Saturday, January 4, 2014

Jalan Panjang Sang Pemenang

Siang itu sebelum lonceng tanda berakhir jam pelajaran hari itu berbunyi, Bu Entin wali kelas IV SDN Sukamiskin Bandung menyampaikan pemberitahuan kepada murid-murid. "Anak-anak, baru saja kepala sekolah menyampaikan pemberitahuan, akan diadakan lomba tentang budaya Sunda. Ada beberapa perlombaan, antara lain; Menyanyi Lagu Sunda, Peragaan Busana Adat Sunda, Menari Jaipong dan Pidato Bahasa Sunda dalam rangka peringatan Hari Kartini," kata Bu Entin disambut berbagai komentar riuh rendah yang tak pelak membuat suasana kelas IV menjadi gaduh. "Ini lomba tingkat Kota Bandung dan akan diikuti oleh banyak peserta. Ibu berharap ada wakil pada setiap lomba dari SD kita."

Suasana kelas semakin gaduh. Spontan mereka menyebut beberapa nama untuk ikut maju lomba karena nama-nama yang mereka sebut itu sudah terbiasa mengikuti lomba dan memiliki talenta yang bagus baik pidato, menyanyi maupun peragaan busana. "Siapa yang kira-kira bisa ikut?" tanya Bu Guru. Serta merta anak-anak menyebut beberapa nama, "Dery Bu.... Alvi Bu.... Kayla Bu.... ," itulah nama-nama yang mereka sebutkan hampir bersamaan.

"Jadi Dery, Alvi sama Kayla ya...? " tanya Bu Entin. "Baiklah kalau begitu, terus kalian mau ikut lomba apa?" Serempak Dery, Alvi dan Kayla menjawab, "menyanyi Buu..."

"Baiklah, lomba akan diselenggarakan hari Minggu besok di kampus STIA mulai pukul 9 pagi. Lagu yang dinyanyikan adalah satu lagu wajib berjudul Bubuy Bulan dan satu lagu pilihan, yang kalian bisa pilih sendiri sesukanya, asal lagu Sunda yang baik. Sekarang kalian bisa mulai belajar bernyanyi lagu-lagu itu," kata Bu Entin panjang lebar diikuti bel tanda berakhir jam pelajaran dan waktunya pulang.

Anak-anak berlarian keluar kelas. Suasanya gaduh seperti hari-hari biasa. Dery keluar lebih dulu dan berlari ke seorang penjual jajanan di samping pintu gerbang SD itu. Penjual jajanan itu adalah ibunya Dery. Seperti biasa, setiap jam pulang sekolah anak-anak membelikan sisa uang sakunya di lapak milik ibunya Dery. Karena ramai, Dery ikut membantu ibunya melayani pembeli. Dengan cekatan Dery melayani satu-persatu pembeli yang rata-rata sudah ia kenal. Salah seorang temannya bertanya pada Dery sambil jajan. "Dery, kamu mau nyanyi lagu apa untuk lagu pilihannya?" Dery menjawab, "entahlah, belum kepikiran. Nanti coba saya cari dulu lagu yang bagus." Sang teman membalas, "ok deh, kamu pasti menang, soalnya suara kamu bagus." Dery hanya senyum mendengar pujian temannya itu.

Setengah jam kemudian sekolah sepi. Dery membantu sang ibu membereskan dagangannya dan ikut membawakannya pulang ke rumah kontrakan melalui sebuah gang sempit di dekat SD itu. Sambil jalan Dery berkata pada sang ibu, "Mak, Dery disuruh ikut lomba nyanyi lagu Sunda besok Minggu di STIA. Boleh Mak?" tanya Dery polos sambil membetulkan bawaannya yang sedikit melorot. "Emang kamu bisa?" tanya Emak. "Ya kalau latihan mah pasti bisa atuh, Mak," jawab Dery. "Ya sok wae atuh kalau bisa mah, " sahut Emak sambil melihat kesungguhan pada sikap dan wajah Dery.

-----

Hari-hari Dery diwarnai kesibukan baru yakni latihan bernyanyi. Lagu Bubuy Bulan dihapalkannya dari kepingan VCD di rumahnya. Meski sesekali player VCD itu macet, namun Dery dengan gigih berlatih. Lagu pilihanpun ia hapalkan. Dalam hati Dery, ia ingin tampil dengan baik. Ia ingin Emak bangga padanya. Suatu ketika saat sedang berlatih sambil tiduran tengadah dengan berbantalkan sebelah lengannya, Dery menatap foto almarhum ayahnya yang sudah tiga tahun ini meninggalkannya. "Kalau Abah masih ada mah, bisa bantu Dery latihan nyanyi," bisik Dery dalam hati. Dengan berkaca-kaca Dery menatap foto almarhum ayahnya hingga ia tertidur pulas di depan tivi 14 inchi itu.

-----

Di sekolah Dery, Alvi dan Kayla terus berlatih. Sesekali mereka berlatih dengan bernyanyi bersama di sela-sela jam istirahat. Bu Entin juga sesekali mengingatkan mereka untuk terus berlatih dan mengecek kesiapan mereka.

-----

Waktu perlombaan semakin dekat. Tinggal dua hari lagi. Dery dan kawan-kawan semakin sibuk berlatih. Hari ini sebelum pulang sekolah, Bu Entin memanggil Dery, Alvi dan Kayla ke ruang guru. "Dery, Alvi, Kayla, waktu lomba semakin dekat. Tinggal dua hari lagi. Kalian sudah siap?" tanya Bu Entin. "Siap, Bu" jawab mereka kompak. Bu Entin menyampaikan, pihak sekolah tidak bisa membantu untuk menyediakan kelengkapan mengikuti lomba. "Kalian harus menyiapkan kaset VCD atau CD, atau flashdisk untuk menyimpan lagu yang akan dilombakan," kata Bu Entin. "Seragam pakaian adat Sunda juga kalian bisa usahakan sendiri. Bisa sewa ke salon rias pengantin atau tempat persewaan kostum," lanjut Bu Entin disambut anggukan anak-anak.

