saya tidak ingin cerita panjang, pada waktunya saya akan cerita lebih panjang. Tetapi inti dari kongres itu, ibarat bayi yang lahir, Anas adalah bayi yang lahir tidak diharapkan. Tentu rangkaiannya menjadi panjang. Dan rangkaian itu saya rasakan saya alami dan menjadi rangkaian peristiwa politik dan peristiwa organisasi di Partai Demokrat. Pada titik ini, saya belum akan menyampaikan secara rinci. Tetapi pada konteks yang jelas menyangkut rangkaian peristiwa-peristiwa politik itu. 

Saudara-saudara sekalian, ketika saya memutuskan terjun ke dunia politik dan saya masuk menjadi kader Partai Demokrat saya sadar betul bahwa politik kadang-kadang keras dan kasar. Dalam dunia politik tidak sulit untuk menemukan intrik, fitnah dan serangan-serangan. Itu saya sadari sejak awal dan karena itu saya tahu persis konsekuensi-konsekuensinya, ketika saya tahu persis konsekuensi-konsekuensinya maka saya sampaikan saya tidak akan pernah mengeluh dengan keadaan ini, saya tidak akan pernah mengeluh tentang perkembangan situasi ini dan saya punya keyakinan kuat dan semangat untuk terus menghadapinya termasuk dengan resiko dan konsekuensi. Sekali lagi itu hal yang lazim saja. Saya anggap sebagai sebuah kelaziman, tidak ganjil, tidak aneh apalagi di dalam sistem politik demokrasi kita yang masih muda, termasuk di Partai Demokrat yang juga tradisinya masih muda. 

Saudara-saudara sekalian, karena saya sudah punya status hukum tersangka, meskipun saya yakin bahwa posisi tersangka saya itu lebih karena faktor-faktor non hukum yang saya yakini, tetapi saya punya standar ethik pribadi. Standar ethik pribadi saya adalah mengatakan, kalau saya punya status hukum sebagai tersangka maka saya akan berhenti sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Ini bukan soal jabatan dan posisi, ini soal standar ethik. Standar ethik pribadi saya itu alhamdulillah kemudian cocok dengan Pakta Integritas yang diterapkan di Partai Demokrat. Saya sendiri, di tempat ini beberapa hari yang lalu, seminggu yang lalu kurang lebih sudah menandatangani Pakta Integritas. Dengan atau tanpa Pakta Integritas pun, standar ethik pribadi saya mengatakan hal seperti itu. Saya berhenti sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. 

Terkait dengan itu, saya ingin menyampaikan terimakasih, terimakasih yang tulus kepada kader-kader Partai Demokrat yang telah memberikan kepercayaan, amanah dan mandat politik kepada saya untuk memimpin Partai Demokrat sebagai Ketua Umum periode 2010-2015. Saya mohon maaf, kalau saya berhenti di awal 2013 ini. Saya tidak merencanakan untuk berhenti tahun 2013. Sejauh perjalanan yang saya tempuh saya jalankan, saya tunaikan sebagai ketua umum sepenuhnya saya bersungguh-sungguh menjalankan mandat dan amanat politik itu.
Tentu ada ada kelebihan dan kekurangannya. Tentu ada capaian prestasi dan masih ada bolong-bolongnya, ada lubang-lubangnya. Tetapi saya ingin menegaskan semua itu saya jalani dengan sungguh-sungguh, serius penuh konsentrasi, karena itu bagian panggilan jiwa politik saya dan alhamdulillah saya bersyukur di dalam proses menunaikan tugas kurang lebih hampir tiga tahun ini, dua setengah tahun lebih semuanya saya jalankan, sekali lagi dengan penuh kesungguhan dan konsentrasi. 

Terimakasih kepada kader-kader Partai Demokrat yang selama ini sama-sama menunaikan menjalankan tugas sesuai dengan kewenangan, otoritas dan tugas masing-masing. Pengurus Dewan Pusat, terimakasih, pengurus DPD terimakasih, pengurus DPC terimakasih, kader-kader di seluruh Indonesia terimakasih, Majelis Tinggi saya sampaikan terimakasih, Dewan Pembina saya sampaikan terimakasih, Dewan Kehormatan saya sampaikan terimakasih, Komisi Pengawas saya sampaikan terimakasih. 

