Wes Mangan Ora Udud Eneg.... Itulah sekilas pepatah bagi beberapa orang yang selalu merokok setelah makan. Memang, bagi penikmatnya merokok setelah makan adalah sebuah kenikmatan. Sehingga banyak orang yang demi kenikmatan sebatang rokok harus ngemil atau minum kopi atau teh. Entah mengapa, memang terasa beda jika kita merokok setelah makan dengan merokok tidak setelah makan. Tanpa melupakan Gerakan Anti Tembakau atau Program Larangan Merokok di Tempat Umum, saya akan mengulas sedikit mengenai distribusi rokok menurut cuaca daerahnya.Begini, di Malang penjualan Djarum Super tidak akan sebanyak di Semarang. Bahkan toko Bu Kos tempat saya tinggal, tidak menjual Djarum Super. Kata Bu Kos Djarum Super tidak laku. Akhirnya saya pilih Surya 12. Tadinya mau pilih GGF alias Inter alias FIM alias Garfit. Tapi rokok ini batangnya pendek. Nggak puas ah!! pikirku.
Lalu di Malang Anda akan kesulitan mencari Djarum Coklat. Yang ada Djarum 76. Bagi orang yang dari Bogor atau Bandung dan sekitarnya yang terbiasa menikmati Djarum Coklat akan kesulitan dan harus rela menggantinya dengan saudara kembarnya yaitu Djarum 76. Sama-sama kretek dari pabrik yang sama.
Begitu juga di Bandung, Bogor dsk. Mencari Djarum 76 dan Surya akan mengalami kesulitan. Karena yang ada Djarum Coklat dan Inter. Orang Bandung menyebut Inter yaitu Garfit. Orang Solo menyebutnya GP. Entah apa singkatannya...
Itu sedikit contoh beberapa pabrik cigaret yang memproduksi cigaret dengan segmen pasar sesuai kondisi cuacanya. Masih banyak contoh lain yang mungkin saya belum pahami. Dan ulasan tadi juga belum tentu benar karena secara ilmiah, statistik belum ada laporan semacam itu yang saya baca. Tapi setidaknya itulah yang dapat saya simpulkan...[tri]
_____________________________________________________________
[PERINGATAN PEMERINTAH MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN]
_____________________________________________________________
0 comments:
Post a Comment