----

Sesampainya di rumah, Dery yang sedang membantu Emaknya mencuci piring menyampaikan pesan Bu Entin, "Mak, kata Bu Guru disuruh nyari pakaian adat Sunda untuk seragam lomba besok Minggu. Kumaha nya Mak?" tanya Dery.
"Atuh kumaha? Kemana nyari seragam pakaian adat, Dery?" Emak bertanya balik ke Dery. Dery melamun. Bingung harus bagaimana. Mungkin bisa saja menyewa ke salon rias, tapi tentu saja mahal. Lagipula Dery tidak tahu tempat salon rias yang menyewakan pakaian adat.

Dery mendekati Emak yang sedang melipat baju jemuran. Dilihatnya Emak sesaat. Bibir Dery sudah siap mengucapkan sesuatu, tetapi Emak sudah lebih dulu bertanya, "kamu sudah makan?" Dery gugup. Dengan terbata-bata dia menjawab, "oh ...... eee be...belum, Mak. Nanti saja," jawabnya. Dery bertambah bingung. Seharusnya hari ini dia sudah bisa mendapatkan seragam. Besok sudah harus gladi bersih.

-----

Keesokan harinya, di sekolah Dery bertanya pada Alvi. "Kamu sudah dapat seragam, Vi?" Alvi menjawab, "sudah. Aku kemarin ke salon Bang Anton. Kebetulan di sana ada. Ukurannya juga pas. Kamu sudah dapat belum," tanya Alvi. Dery tidak langsung menjawab pertanyaan Alvi. Dia terdiam sesaat. Terbayang sudah kegagalan di benak Dery. "Duh, aku bakalan tidak bisa ikut lomba," bisiknya dalam hati.

"Dery...." Alvi menepuk bahu Dery hingga Dery terkejut dan menjawab sekenanya. "Belum," jawab Dery lemas.

"Coba nanti aku antar kamu ke salon Bang Anton buat sewa seragam. Sepertinya masih ada," kata Alvi mencoba menghibur. "Ah, tidak usah. Aku tidak punya uang buat sewa kostum. Pasti mahal," jawab Dery. "Gampang. Nanti aku bantu. Yang penting kita ikut lomba. Kalau kamu nggak ikut, aku juga nggak ikut," ujar Alvi. "Baik deh, Vi. Sepulang sekolah anterin aku ke sana ya," jawab Dery sambil bergegas masuk kelas.

----

Keesokan harinya adalah hari Minggu. Hari H untuk perlombaan yang akan diikuti oleh Dery. Pagi-pagi Dery sudah bersiap-siap. "Mak, doain ya supaya nanti bisa menang," pinta Dery pada Emak. Sementara itu Emak sedang sibuk bebenah di dapur. Dery sedikit gelisah karena Emak tidak bisa menemaninya lomba. Padahal ia ingin sekali Emak bisa menyaksikan saat dia naik panggung. "Iya Dery. Emak tidak bisa mengantar. Pagi ini Emak disuruh nyuci di rumah Pak Herman. Mudah-mudahan kamu menang. Tidak menangpun tidak apa-apa, yang penting sudah berusaha," jawab Emak disertai doa. Dery hanya terdiam. Dalam hatinya ia tetap semangat dengan adanya doa dari Emak.

Sehabis mandi, Dery mengenakan baju kostumnya. Pakaian adat Sunda. "Baju kamu kebesaran?" tanya Emak setelah melihat lengan baju Dery digulung beberapa lipatan, begitu juga celananya. "Iya, Mak. Adanya tinggal ini. Hari ini banyak yang ikut acara Hari Kartini, jadi banyak baju adat yang disewa," jawabnya. "Tidak apa-apa. Kamu ganteng pakai pakaian ini," kata Emak sambil membantu memakaikan blangkon Dery. Dery hanya senyum. Emak menyelipkan uang sepuluh ribu ke kantong Dery. "Ini uang sakunya. Dihemat ya. Cuma sepuluh ribu."

Selesai berpakaian, Dery menuju samping rumah mengambil sepeda. Setelah berpamitan dan minta doa, Dery bergegas mengayuh sepedanya, dengan harapan bisa mencapai tempat lomba tanpa telat. Dengan penuh semangat Dery mengayuh sepedanya. Jaraknya cukup jauh. Sekitar 3 kilometer.

Baru sampai seperempat perjalanan, tiba-tiba sepeda Dery ngadat. Rantainya lepas. Terpaksa Dery berhenti. Dicarinya ranting kering di sekitar jalan itu untuk mencongkel rantai yang terselip diantara gir dan jari-jari sepeda. Cukup sulit. Ranting itupun patah. Tak ada cara lain, terpaksa Dery menariknya dengan tangan. Meski harus rela tangannya kotor terkena oli. Alhasil, rantai sepeda itu terpasang lagi dengan baik. Dery lega. Dilanjutkan perjalanan menuju tempat lomba. Dery semakin semangat karena ia telah kehilangan waktu beberapa saat karena sepedanya ngadat.

Saking semangatnya, beberapa kali lipatan gulungan lengan baju dan celana yang kedodoran itupun merosot. Sambil terus mengayuh sepeda, Dery membetulkannya. Praktis, noda oli di tangan Dery sampai ke baju dalam, lengan dan kakinya. Dery tak mempedulikannya. Dikayuhnya terus sepeda itu.

Udara pagi itu tidak begitu cerah. Mendung menggelayut di langit Bandung. Jalan masih basah karena sisa hujan semalam. Dery sudah memasuki jalan raya. Mobil sudah lalu lalang. Sesekali jalanan macet. Dery harus berusaha menyelinap diantara mobil-mobil yang macet. Saat sedang berusaha mengejar waktu, sebuah mobil tiba-tiba melintasi sebuah jalan berlubang dengan kubangan air dan "breusssshhh!!!" air muncrat mengenai pakaian Dery.