Ringkas kalimat saya menyampaikan terimakasih kepada semuanya yang selama ini bersama-sama menjalankan tugas. Meskipun saya sudah berhenti menjadi Ketua Umum, saya akan tetap menjadi sahabat bagi kader-kader Partai Demokrat. Saya ketika melepas jabatan atau posisi Ketua Umum tentu tidak punya kewenangan organisatoris karena sudah saya lepas. Tetapi saya bisa menjaminkan satu hal yang hemat saya penting yaitu ketulusan, persahabatan dan persaudaraan. Saya jaminkan ketulusan, persahabatan dan persaudaraan itu kepada kader-kader Partai Demokrat di seluruh Indonesia apapun nanti tugas, langkah yang akan saya tempuh termasuk apakah saya ada di luar atau ada di dalam, apakah saya menjalani proses hukum, apakah proses hukumnya berjalan dengan adil, obyektif dan transparan atau tidak. 

Tetapi saya menyatakan, menegaskan, menggarisbawahi bahwa saya menjaminkan ketulusan, persahabatan dan persaudaraan. Loyalitas sebagai sahabat yang selama ini kita bangun bersama itu bagian yang indah dan menyegarkan di dalam dinamika organisasi politik partai yang kadang-kadang agak keras, dan panas. Semuanya itu punya makna yang luar biasa. Karena itulah saya yakin betul bahwa saya tetap akan berkomunikasi sebagai sahabat dengan kader-kader Partai Demokrat di seluruh Indonesia. Tidak dalam posisi sebagai Ketua Umum tetapi dalam posisi sebagai teman dan sahabat. 

Saya juga berharap, siapapun yang nanti menjadi Ketua Umum Partai Demokrat bisa untuk menunaikan tugas bahkan jauh lebih baik dengan apa yang sudah saya tunaikan bersama teman-teman pengurus selama ini. Saya yakin pasti akan datang Ketua Umum yang lebih baik. Saya percaya itu, karena sejarah selalu melahirkan pemimpin pada waktunya. 

Selanjutnya saudara-saudara sekalian, apa yang akan saya lakukan ke depan adalah tetap dalam kerangka memberikan kontribusi dan menjaga momentum bagi perbaikan, peningkatan, dan penyempurnaan kualitas demokrasi di Indonesia. Apapun kondisi dan keadaan saya. Kondisi dan keadaan saya itu bukan faktor. Faktornya yang penting adalah bahwa saya akan tetap bersama-sama di dalam sebuah ikhtiar untuk membuat Indonesia ke depan makin baik dan makin bagus. Hari-hari ini dan ke depan akan diuji pula bagaimana etika Partai Demokrat. Partai yang etikanya bersih, cerdas dan santun. 

Akan diuji oleh sejarah, apakah Partai Demokrat adalah partai yang bersih atau partai yang tidak bersih, partai yang bersih atau partai yang korup akan diuji partai yang cerdas atau partai yang tidak cerdas, partai yang solutif menawarkan gagasan-gagasan cerdas dan bernas untuk masa depan bangsa atau partai yang tidak seperti itu, juga diuji apakah Demokrat akan menjadi partai yang santun atau partai yang sadis. Apakah yang terjadi kesantunan politik atau sadisme politik. Ujian itu akan berjalan sesuai dengan perkembangan waktu dan keadaan. 

Tetapi yang paling penting saya garisbawahi adalah bahwa tidak ada kemarahan dan kebencian. Kemarahan dan kebencian itu jauh dari rumus politik yang saya anut. Dan mudah-mudahan juga dianut oleh siapapun kader-kader Partai Demokrat. Diatas segalanya saudara-saudara sekalian, saya ingin menyatakan barangkali ada yang berpikir bahwa ini adalah akhir dari segalanya, barangkali ada yang meramalkan dan menyimpulkan ini adalah akhir dari segalanya. 

Hari ini saya nyatakan ini baru permulaan, hari ini saya nyatakan ini baru sebuah awal langkah-langkah besar, hari ini saya nyatakan bahwa ini baru halaman pertama. Masih banyak halaman-halalaman berikutnya yang akan kita buka dan baca bersama tentu untuk kebaikan kita bersama. Saya sekali lagi dalam kondisi apapun akan tetap berkomitmen, berikhtiar untuk memberikan sesuatu yang berharga bagi masa depan politik kita, bagi masa depan demokrasi kita.
Jadi, ini bukan tutup buku. Ini pembukaan buku halaman pertama. Saya yakin halaman-halaman berikutnya akan makin bermakna bagi kepentingan kita bersama. Inilah saudara-saudara sekalian beberapa hal yang ingin saya sampaikan pada kesempatan siang hari ini, saya tentu akan terus menjadi sahabat, teman-teman sekalian karena banyak buku yang akan kita baca bersama. 