Dery hanya menyeka wajahnya sambil sesekali memperhatikan pakaiannya yang sedikit kotor. Dia tetap fokus pada jalan agar tidak telat sampai ke lokasi acara. Ujian tak hanya sampai di situ. Sepanjang perjalanan Dery tak menyadari bahwa tas yang ia selempangkan di belakang punggungnya terlalu panjang hingga menyentuh roba belakang. Hal ini berakibat bagian bawah tasnya berlubang karena seringnya terkena gesekan roda. Tak pelak, satu persatu barang bawaan Dery berupa keping VCD, air putih dalam botol beserta uang sakunya berjatuhan.

Dery terus mengayuh sepedanya. Semangatnya mulai memuncak ketika lokasi acara sudah terlihat dari kejauhan. Senyumnya mulai mengembang. Menggantikan peluhnya yang sedari tadi bercucuran.

"Ayo Dery, acaranya hampir mulai," sambut Alvi di depan gedung itu. "Iya. Toilet dimana ya? Bajuku kotor sekali." Alvi menanyakan kenapa, dijawabnya, "kecipratan mobil," jawab Dery. Alvi lalu mengantarkan Dery bergegas menuju toilet untuk membersihkan diri.

"Mana kaset VCD kamu? Cepat kasihkan ke panitia," tanya Alvi sambil berjalan dari toilet menuju ruang lomba. Dery merogoh tasnya. Tapi ketika membuka, dia kaget bukan kepalang. Tak ada apapun di dalam tas itu. Dia hanya bengong melihat lubang di bagian bawah tasnya. "Aduh, jatuh semua, Vi. Gimana ya?" Dery bertanya sambil kebingungan. "Yaudah, pakai punyaku saja. Toh lagu pilihan kamu juga ada kan di kasetku. Ayo aku antar ke ruang panitia," ajak Alvi disambut senyum gembira Dery. Sambil berjalan, Dery masih menyempatkan sesekali melihat nasib tasnya.

----

"Hadirin sekalian, tibalah saatnya acara lomba Menyanyi Lagu Sunda dalam Rangkaian Peringatan Hari Kartini, 21 April 2013," sambut MC disertai tepuk tangan para hadirin. Dery dan beberapa peserta lain duduk di kursi peserta. Semua peserta ditemani keluarganya sebagai supporter, kecuali Dery. Namun Alvi yang sedari awal menemaninya tak henti-henti memberinya semangat, meski mereka berdua akan bersaing memperebutkan piala. Bu Entin dan beberapa perwakilan dari sekolah tidak banyak berkomunikasi dengan Dery.

Satu persatu peserta naik ke panggung sesuai panggilan dari MC. Selepas bernyanyi, tiga orang juri mengomentari penampilan para peserta. Tiba saatnya Dery naik panggung. Meski sedikit gugup Dery tetap percaya diri. Tidak banyak penonton yang memberikan tepuk tangan saat nama Dery dipanggil maju oleh MC. Ya, karena Dery memang datang sendiri, tanpa supporter.

Suasana haru terjadi saat Dery menyanyikan lagu berjudul "Emak". Lagu tentang seorang anak yang memohon maaf pada ibunya dan pernyataan bersyukur serta berterimakasih atas limpahan rahmat atas ridla ibu. Lagu tersebut dipopulerkan oleh seorang penyanyi cilik bernama Kustian asal Jawa Barat.

Bait demi bait ia nyanyikan dengan penuh penghayatan. Ekspresi wajah dan gerakan tangan Dery memukau para penonton. Tiga orang juri semuanya menitikan air mata. Sebagian besar penonton juga dibuat haru. Tak sedikit yang menyeka mata karena menangis melihat aksi panggung dan syair lagu yang dinyanyikan Dery. Sangat menyentuh. Selesai bernyanyi Dery mendapatkan aplause luar biasa. Semua dewan juri memberikan komentar yang positif. Bahkan ada satu juri yang belum bisa menyembunyikan rasa harunya. Dalam komentar, juri tersebut hanya berkata, "kamu layak dapat bintang. Lagu kamu mengingat saya pada Ibu saya. Bagus, bagus..."

Turun dari panggung, Dery kembali ke barisan kursi peserta. Alvi menyalaminya sangat erat dan mengguncangnya kuat-kuat tanda gembira.
----

Acara perform sudah selesai. Jam istirahatpun tiba. Sementara dewan juri berdiskusi untuk menentukan hasil lomba, para peserta diperkenankan untuk beristirahat dan menikmati makan siang dari panitia.

----

Tanpa disangka-sangka saat pengumuman pemenang, nama Dery Derisman muncul sebagai pemenang untuk lomba Menyanyi Lagu Sunda. Dery naik ke panggung bersama para pemenang lainnya. Satu persatu hadiah dari panitia dan para sponsor diberikannya. Sebagai juara pertama, Dery mendapatkan hadiah beasiswa lima ratus ribu rupiah, sebuah tas sekolah, sepatu sekolah, satu paket buku tulis, piagam dan sebuah trofi. Saat di panggung, Dery kesulitan membawa hadiah saking banyaknya.

----

Kini waktunya pulang. Beberapa teman Dery yang diantar dengan menggunakan mobil menawarkan diri untuk memberi tumpangan. Tapi Dery menolaknya secara halus, selain merepotkan ia juga membawa sepeda. Dery pulang dengan tetap mengayuh sepedanya. Hadiah yang bisa dimasukkan ke dalam tas ia masukkan, beserta tas lama yang sudah berlubang itu. Digendongnya tas itu, sementara trofi ia pegang di tangan kiri sambil tetap berpegangan pada stang sepeda. Senyum tak henti-hentinya terkembang di bibir Dery. Hari ini dia puas. "Emak pasti bangga dan senang," pikirnya

Siapkah Anda Untuk Sukses?



Kuliah Pagi Ini

Banyak diantara kita yang ingin menjadi orang sukses, tapi tidak siap untuk sukses. Ingin menjadi orang kaya, tapi tidak siap untuk jadi kaya.

Contoh: Udin pengin kaya dengan cara menikahi Lasmi, anak juragan sapi di kota Jember. Mimpi Udin terlaksana dan dia kini menjadi menantu orang kaya. Udin diberi mobil, rumah plus kolam renang, perabotan rumah serba mewah dan istri yang cantik, sopan dan lemah gemulai. Tapi, Udin tidak bisa menyetir mobil, tidak bisa berenang, tidak tahu cara menggunakan perabotan lux, tidak tahu cara memanjakan istri, bahkan Udin tidak bisa bertutur kata layaknya orang kaya. Empat bulan kemudian, keduanya berpisah. Udin kembali ke kampung halaman dan kembali ngarit.

Contoh lain: Agus, seorang salesman pengin naik jabatan menjadi manajer. Dia memanipulasi penjualan sehingga volumenya membuatnya meraih posisi manajer. Dia jadi manajer dengan fasilitas mobil dinas, seperangkat gadget keren dan gaji besar. Tapi, Agus tidak bisa menyetir, tidak bisa mengoperaikan komputer, tidak mempunyai jiwa leadership dan sombong. Lalu, belum selesai kontrak, waktu Agus habis untuk belajar komputer, kerjaan jadi lambat, anak buah jarang disapa, dia juga korupsi untuk menggaji seorang sopir dan gajinya sendiri habis untuk berfoya-foya. Over celebration. Lalu, pada bulan ke-7 kontrak kerjanya diputus. Dia kembali menjadi seorang salesman, pakai motor butut, keluar masuk pasar yang becek, peluh, debu, dan air hujan lekat di seragam kumalnya. Kasihan ya?!

Begitulah, untuk menjadi orang sukses, kita hrs belajar banyak hal, membiasakan diri berpikir dan berperilaku seperti orang sukses.

Salam

Tuesday, March 19, 2013

Sendratari Anak-anak Bisu Tuli Digelar Spektakuler

Luar biasa. Itulah gambaran singkat pagelaran Sendratari Ramayana yang diperankan oleh anak-anak siswi tuna rungu LPATR Dena Upakara, Jumat 15 Maret 2013 lalu. Setelah secara intensif selama tujuh minggu panitia yang terbentuk dari berbagai komunitas ini berjibaku mengumpulkan beberapa komponen pendukung acara, akhirnya pagelaran sebagai puncak dari Dies Natalis ke 75th Dena Upakara tertunaikan sudah.

Hampir seluruh tiket terjual. Gedung Sasana Adipura Kencana, tempat berlangsungnya acara penuh sesak. Hingga panitia harus membuka kedua pintu samping agar udara leluasa masuk kedalam gedung dan penonton tidak terlalu pengap.
Tepat pukul 19.00 sebuah grup musik rebana dari mahasiswa UNSIQ tampil sebagai pembuka. Disusul kemudian oleh Teater Banyu yang memerankan sebuah rumah tangga yang sedikit mengalami permasalahan.

Kemudian acara puncakpun dimulai  yakni pagelaran mahakarya spektakuler Sendratari Ramayana. Didukung oleh sound system dan stage lighting dari GM Production Jogjakarta, suasa panggung yang sudah sarat properti seperti pepohonan dan bebatuan, menjadi semakin terlihat menawan dan membawa pikiran penonton mengikuti jalur ceritanya.
Setidaknya ada 10 babak yang dirangkai menjadi satu mengikuti naskah sinopsis Sendratari Ramayana dengan lakon “Brubuh Ngalengka” itu. Dalam lakon tersebut diceritakan Hanuman yang menculik Shinta lalu terjadilah kehebohan di Ngalengka Diraja. Cerita berakhir setelah terjadi kedamaian dan happy ending. 

Penontonpun bersorak sorai hingga puluhan kali setiap menyaksikan adegan-adegan yang luar biasa. Bagaimana tidak, sebuah pagelaran drama musikal diperankan oleh anak-anak tuna rungu (bisu tuli) yang hanya mengandalkan feeling dan insting bisa berkolaborasi dengan musik gamelan dengan pangrawit guru-guru LPATR Dena Upakara.

Setelah salam penutup dengan menampilkan seluruh pemain sebanyak 36 anak, Bupati Wonosobo H. Kholiq Arif Msi memberikan sambutan dan applaus luar biasa kepada seluruh pemain. Selain itu Bupati juga memberi apresiasi kepada seluruh elemen yang turut berjibaku menyusun acara hingga tuntas. Yang menarik di sini adalah bahwa panitia, EO dan kru merupakan kolaborasi dari berbagai elemen yakni Suster PMY (Putri Maria Yoseph), OMK (Organisasi Muda Katholik), Mudika (Muda Mudi Katholik), BEM UNSIQ, PMII (Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia), IPNU/IPPNU, Ikatan pelajar Muhammadiyah, budayawan lokal dan  wartawan Tabloid Taman Plaza.

Shinta Bachir Pulang Kampung dan Temui Penggemarnya


Kangen dengan orang tuanya, Shinta Bachir pulang kampung. Meski di Jakarta sudah dipenuhi oleh jadwal syuting dan berbagai jadwal acara namun tak meluruhkan kerinduannya pada orang tua di kampung halaman. Ya, Shinta Bachir adalah salah satu aktris yang orang tuanya masih tetap tinggal di kampung, tidak seperti kebanyakan artis yang memboyong kedua orang tua ke Jakarta.

Selain untuk menemui kedua orang tuanya, kepulangannya kali ini juga untuk menemui para penggemarnya yang menamakan diri WBC (Wonosobo Bachir Club). WBC adalah sekelompok anak muda yang berkumpul dan menjadikan Shinta Bachir sebagai acuan motivasi mereka untuk berkarya dan berkreatifitas. Menurut mereka, Shinta Bachir layak mendapatkan predikat seperti itu lantaran tekadnya menembus batas hingga bisa menjadi aktris terkenal di ibukota.