Buku-buku itu jangan dipahami dalam perspektif ngeres, tetapi dalam perspektif positif dan konstruktif, dalam perspektif kebaikan dan kemashlahatan yang lebih besar. Kebaikan dan kemashlahatan yang lebih besar itulah yang menjadi titik orientasi kita. 

Sekali lagi, terimakasih atas kehadiran rekan-rekan sekalian, saya bisa lebih panjang, tapi kalau saya panjangkan nanti terlalu banyak yang harus diberitakan.
Sunandar - Pedoman NEWS

Saturday, February 4, 2012

Akibat Dari Miskomunikasi SBY Dengan Kader-kadernya

Masalah pelik kini sedang mendera Partai Demokrat. Bukan karena partai itu tersandung masalah hukum, tetapi kader-kadernya kini sedang menghadapi berbagai persoalan penting yang seharusnya tidak terjadi yakni, korupsi.

Hari ini, Jumat, 3 Februari 2012, Angelina Sondakh, Wakil Sekjen Partai Demokrat (kini mantan) ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK terkait masalah korupsi di Proyek Wisma Atlet Sea Games 2011. Tentu saja ini sangat menampar partai itu, termasuk juga sang Ketua Dewan Pembina-nya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Karena SBY-lah motor penggerak Anti Korupsi.

Ketika SBY dengan gigih membersihkan negeri ini dari korupsi, justru orang-orang dekatnya melanggar serta mempermalukan dirinya. Belum lagi adanya kemungkinan sang Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum masuk dalam daftar tersangka kasus ini menyusul sang mantan Bendahara dan mantan Wasekjen-nya.

Memang, kasus ini bukanlah kasus hukum yang melibatkan Partai Demokrat sebagai institusi, tetapi walau bagaimanapun tetap esensinya Partai Demokrat ikut ternoda karenanya. Dugaan penggunaan uang suap sebagai dana pencalonan Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum PD-pun mencuat dan mau tidak mau ini akan menjadi berita yang terkait dengan partai pemenang Pemilu 2009 itu.

Lalu, jika kemudian orang-orang dekat SBY sudah terperangkap dalam godaan korupsi seperti ini, kemanakah sosok SBY di mata mereka? Tidakkah mereka sungkan, segan dan takut dengan SBY sang motor penggerak Anti Korupsi? Tidak takutkah mereka dengan SBY? Masa bodohkah mereka dengan SBY?

Dengan adanya hal ini kemudian membuat saya berpikir, tidak adakah hubungan secara personal antara SBY dengan para fungsionaris Partai Demokrat itu? Hubungan personal yang membuat orang akan segan jika mengkhianatinya. Hubungan personal yang membuat orang akan menjaga hubungan dan nama baiknya. Hubungan personal yang membuat orang akan tunduk, patuh dan meneladaninya.

Seharusnya jika terjadi hubungan secara personal dan emosional antara SBY dengan orang-orang di sekitarnya, maka kasus korupsi yang mereka lakukan ini tidak akan terjadi. Karena hanya akan mencoreng nama baik mereka sendiri dan menghancurkan karir kelompok mereka, terutama sang nahkoda, SBY.

Jika SBY mampu membuat orang-orang dekatnya benar-benar dekat, korupsi ini tidak akan terjadi. Mungkin SBY terlalu yakin bahwa mereka para pengikutnya ini adalah orang loyal yang sudah bisa beliau percayai, dan tak kan pernah berkhianat. Sehingga lupa jika mereka akan dengan mudah berkhianat saat mereka untouched. Seharusnya SBY bisa keep them in touch, sehingga mereka akan segan, sungkan dan takut mendekati korupsi atau potensi terjadi korupsi.

Di sinilah terjadinya kesalahan seorang pemimpin. Seharusnya SBY mampu meyakinkan mereka bahwa jika terjadi pelanggaran, sekecil apapun, tetap akan terkuak dan hanya akan menghancurkan karir mereka serta karir kelompok (partai) mereka. Rupanya telah terjadi miskomunikasi antar SBY dengan para kader-kadernya.

Friday, August 5, 2011

Sri Mulyani Akan "Dijual"

Siapapun boleh mendirikan partai politik. Saya pun boleh. Asalkan saya bisa memenuhi persyaratan yang ditetapkan pemerintah (KPU, MK dan Depkumham) saya juga bisa mendirikan partai. Tetapi partai politik dimanapun tetaplah menjadi fenomena. Selalu menimbulkan kontroversi (baca: masalah).