Setelah sungkem dengan kedua orang tuanya di Dusun Sipedet, Desa Tempursari, Sapuran, pemeran Tante Dolly dalam film Suster Keramas ini sudah ditunggu jadwal jumpa fans di beberapa tempat di Kota Wonosobo. Keberangkatan dari rumah menuju lokasi jumpa fans, Shinta dikawal oleh petugas Patwal dan diiring oleh para penggemarnya. Selain itu ada juga rombongan wartawan infotainment dari Jakarta. Jadwal pertama hari itu adalah talkshow di Radio Pesona FM. Selama satu jam, jumpa fans di udara yang dipandu live oleh Pemred Taman Plaza, Haqqi El Anshary ini cukup interaktif. Banyak hal terungkap dalam sesi ini. 

Selain berbagai pertanyaan dari moderator, para pendengar juga banyak yang mengajukan pertanyaan baik melalui sambungan telepon maupun melalui pesan singkat SMS.
Selepas dari Radio Pesona, pemain film “Mati Muda di Pelukan Janda”  itu meluncur ke Dieng Cinema dalam acara pengundian hadiah bagi penonton Dieng Cinema. Setelah istirahat di Coffee Paste, Shinta lalu memenuhi undangan Bupati Kholiq Arif untuk makan malam bersama. Dalam kesempatan ini Bupati menyampaikan apresiasi kepada Shinta Bachir. Bupati juga memberikan satu buah buku berjudul “Mata Air Peradaban” karya Bupati Kholiq Arif. Shinta juga mendapatkan undangan untuk mengisi rangkaian Hari Jadi Wonosobo tahun ini.

Sebagai acara puncak, digelar acara jumpa fans di Allure Square sekaligus peresmian Wonosobo Bachir Club. Dalam kesempatan tersebut, Shinta juga menyanyikan singlenya berjudul Aku Galau. Acara yang dipandu MC Ayoe Sondakh tersebut cukup meriah dengan ratusan penonton. Bukan hanya  itu, Shinta Bachir juga meresmikan grup band ON AIR dalam naungan manajemen Shinta Bachir.

Perjalanan Shinta Bachir

Jika sekarang Shinta Bachir tampil sebagai seorang aktris terkenal, itu bukan sebuah kebetulan atau tanpa melewati proses yang berliku. Perjalanan seorang Shinta Bachir hingga mencapai popularitas seperti saat ini ternyata diwarnai oleh berbagai cerita yang sangat menarik sekaligus mengharukan.

Pemilik nama asli Istiqomah itu menyelesaikan sekolahnya di Semarang. Di sana, dia tinggal bersama sang bibi. Di sela-sela jam belajarnya, Shinta membantu sang bibi yang mempunyai usaha salon. Selain menjadi asisten di salon tersebut, Shinta kerap kali dijadikan model oleh sang bibi. Seorang penggemar bernama Ova Herdiana mengatakan kepada kami, “Saya pernah dikeramasi sama Shinta waktu masih bekerja di salon di Semarang,” kenangnya.

Selepas dari Semarang, Shinta berangkat merantau ke Jakarta. Di ibu kota, anak ke 7 dari 9 bersaudara ini tinggal bersama sang kakak dan tidak punya pekerjaan tetap. Namun, dari situlah cerita Shinta menjadi artis bermula. “Waktu itu ada syuting sinetron di dekat tempat tinggal kami. Karena lihat artis syuting, saya manfaatin buat foto-foto, narsis gitu lah,” kenangnya sambil tertawa. 

Di lokasi syuting itu ada seorang kru yang mendekati Shinta, menawarkan untuk ikut sebagai figuran. Awalnya Shinta menolak karena takut tidak bisa berperan seperti permintaan sutradara. “lalu saya ikut sebagai figuran, hanya lewat saja di depan kamera, dibayar Rp. 50.000,” kata Shinta.

Dari situ Shinta berkenalan dengan sesama figuran, kemudian saling berbagi informasi jika ada rumah produksi yang mengadakan casting. Salah satu sinetron yang melibatkannya adalah Abdel dan Temon yang tayang di Global TV. “Saya jadi tante-tante seksi yang naik ojek si Temon,” ujarnya. Dari peran itu Shinta dapat bayaran Rp. 150.000.
Hari demi hari, Shinta semakin sering ikut casting. Hasilnya, dia menjadi pemeran di iklan sebuah produk kesehatan. Saat itulah Shinta mulai mendapatkan bayaran yang besar. Dalam iklan tersebut Shinta mendapatkan bayaran Rp. 7 juta. “Awalnya saya nggak percaya ketika membuka amplop dapat segitu, saya pikir itu salah. Lalu saya telpon bagian administrasi PH tersebut,” ujar Shinta mengenang. “Saya pikir hanya sekitar lima ratus ribuan. Ternyata jutaan, ya saya anggap itu uang yang cukup besar waktu itu,” sambungnya.

Sukses menjadi bintang iklan, gadis yang bercita-cita menjadi pramugari ini mendapatkan sebuah peran di film “Suster Keramas”. Di film yang juga dibintangi oleh aktris Jepang Rin Sakuragi itu, Shinta berperan sebagai Tante Dolly. “Di film itu saya mulai pakai nama populer Shinta Bachir,” katanya.

Dari situlah Shinta semakin populer. Beberapa film mulai ia bintangi. Berbagai iklanpun mulai menggunakannya sebagi bintang iklan. Selain itu juga banyak tawaran di beberapa variety show dan pemandu kuis di televisi.
Sukses di Jakarta tidak membuat Shinta lupa diri. Dia tetap ingat dengan kedua orang tuanya. Dia juga tetap konsisten untuk mengakui kepada media dan publik bahwa dia memang berasal dari kampung. Pemeran film Mama Minta Pulsa ini juga tidak malu membawa sejumlah wartawan dari Jakarta ke rumahnya di Sapuran. 