Kini muncul partai politik baru bernama Partai Serikat Rakyat Independen (Partai SRI). Partai ini akan mengusung Sri Mulyani menjadi Capres 2014. Dan jika dilihat dari namanya, partai ini memang sudah “nafsu” dengan Sri Mulyani. Lihat saja namanya jika disingkat menjadi “SRI”. Banyak orang memang menganggap Sri Mulyani tokoh yang kuat dan qualified untuk menjadi seorang pemimpin. Tetapi?

Mari kita kembali pada persoalan fenomena partai politik. Partai politik memang selalu identik dengan ketokohan. Partai politik akan selalu menjadi perahu yang menghantarkan seseorang yang ditokohkan menjadi orang nomor satu. Setidaknya menjadi RI 1. Untuk itulah kita kerap terpaksa dihipnotis oleh kehadiran tokoh yang berada pada partai politik tertentu. Atau jika kalimatnya dibalik menjadi kita terhipnotis oleh partai politik tertentu yang mengusung tokoh yang menurt kita qualified.

Masih ingatkah kita pada Pemilu 2004? Ketika seorang Susilo Bambang Yudhoyono yang notabene adalah pembantu Presiden Megawati mendirikan sebuah partai politik dengan elegan. Bernama Partai Demokrat. Se-elegan Partai Demokrat di Amerika. Kala itu banyak diantara kita terhipnotis oleh ketokohan SBY. Bahkan saat itu banyak orang mengatakan SBY itu ibarat “Mutiara Diatas Lumpur”.

Tetapi partai politik tidak hanya bisa mengandalkan tokoh sentral. Di dalam sebuah partai politik begitu banyak kepala yang di dalamnya terdapat otak dan nafsu. Ketika suatu partai politik sudah merasa di atas angin maka kepala-kepala berisi otak nafsu itu akan abused of power. Menyalahgunakan kewenangan. Menjilat sana-sini. Merayu sana-sini demi urusan beberapa jengkal dibawah otak mereka, yaitu perut. Hmm.. mungkin juga satu jengkal lagi dibawah perut… Mereka akan terlena. Terlupa betapa partai politik itu dibangun berdasarkan susah payahnya berbagai pihak. Atau mungkin karena mereka-mereka ini juga termasuk yang susah payah, sehingga ketika mencapai titik kemenangan mereka akan berusaha mengembalikan modal awal, kalau perlu take profit (baca: korupsi)

Nah, kini muncul Partai SRI. Didirikan oleh beberapa pengamat dan surveyor serta analis politik. Ada Arbi Sanit (pengamat politik senior), Daminus Taufan (aktivis), Goenawan Mohammad (sastrawan), Rahman Tolleng (mantan anggota DPR), Fikri Jufri (Redaktur Senior Majalah Tempo), Dana Iswara Basri (mantan presenter RCTI), M Husni Thamrin (aktivis LSM), Budi Arie Setiadi (wartawan), Susi Rizky Wiyantini dan Sony Sutanto (keduanya aktivis Solidaritas Masyarakat untuk Keadilan atau SMI-K).
Di dalamnya memang tidak ada Sri Mulyani, tokoh yang kerap disebut. Tetapi mereka begitu bernafsu dengan Sri Mulyani. Mereka akan menjual Sri Mulyani demi memenangkan Pemilu 2014. Ini artinya mereka ini terobsesi menggantikan tokoh-tokoh politik lainnya yang kini sedang duduk di Senayan maupun di Istana serta di Kementerian.

Lalu jika kita bandingkan dengan Partai Demokrat dimana SBY adalah pendirinya, para fungsionaris partai ini saja lupa bahwa SBY-lah yang mendirikan partai ini. Lihat saja, ada Ruhut Sitompul yang kerap jadi pelempar isu alih-alih survey, ada Marzuki Alie yang kerap disebut Marzuki Alay karena ucapannya yang sering kontroversial, dan yang paling heboh saat ini yaitu M Nazarudin yang korupsi dan lari tunggang-langgang menghindari kejaran petugas. Semuanya orang-orang Partai Demokrat. Partai yang membesarkan mereka. Mereka mengkhianati SBY yang membesarkan mereka.

Dari sini akan muncul kekhawatiran jika benar Sri Mulyani kelak ditokohkan di Partai SRI dan memenangkan Pemilu 2014, maka bukan mustahil Sri Mulyani hanya akan menjadi “tuyul” yang diperalat oleh orang-orang penuh nafsu di Partai SRI. Lagi-lagi demi urusan perut dan sejengkal dibawahnya…

Dan demi urusan perut, saya juga bisa bikin partai politik baru bernama Partai TRI… karena nama saya OM TRI. :D


Thursday, May 5, 2011

Haduh!!! Anggota DPR kita ternyata gaptek

Lagi-lagi DPR RI dikerjai teknologi. Jika beberapa waktu yang lalu ada histeria seorang Arifinto yang asyik masyuk membuka video porno di Sidang Paripurna, kini ada lagi anggota DPR RI yang benar-benar gaptek, alias gagap teknologi. Gagap adalah ketika seseorang secara mendadak harus melakukan sesuatu atau menghadapi sesuatu namun terjadi kesalahan atau malpraktis ketika melakukannya. Ketika seseorang tidak siap menyambut datangnya teknologi tetapi dia harus menggunakannya, dan kemudian dia error maka dia disebut gagap teknologi. Dan ini terjadi pada anggota DPR yang konon terhormat itu.

Anggota DPR Komisi VIII yang sedang melakukan kunjungan ke Australia dan mengadakan audience dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia, di Melbourne beberapa waktu lalu menyebut alamat email komisi8@yahoo.com sebagai alamat email resmi Komisi VIII. Tentu saja hal ini membuat peserta audience dari kalangan pelajar PPIA terheran-heran dan sempat menertawakannya. Pasalnya alamat email yang disebut adalah email gratisan dari penyedia email yang berpusat di Amerika.

Semua orang bisa saja dengan mudah mendapatkan akun dari Yahoo! ini dalam lima menit. Gratis pula. Anda pasti juga memiliki akun dari Yahoo! ini. Saya juga..:)

Jika boleh berkomentar, sebenarnya saya sangat malu dengan hal ini.

Karena:

  1. Sebuah lembaga setingkat DPR menggunakan akun email gratisan dari mailserver seperti Yahoo!
  2. Akun komisi8@yahoo.com ini ternyata bogus alias palsu, alias bukan milik si orang yang mengklaimnya.
  3. Sikap gelagapan anggota DPR ketika diminta alamat emailnya.
  4. Pembenaran dilakukan oleh Sang Ketua atas insiden memalukan ini. Bahkan Sang Ketua itupun ternyata menggunakan akun email gratisan.
  5. Budaya penggunaan email yang belum ada di DPR secara menyeluruh.

Ditempat saya bekerja, seorang karyawan setingkat Supervisor setiap hari bekerja dengan dukungan sebuah akun email. Entah dari gratisan maupun berbayar, seorang Supervisor yang hanya membawahi karyawan lain dibawah lima orangpun harus memiliki akun email, karena komunikasi dari manajeman maupun dari klien dilakukan melalui email. Seorang tenaga administrasi disetiap kantor cabang juga berkomunikasi dengan atasan dan sesama karyawan menggunakan email. Memberikan laporan harian dengan email.

Seorang Unit Manager, yang memimpin satu sampai tiga Kabupaten atau membawahi beberapa karyawan lain bahkan sudah berhak mendapatkan akun email dari perusahaan. Komunikasi melalui email perusahaan dan tidak lagi menggunakan akun email gratisan. Meskipun email gratisan tetap dipakai sebagai backup atau cc kiriman email. Dan penggunaan email ini sudah menjadi sebuah keharusan. Saya bahkan terkadang dalam sehari lebih banyak mendapatkan email daripada mendapatkan sms.

Email bukan lagi gaya hidup, bukan lagi barang mewah, tetapi adalah sebuah kebutuhan. Ketika manajemen mengirimkan sebuah berita yang jumlahnya berlembar-lembar tentu tidak akan efektif jika mengandalkan jasa kurir atau pos. Tidak juga efisien. Semua akan lebih mudah dan lengkap dengan menggunakan email.

Lalu, jika anggota DPR saja tidak menggunakan email dalam berkomunikasi, berarti kita memiliki wakil rakyat yang kampungan alias norak. Hehehe…

Mau komentar melalui email? kirim saja ke triyanto[at]sampoernatelekom.com


Saturday, April 9, 2011

Pecat Arifinto dari keanggotaan DPR !!!

Bejat!! Itulah sepenggalan komentar atas perilaku Arifinto, seorang Anggota DPR dari Fraksi PKS yang menonton video porno saat berada di Sidang Paripurna DPR Jumat, 8 April 2011 kemarin. Kejadian ini tertangkap kamera seorang wartawan dari Media Indonesia. Setelah kejadian ini ramai merebak, Arifinto kemudian mengadakan jumpa pers sore harinya.