Di mata keluarga, Shinta adalah anak yang berbakti. Hal ini ditunjukkan dengan patuhnya dia terhadap berbagai larangan atau petuah orang tuanya. Shinta juga kemana-mana selalu membawa air bekas cucian kaki ibunya. “Kami kemana-mana bawa air cucian kaki Ibu. Untuk dipakai mandi bahkan di minum. Diwadahi botol, kalau hampir habis kami tambah air lagi supaya tetap penuh,” ujar Aries Bachir, kakak sekaligus manajer Shinta.
  
Sang Ibu, Sumiyati (62) yang beberapa waktu lalu menderita pengapuran pada salah satu kakinya yang memaksanya harus melakukan operasi amputasi, ternyata hingga kini masih belum sepenuhnya paham akan profesi sang anak. “Pernah suatu ketika Ibu menangis melihat Shinta berperan sebagai penjual pecel di sebuah film. Ibu pikir itu kehidupan Shinta yang sebenarnya,” ujar Aries. “Kon bali wae meng ngomah, Mbok egen teyeng ngempani,” lanjut Aries menirukan ucapan Ibunya. Pernah juga sang Ibunda melihat adegan Shinta dikejar-kejar hantu, sang Ibu bertanya dalam bahasa daerah, “kuwe ana batire apa ora?” tanya sang Ibu. (omtri)

Monday, February 25, 2013

Aher Melupakan Warga PKS


Pemilihan Gubernur Jawa Barat baru saja usai. Sejumlah lembaga survey tampak telah menyodorkan hasil perhitungan cepat-nya masing-masing. Hasilnya, Ahmad Heryawan mengungguli pasangan lain. Membuntut ketat di belakanganya adalah pasangan Rieke Diah Pitaloka dan Teten Masduki yang diusung PDI Perjuangan. Quick count Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Ahmad Heryawan unggul dengan 33,14 persen dengan margin of eror +-1. Ini memang bukan hitungan resmi. Sebab hitungan resmi itu dilakukan KPUD Jawa Barat.

Baik calon yang mendapatkan suara unggul maupun yang bersuara rendah, masing-masing memberikan keterangannya kepada sejumlah media. Pada intinya adalah ucapan terimakasih telah menggunakan hak pilihnya.

Namun ada yang mengganjal pikiran saya ketika membaca hasil wawancara VIVAnews dengan Ahmad Heryawan (Aher), sesaat setelah menyaksikan hasil hitung cepat bersama para pendukungnya di Hotel Papandayan, Bandung, Minggu 24 Februari 2013. Dia menyebut, kemenangan ini bukanlah karena dia adalah kader Partai Keadilan Sejahtera. Aher menegaskan bahwa pemilihan kepala daerah tidak terkait dengan kader partai dan kepartaian.

“Mereka memilih saya sebagai gubernur, bukan melihat saya sebagai kader partai. Masyarakat memahami permasalahan internal partai tidak berhubungan dengan saya sebagai calon gubernur. Antara figur gubernur dengan partai itu terpisah. Permasalahan internal partai hanya berpengaruh sedikit dalam pencalonan saya,” tandasnya kepada VIVAnews.

Bagi saya ini adalah sebuah pernyataan yang menjauhkan diri Aher dengan rasa terimakaksih kepada para pemilih terutama warga Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Meski saya bukanlah anggota PKS, namun hal ini menunjukkan sedikit “kesombongan” Aher terhadap warga PKS. Seharusnya Aher juga memberikan ucapan terimakasih kepada warga PKS yang tetap mendukung dia maju sebagi gubernur Jawa Barat.

Apapun lah. Termasuk popularitas Dedy Mizwar juga menjadi catatan penting di tengah isu adanya dugaan korupsi yang dilakukan oleh Aher di Bank Jabar Banten.
Wallahu a’lam

Saturday, February 23, 2013

Pidato Lengkap Pengunduran Diri Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat



Anas Urbaningrum resmi menyatakan mundur dari jabatan Ketua Umum Partai Demokrat setelah ditetapkan sebagai tersangka korupsi. Pengunduran diri Anas dilakukan di depan wartawan di kantor DPP Partai Demokrat, Sabtu 23 Februari 2013. Berikut ini isi pidatonya:

Pertama saya sampaikan terimakasih dan selamat datang khususnya rekan-rekan wartawan di kantor DPP Partai Demokrat. Hari ini saya akan menyampaikan sikap, pikran dan pandangan menyangkut stautus saya dan apa-apa yang akan saya lakukan ke depan. 
 
Seperti diketahui bersama kemarin, tanggal 22 Februari 2013 KPK sudah mengumumkan bahwa saya dinyatakan berstatus tersangka. Atas pengumuman KPK itu, saya menyatakan bahwa saya akan mengikuti proses hukum sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang berlaku, karena saya masih percaya bahwa lewat proses hukum yang adil, obyektif dan transparan kebenaran dan keadilan bisa saya dapatkan. 

Saya garis bawahi, saya masih percaya lewat proses hukum yang adil, obyektif dan transparan berdasarkan kriteria-kriteria dan tata laksana yang memenuhi standar saya yakin kebenaran dan keadilan masih bisa ditegakkan. Karena saya percaya, negeri kita ini berdasarkan hukum dan keadilan bukan berdasarkan prinsip kekuasaan. 

Yang kedua, saudara-saudara sekalian. Lewat proses hukum yang obyektif dan transparan itu saya akan melakukan pembelaan hukum sebaik-sebaiknya. Dan lewat proses pembelaan hukum sebaik-sebaiknya itu berdasarkan bukti-bukti dan saksi-saksi yang kredible saya menyakini betul sepenuh-penuhnya bahwa saya tidak terlibat di dalam proses pelanggaran hukum yang disebut sebagai proyek Hambalang itu. 

Ini saya tegaskan, karena sejak awal saya punya keyakinan yang penuh tentang tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar itu. Saya menyakini bahwa kebenaran dan keadilan pangkatnya lebih tinggi dari fitnah dan rekayasa. Kebenaran dan keadilan akan muncul dan mengalahkan fitnah serta rekayasa sekuat apapun rekayasa itu dibangun. Sehebat apapun itu dibangun. Serapih apapun itu dijalankan. Itu keyakinan saya. 