Pada jumpa pers tersebut Arifinto mengaku hanya tanpa sengaja membuka link yang terdapat pada email yang dikirim seorang temannya. Bukan membuka folder yang ada di PC tabletnya. Arifinto juga mengaku jenuh saat mengikuti sidang tersebut.

Beragam komentarpun akhirnya bermunculan atas peristiwa ini. Arifinto yang berasal dari PKS dikecam habis-habisan, pasalnya partai tempat dia bernaung adalah partai yang (konon) religius. Dan juga tempat bernaung Menkominfo Tifatul Sembiring yang sesumbar akan memberantas masuknya situs porno ke Indonesia serta perang terhadap pornografi. Bukankah memberantas pornografi juga harus disertai dengan budaya moral yang menentang konten pornografi? Bukan hanya kontennya yang dicegah, tetapi juga moralnya yang harus diperbaiki. Justru jika moral sudah baik, sebanyak apapun konten pornografi masuk ke Indonesia, maka konten tersebut tidaklah laku. Bukan begitu?

Arifinto yang mengaku jenuh saat mengikuti sidang juga dianggap telah melecehkan amanat dari konstituennya. Bukankah jenuh itu sama dengan bosan? Hah, bosan? Bosan mengikuti sidang? Lalu apa yang dia inginkan? Jika bosan mengikuti sidang sama artinya dengan bosan menjadi wakil rakyat. Mundur sajalah. Letakkan saja jabatan/amanat ini. Masyarakat juga tidak akan mau mengamanatkan suaranya kepada orang yang sudah jenuh, sudah bosan. Ini akan menjadikan masyarakat menurunkan tingkat kepercayaannya kepada wakil rakyat.

Arifinto juga dianggap tokoh yang tidak baik dengan menyebut dirinya mendapatkan email dari teman yang ternyata memuat link berisi konten porno. Seorang yang terhormat dan bisa menjaga pergaulan tentu tidak akan berteman dengan orang yang suka mengirimkan konten porno. Masuknya link yang berisi konten porno pada email seseorang biasanya terjadi jika orang tersebut berteman dengan orang yang memiliki hobi yang sama yakni mengunduh atau menikmati konten porno. Atau juga email tersebut pernah dipakai mendaftarkan diri untuk mendapatkan akun di sebuah situs porno. Ini artinya si pemilik email adalah penghobi situs porno.

Lalu, jika seorang wakil rakyat menikmati konten porno saat bersidang, akankah dibiarkan saja? Kita membutuhkan sebuah shock terapi. Seharusnya tidak ada toleransi untuk Arifinto. Dia harus dipecat dari DPR. Badan Kehormatan DPR haruslah menggunakan kewenangannya untuk mengusut hal ini. Bukti sudah cukup, pengakuan Arifinto juga sudah lengkap. Hukum yang telah dia lecehkan haruslah bisa memberinya punishment. Hukum harus ditegakkan. Moral harus menjadi sesuatu yang tak bisa ditawar lagi. Kampanye anti pornografi yang dibuat oleh DPR dan dilecehkan oleh anggotanya sendiri harus mengena dan memberi pelajaran kepada siapa saja yang tidak mengindahkannya. So, pecat Arifinto dari DPR!!!


Sunday, April 12, 2009

Sudah Ikut SNTM di Facebook?

Apa yg sedang tren di Facebook saat ini? Sudahkah Anda tahu dan mengikutinya? Sebuah grup di Facebook yang diberi nama SNTM. Klik aja...