Saudara-saudara sekalian, saya ingin sampaikan sejak awal saya menyakini bahwa saya tidak akan punya status hukum di KPK. Mengapa? Karena saya yakin KPK bekerja independen, mandiri, dan profesional. Karena saya yakin KPK tidak bisa ditekan oleh opini dan oleh hal-hal lain di luar opini, termasuk tekanan dari kekuatan-kekuatan sebesar apapun itu. 

Saya baru mulai berpikir saya akan punya status hukum di KPK ketika ada semacam desakan agar KPK segera memperjelas status hukum saya. Kalau benar katakan benar kalau salah katakan salah. Ketika ada desakan seperti itu, saya baru mulai berpikir jangan-jangan saya menjadi yakin saya akan menjadi tersangka di KPK setelah saya dipersilahkan untuk lebih fokus berkonsentrasi menghadapi masalah hukum di KPK. 

Ketika saya dipersilahkan untuk lebih fokus menghadapi masalah hukum di KPK berarti saya sudah divonis punya status hukum. Status hukum yang dimaksud tentu adalah tersangka. Apalagi saya tahu beberapa petinggi Partai Demokrat yakin betul, haqqul yakin pasti minggu ini Anas menjadi tersangka. 

Rangkaian ini pasti tidak bisa dipisahkan dengan bocornya apa yang disebut sebagai Sprindik. Ini satu rangkaian peristiwa yang pasti tidak bisa dipisahkan. Itu satu rangkaian peristiwa yang utuh sama sekali utuh, sama sekali terkait dengan sangat erat. Itulah faktanya, itulah rangkaian kejadiannya dan tidak butuh pencermatan yang telalu canggih untuk mengetahui rangkaian itu. Bahkan masyarakat umum pun dengan mudah dan mencermati itu. 

Saudara-saudara sekalian, kalau mau ditarik agak jauh ke belakang, sesungguhnya ini pasti terkait dengan kongres Partai Demokrat. Saya tidak ingin cerita panjang, pada waktunya saya akan cerita lebih panjang. Tetapi inti dari kongres itu, ibarat bayi yang lahir, Anas adalah bayi yang lahir tidak diharapkan. Tentu rangkaiannya menjadi panjang. Dan rangkaian itu saya rasakan saya alami dan menjadi rangkaian peristiwa politik dan peristiwa organisasi di Partai Demokrat. Pada titik ini, saya belum akan menyampaikan secara rinci. Tetapi pada konteks yang jelas menyangkut rangkaian peristiwa-peristiwa politik itu. 

Saudara-saudara sekalian, ketika saya memutuskan terjun ke dunia politik dan saya masuk menjadi kader Partai Demokrat saya sadar betul bahwa politik kadang-kadang keras dan kasar. Dalam dunia politik tidak sulit untuk menemukan intrik, fitnah dan serangan-serangan. Itu saya sadari sejak awal dan karena itu saya tahu persis konsekuensi-konsekuensinya, ketika saya tahu persis konsekuensi-konsekuensinya maka saya sampaikan saya tidak akan pernah mengeluh dengan keadaan ini, saya tidak akan pernah mengeluh tentang perkembangan situasi ini dan saya punya keyakinan kuat dan semangat untuk terus menghadapinya termasuk dengan resiko dan konsekuensi. Sekali lagi itu hal yang lazim saja. Saya anggap sebagai sebuah kelaziman, tidak ganjil, tidak aneh apalagi di dalam sistem politik demokrasi kita yang masih muda, termasuk di Partai Demokrat yang juga tradisinya masih muda. 

Saudara-saudara sekalian, karena saya sudah punya status hukum tersangka, meskipun saya yakin bahwa posisi tersangka saya itu lebih karena faktor-faktor non hukum yang saya yakini, tetapi saya punya standar ethik pribadi. Standar ethik pribadi saya adalah mengatakan, kalau saya punya status hukum sebagai tersangka maka saya akan berhenti sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Ini bukan soal jabatan dan posisi, ini soal standar ethik. Standar ethik pribadi saya itu alhamdulillah kemudian cocok dengan Pakta Integritas yang diterapkan di Partai Demokrat. Saya sendiri, di tempat ini beberapa hari yang lalu, seminggu yang lalu kurang lebih sudah menandatangani Pakta Integritas. Dengan atau tanpa Pakta Integritas pun, standar ethik pribadi saya mengatakan hal seperti itu. Saya berhenti sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. 

Terkait dengan itu, saya ingin menyampaikan terimakasih, terimakasih yang tulus kepada kader-kader Partai Demokrat yang telah memberikan kepercayaan, amanah dan mandat politik kepada saya untuk memimpin Partai Demokrat sebagai Ketua Umum periode 2010-2015. Saya mohon maaf, kalau saya berhenti di awal 2013 ini. Saya tidak merencanakan untuk berhenti tahun 2013. Sejauh perjalanan yang saya tempuh saya jalankan, saya tunaikan sebagai ketua umum sepenuhnya saya bersungguh-sungguh menjalankan mandat dan amanat politik itu.
Tentu ada ada kelebihan dan kekurangannya. Tentu ada capaian prestasi dan masih ada bolong-bolongnya, ada lubang-lubangnya. Tetapi saya ingin menegaskan semua itu saya jalani dengan sungguh-sungguh, serius penuh konsentrasi, karena itu bagian panggilan jiwa politik saya dan alhamdulillah saya bersyukur di dalam proses menunaikan tugas kurang lebih hampir tiga tahun ini, dua setengah tahun lebih semuanya saya jalankan, sekali lagi dengan penuh kesungguhan dan konsentrasi. 

Terimakasih kepada kader-kader Partai Demokrat yang selama ini sama-sama menunaikan menjalankan tugas sesuai dengan kewenangan, otoritas dan tugas masing-masing. Pengurus Dewan Pusat, terimakasih, pengurus DPD terimakasih, pengurus DPC terimakasih, kader-kader di seluruh Indonesia terimakasih, Majelis Tinggi saya sampaikan terimakasih, Dewan Pembina saya sampaikan terimakasih, Dewan Kehormatan saya sampaikan terimakasih, Komisi Pengawas saya sampaikan terimakasih. 