Saturday, March 28, 2009

Jangan Golput. Masih Ada Yang Lebih Baik

Inilah sebuah tulisan spontan saya di Yahoogroup Millist Wongpati. Sebuah tulisan spontan tanpa konsep dan dengan redaksional acak-acakan. Sebuah seruan moral yang ternyata banyak mendapatkan komentar.
_____________________________________________________________
Jangan Golput!! Entah halal atau haram. Golput bukanlah sebuah keputusan yang bijaksana untuk saat ini. Lihatlah, berapa puluh ribu Caleg berlomba-lomba menuju Kursi Parlemen. Tidak sedikit diantara mereka yang mempunyai latar belakang suram. Baik dari segi pendidikan maupun akhlaknya.
Banyak yang merupakan orang-orang yang hanya mencari peruntungan. Banyak yang merupakan Calon Penjahat, Banyak yang merupakan Caleg Pencari Kerja. Mereka semua menjadi Caleg bukan tanpa biaya. Bukan tanpa perjuangan materi. Semua menggunakan modal awal. Mereka gambling. Mereka berdagang. Mereka berhitung untung rugi. Tak kan ada pedagang yang mau rugi. Mereka berbahaya! Mereka mengancam Indonesia. Mereka ini yang akan menjadi musuh negara. Ingat!! Jangan biarkan Caleg-caleg seperti mereka maju menjadi Wakil Rakyat. Mereka akan berperan palsu. Mereka hanya akan berpikir untuk kepentingan mereka sendiri. Jangan Biarkan mereka maju sebagai wakil rakyat. Ingat!! Ketidakpedulian Anda dengan memutuskan GOLPUT akan mereka manfaatkan dengan cara mengerahkan massa bayaran yang akan mengusung mereka ke kursi parlemen. Ini sangat berbahaya. Jika hal ini terjadi berarti Anda membiarkan Caleg-Caleg congekan maju menjadi wakil rakyat. Mereka berbahaya!! Mereka akan menipu kita nanti. Kita juga yang sengsara. Mereka tak akan peduli terhadap kita apalagi permasalahan kita. Jangan biarkan hal ini terjadi. Jangan Golput!!! Jangan biarkan Caleg busuk hanya numpang tidur di Gedung Dewan. Gedung itu milik kita. Jangan biarkan pecundang masuk ke Gedung kita. Jangan Golput, Kawan!! Masih ada yang lebih baik daripada yang menurut Anda tak baik. Pasti ada. Jangan Golput, Sobat!! Cari Caleg yang pinter, jujur dan bisa dipercaya!!! Jangan Golput, Sayang!! Pasti ada pilihan yang lebih baik meski bukan yang terbaik. Ingat!! 5 Menit di TPS menentukan nasib kita dan bangsa kita 5 tahun kedepan. Ayo!!! Jangan Golput!!! Ajak saudara kita untuk datang ke TPS tanggal 9 April nanti
___________________________________________________________________
Inilah salah satu komentar yang saya kopi...

Emang untungnya golput apaan sih???? Menurutku si gak ada untungnya..

1. Klo alasannya aleg kerjanya cuma korupsi, ngomong atas nama rakyat padahal nyatanya cuma buat perutnya sendiri, apa semuanya gitu??? apa sampeyan sudah meneliti SEMUA caleg tentang latar belakangnya, tentang visi ke depannya. Klo belum, cuma maen pukul rata..yaaa sampeyan sama saja..ngomong atas nama rakyat padahal sebenernya APATIS, ndak peduli bangsa ini mo dibawa kemana.

2. Klo nantinya pemerintahan hasil pemilu amburadul, korupsi makin gila, pemiskinan makin banyak, sementara sampeyan golput..lha terus apa yang sampeyan bilang. Mungkin gini,"untung aku golput dulu..". Apa iya?? bukankah sampeyan tinggal di negara yang sama dengan yang ndak golput? bukankah sampeyan juga merasakan hal yang sama dengan yang ndak golput? jadi kenapa golput? Jawabannya mungkin saja karena sampeyan ndak punya KEBERANIAN untuk menentukan pilihan, TAKUT KECEWA atas keputusan sampeyan alias PENGECUT.

3. Klo sampeyan golput karena tidak menemukan partai yang sejalan dengan keinginan sampeyan..ahh masak iya dari 38partai ndak ada satupun yang sejalan..sampeyan mau partai agama ada, partai nasionalis ada, partai pekerja ada, partai pancasila ada..dst..lantas apa?? Jawaban yang mungkin adalah sampeyan MAU MENANG SENDIRI..yaa. .sampeyan tidak bisa duduk bermusyawarah, menjalankan hasil keputusan bersama karena yang sampeyan inginkan cuma menjalankan hasil pemikiran sendiri, merasa diri paling benar..

4. Kalau Anda ingin menghukum partai dengan golput..ahh apa untungnya?? toh kalau golput yang menang bukan Anda yang jadi presiden, bukan kursi kosong yang duduk di DPR?? kalau Anda ingin menghukum suatu partai, silahkan alihkan suara anda ke partai lain yang lebih baik, setidaknya yang anda rasa lebih baik. Kalau Anda rasa tidak ada yang lebih baik?? yaa..sepertinya Anda memang salah 1 dari 3point di atas..


Monday, February 9, 2009

Apa itu PROTAP?

Ada dua PROTAP yang dipertanyakan oleh berbagai kalangan menyusul meninggalnya Abdul Aziz Angkat, Ketua DPRD Sumut dalam demo yang berujung anarki di Gedung DPRD Sumut 3 Februari lalu.