Ringkas kalimat saya menyampaikan terimakasih kepada semuanya yang selama ini bersama-sama menjalankan tugas. Meskipun saya sudah berhenti menjadi Ketua Umum, saya akan tetap menjadi sahabat bagi kader-kader Partai Demokrat. Saya ketika melepas jabatan atau posisi Ketua Umum tentu tidak punya kewenangan organisatoris karena sudah saya lepas. Tetapi saya bisa menjaminkan satu hal yang hemat saya penting yaitu ketulusan, persahabatan dan persaudaraan. Saya jaminkan ketulusan, persahabatan dan persaudaraan itu kepada kader-kader Partai Demokrat di seluruh Indonesia apapun nanti tugas, langkah yang akan saya tempuh termasuk apakah saya ada di luar atau ada di dalam, apakah saya menjalani proses hukum, apakah proses hukumnya berjalan dengan adil, obyektif dan transparan atau tidak. 

Tetapi saya menyatakan, menegaskan, menggarisbawahi bahwa saya menjaminkan ketulusan, persahabatan dan persaudaraan. Loyalitas sebagai sahabat yang selama ini kita bangun bersama itu bagian yang indah dan menyegarkan di dalam dinamika organisasi politik partai yang kadang-kadang agak keras, dan panas. Semuanya itu punya makna yang luar biasa. Karena itulah saya yakin betul bahwa saya tetap akan berkomunikasi sebagai sahabat dengan kader-kader Partai Demokrat di seluruh Indonesia. Tidak dalam posisi sebagai Ketua Umum tetapi dalam posisi sebagai teman dan sahabat. 

Saya juga berharap, siapapun yang nanti menjadi Ketua Umum Partai Demokrat bisa untuk menunaikan tugas bahkan jauh lebih baik dengan apa yang sudah saya tunaikan bersama teman-teman pengurus selama ini. Saya yakin pasti akan datang Ketua Umum yang lebih baik. Saya percaya itu, karena sejarah selalu melahirkan pemimpin pada waktunya. 

Selanjutnya saudara-saudara sekalian, apa yang akan saya lakukan ke depan adalah tetap dalam kerangka memberikan kontribusi dan menjaga momentum bagi perbaikan, peningkatan, dan penyempurnaan kualitas demokrasi di Indonesia. Apapun kondisi dan keadaan saya. Kondisi dan keadaan saya itu bukan faktor. Faktornya yang penting adalah bahwa saya akan tetap bersama-sama di dalam sebuah ikhtiar untuk membuat Indonesia ke depan makin baik dan makin bagus. Hari-hari ini dan ke depan akan diuji pula bagaimana etika Partai Demokrat. Partai yang etikanya bersih, cerdas dan santun. 

Akan diuji oleh sejarah, apakah Partai Demokrat adalah partai yang bersih atau partai yang tidak bersih, partai yang bersih atau partai yang korup akan diuji partai yang cerdas atau partai yang tidak cerdas, partai yang solutif menawarkan gagasan-gagasan cerdas dan bernas untuk masa depan bangsa atau partai yang tidak seperti itu, juga diuji apakah Demokrat akan menjadi partai yang santun atau partai yang sadis. Apakah yang terjadi kesantunan politik atau sadisme politik. Ujian itu akan berjalan sesuai dengan perkembangan waktu dan keadaan. 

Tetapi yang paling penting saya garisbawahi adalah bahwa tidak ada kemarahan dan kebencian. Kemarahan dan kebencian itu jauh dari rumus politik yang saya anut. Dan mudah-mudahan juga dianut oleh siapapun kader-kader Partai Demokrat. Diatas segalanya saudara-saudara sekalian, saya ingin menyatakan barangkali ada yang berpikir bahwa ini adalah akhir dari segalanya, barangkali ada yang meramalkan dan menyimpulkan ini adalah akhir dari segalanya. 

Hari ini saya nyatakan ini baru permulaan, hari ini saya nyatakan ini baru sebuah awal langkah-langkah besar, hari ini saya nyatakan bahwa ini baru halaman pertama. Masih banyak halaman-halalaman berikutnya yang akan kita buka dan baca bersama tentu untuk kebaikan kita bersama. Saya sekali lagi dalam kondisi apapun akan tetap berkomitmen, berikhtiar untuk memberikan sesuatu yang berharga bagi masa depan politik kita, bagi masa depan demokrasi kita.
Jadi, ini bukan tutup buku. Ini pembukaan buku halaman pertama. Saya yakin halaman-halaman berikutnya akan makin bermakna bagi kepentingan kita bersama. Inilah saudara-saudara sekalian beberapa hal yang ingin saya sampaikan pada kesempatan siang hari ini, saya tentu akan terus menjadi sahabat, teman-teman sekalian karena banyak buku yang akan kita baca bersama. 

Buku-buku itu jangan dipahami dalam perspektif ngeres, tetapi dalam perspektif positif dan konstruktif, dalam perspektif kebaikan dan kemashlahatan yang lebih besar. Kebaikan dan kemashlahatan yang lebih besar itulah yang menjadi titik orientasi kita. 

Sekali lagi, terimakasih atas kehadiran rekan-rekan sekalian, saya bisa lebih panjang, tapi kalau saya panjangkan nanti terlalu banyak yang harus diberitakan.
Sunandar - Pedoman NEWS
image

Brand Development

Saya adalah blogger, penulis, citizen journalist sekaligus praktisi marketing. Konsultan pengembangan merek, penyusunan sistem franchise. Trainer marketing, sales dan online advertising

image

Web Development

Anda butuh website atau blog pribadi? Untuk pengembangan usaha, LSM, organisasi, sekolah, toko online atau perusahaan Anda? Silahkan hubungi saya 0812-2222-0750 atau kirim email ke mr.antowiyono@gmail.com