1. PROTAP yang merupakan singkatan dari Provinsi Tapanuli, sebuah nama provinsi baru hasil pemekaran yang menjadi wacana di Sumatera Utara.

2. PROTAP yang merupakan singkatan dari Prosedur Tetap, yakni prosedur yang menjadi acuan pihak kepolisian dalam melakukan pengamanan terhadap kegiatan demo dan pengamanan pejabat.

Kedua-duanya menjadi hal yang saat ini paling mendominasi berita nasional kita.

Wednesday, January 28, 2009

Saya Mau Jadi Golput, Pengurus Partai Sekaligus Anggota KPPS

Begitu santer berita mengenai fatwa MUI tentang golput. Banyak komentar miring dimana-mana, terutama di dunia Golblog (Golongan Bloggers).
Begitu pula saya, merupakan salah satu orang yang terancam terkena fatwa haram oleh MUI. (itupun jika saya setuju dengan fatwa tesebut)
Sudah sejak lama saya menjadi Golput, baik sedang diadakan Pemilu maupun Pilkadal (Pilkades kemaren saya nggak Golput sebab Calon Kepala Desanya adalah kakak saya.
____________________________________________________________________
Namun, kemarin sore seorang pemuka Desa tempat saya tinggal mendatangi saya, beliau meminta saya untuk bersedia menjadi Anggota KPPS (Kelompok Panitia Pemungutan Suara), sebab jumlah TPS tempat saya tinggal di tambah dari 4 menjadi 8 TPS, tentu saja membutuhkan tambahan personil. Saya sempat berpikir, akankah saya Golput sebagai Angota KPPS? Atau saya akan masuk kedalam bilik suara dan membiarkan surat suara tak bertanda pilih?
_____________________________________________________________________________________
Tadi pagi sebelum berangkat kerja, kakak ipar saya yang juga seorang Perangkat Desa meminta saya untuk menghadiri undangan seorang Caleg dari sebuah partai yang sebenarnya saya tidak sukai. (Tak ada satupun partai politik yang saya sukai). Jika saya menjadi Tim Sukses Caleg, akankah saya menjadi Golput?
_____________________________________________________________________________________
Apapun yang terjadi, bagi saya fatwa tentang Golput adalah salah. Apapun alasannya. Orang sepandai atau sepintar apapun akan menentang (dalam hati) fatwa tersebut.

Mengenai hukum Islam yang menyatakan hukum haram, halal merupakan tugas dan tanggung jawab Ulama di negara yang bersangkutan, namun hal ini tentu memerlukan kajian ulang. MUI tidak begitu saja boleh mengeluarkan fatwa yang menyesatkan ini. Sebab akankah sebuah negara menjadi tidak menentu dan datang bencana jika rakyatnya tidak memilih seorang pemimpin (baca:penguasa)?

Maukah Anda memberi masukan kepada saya, antara tiga pilihan ini mana yang seharusnya saya lakukan?



Saturday, January 24, 2009

Ini Lho Website nya SBY yang Katanya Pro Rakyat

Beberapa waktu yang lalu saya sedang presentasi di sebuah SMU di Jepara. Tiba-tiba saya tak sengaja melihat sebuah majalah yang namanya belum pernah saya kenal. setelah saya ambil dan saya baca ternyata majalah tersebuat adalah majalah gratis yang dibagikan kepada masyarakat untuk bacaan.

Tapi sebenarnya menurut saya majalah tersebuat buakanlah untuk bacaan, tapi lebih bersifat sebagai buaian, narsisan dan keterlenaan pada pembuatnya yang tak lain adalah Tim Sukses SBY.

Majalah tersebut bernama Sahara-9949. Hanya berisi tentang liputanmengenai beberapa kegiatan yang kesemuannya bertopik Program Pro Rakyat. Mulai Program KUR dari BRI, Program raskin, Program PNPM Mandiri, Turunnya Harga BBM dan lain sebagainya.

Dan ternyata majalah tersebut juga diterbitkan secara online alias ada di internet. Inilah situsnya. sahara-9949.info

image

Brand Development

Saya adalah blogger, penulis, citizen journalist sekaligus praktisi marketing. Konsultan pengembangan merek, penyusunan sistem franchise. Trainer marketing, sales dan online advertising

image

Web Development

Anda butuh website atau blog pribadi? Untuk pengembangan usaha, LSM, organisasi, sekolah, toko online atau perusahaan Anda? Silahkan hubungi saya 0812-2222-0750 atau kirim email ke mr.antowiyono@gmail.com